Fenomena ini terasa semakin akrab. Di tengah khutbah Jumat yang seharusnya menjadi momen hening dan penuh perhatian, layar ponsel justru menyala. Jari bergerak perlahan, notifikasi terbuka, dan fokus pun teralihkan tanpa disadari.
Padahal, khutbah Jumat bukan sekadar formalitas sebelum salat. Ia adalah bagian dari ibadah yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam.
Nah, di artikel ini, Rumah Zakat akan membahas bagaimana Islam memandang kebiasaan bermain HP saat khutbah, dengan sudut pandang adab, hukum, dan hikmah di baliknya.
Adab Mendengarkan Khutbah Islam
Khutbah Jumat memiliki posisi istimewa dalam syariat, sehingga adab saat mendengarkannya tidak bisa disamakan dengan aktivitas lain. Sebelum masuk ke rinciannya, penting dipahami bahwa khutbah adalah momen dzikrullah yang wajib dimuliakan.
Fokus Penuh
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumu’ah ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
Ayat ini menegaskan perintah bersegera menuju dzikrullah. Para ulama menafsirkan dzikrullah di sini sebagai khutbah dan salat Jumat. Mimbar khatib pun dimaknai sebagai kelanjutan dari mimbar Nabi SAW, sehingga mendengarkannya dengan sungguh-sungguh menjadi bentuk penghormatan terhadap syiar Islam.
Perintah Diam
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika imam telah naik mimbar, maka diamlah.” (HR. Abu Dawud)
Diam di sini bukan hanya lisan, tetapi juga anggota tubuh dan perhatian. Aktivitas seperti membuka ponsel, membaca pesan, atau menggulir media sosial jelas bertentangan dengan makna diam yang dimaksud.
Baca Juga: Hati-Hati! Ini Kesalahan Kecil yang Diam-Diam Mengurangi Pahala Jumat
Pandangan Islam: Main HP vs Pahala Jumat
Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah bermain HP saat khutbah hanya soal adab, atau sudah masuk ranah hukum? Untuk menjawabnya, para ulama merujuk pada konsep yang dikenal sebagai laghw atau perbuatan sia-sia.
Hukum Laghw
Segala aktivitas yang mengalihkan perhatian dari dzikrullah saat khutbah tergolong laghw. QS Al-Jumu’ah ayat 9 kembali menjadi landasan, karena fokus utama Jumat adalah mengingat Allah, bukan urusan dunia, termasuk percakapan digital.
Dampak Ibadah
Dalam fikih Jumat, mendengarkan khutbah termasuk rukun. Jika rukun ini ditinggalkan secara sengaja, sebagian ulama menjelaskan bahwa pahala Jumat bisa gugur, bahkan salatnya terancam berubah status menjadi salat Dzuhur biasa.
Analogi Klasik
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menyebut orang yang bermain kerikil saat khutbah sebagai perbuatan sia-sia. Jika memindahkan batu kecil saja sudah dinilai demikian, maka membuka ponsel yang sepenuhnya mencuri fokus tentu memiliki dampak yang lebih besar.
Perbedaan Adab Benar vs Sia-sia
Agar lebih mudah dipahami, Islam membedakan dengan jelas antara adab yang benar dan perbuatan sia-sia saat khutbah Jumat. Berikut gambaran sederhananya.
Adab yang Benar
Duduk dengan tenang, menghadap khatib, menjaga pandangan, dan berusaha memahami inti pesan khutbah. Bahkan mengingat satu poin penting sudah bernilai ibadah.
Perbuatan Sia-sia
Menggulir media sosial, membalas pesan, atau sekadar mengecek notifikasi. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa perbuatan sia-sia dapat menghilangkan keutamaan Jumat yang nilainya setara sepuluh kali salat biasa.
Alasan “Detoks Digital” Saat Khutbah
Mengapa Islam begitu tegas soal fokus saat khutbah? Jawabannya bukan semata larangan, tetapi karena ada hikmah besar di baliknya.
- Menghormati Syiar
Khutbah adalah bagian dari syiar Islam yang menandai keagungan hari Jumat. Menjaganya berarti menjaga wibawa agama. - Menghargai Khatib
Khatib menyampaikan nasihat ilahi yang dipersiapkan dengan ilmu dan tanggung jawab. Mendengarkan dengan penuh perhatian adalah bentuk penghormatan. - Melatih Fokus Iman
Menahan diri dari godaan notifikasi melatih keteguhan hati. Di situlah iman ditempa, bukan hanya diuji.
Baca JUga: Jumat Itu Istimewa, Tapi Mengapa Kita Sering Melewatkannya Begitu Saja?
Tips agar Fokus Khutbah Jumat
Agar adab ini lebih mudah diterapkan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan sebelum dan saat khutbah berlangsung.
- Mengaktifkan mode senyap atau mematikan ponsel sebelum masuk masjid.
- Memilih duduk di saf depan agar gangguan visual berkurang.
- Menutup mata sejenak jika konsentrasi mulai buyar, sambil menghadirkan niat mendengarkan.
- Memasang pengingat sebelum adzan Jumat agar semua notifikasi selesai lebih awal.
Langkah kecil ini sering kali membawa perubahan besar dalam kualitas ibadah.
Kesimpulan
Jadi, bermain HP saat khutbah Jumat bukan sekadar persoalan etika, tetapi menyentuh inti dari penghormatan terhadap ibadah itu sendiri. Islam mengajarkan fokus, diam, dan hadir sepenuhnya dalam momen dzikrullah, karena di sanalah pahala dan keberkahan diturunkan.
Menjaga adab di hari Jumat adalah bagian dari upaya memperbaiki kualitas iman, dan dari kesadaran inilah semangat berbagi dapat tumbuh, seperti menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui Rumah Zakat sebagai wujud nyata kepedulian dan kebaikan yang berkelanjutan.

