SEMANGAT PAGI!

Oleh AM Adhy Trisnanto

Konsultan Marketing Rumah Zaka

 

“Selamat pagi” adalah sapaan yang sangat lazim dipakai dalam masyarakat kita. Tetangga sebelah yang buru-buru berangkat ke kantor menyempatkan diri menyapa dengan “Selamat pagi”. Tukang ojek di mulut gang mengumbar senyum dan menyapa “Selamat pagi”.

Selamat pagi, bukan saja sapaan, tapi juga doa. Doa agar yang disapa selamat. Dan karena kita juga balas menyapa dengan kata yang sama. Jadilah silang sapaan tadi sebuah cara saling mendoakan. Coba rasakan bedanya dengan Good Morning. Kata ibu guru bahasa Inggris saya, good itu baik. Jadi good morning adalah pagi yang baik. Kalau begitu, good morning bukan saja harapan, tetapi juga doa agar pagi itu menjadi pagi yang baik. Lain lagi si mbah di kampung, dia lebih suka menyapa tetangganya dengan sugeng enjang. Artinya sama, selamat pagi. Mungkin malah selamat pagi adalah terjemahan langsung dari sugeng enjang.

Salah satu radio di Jakarta punya program Semangat Pagi. Ini plesetan dari Selamat pagi. Bukan saja doa agar kita semua selamat, tetapi yang menyapa begitu bermaksud menyemangati yang disapa di pagi hari tersebut. Orang memang perlu bersemangat, karena demikian banyak tugas dan masalah yang menghadang setiap saat. Satu tugas rampung, tugas yang lain sudah menghadang. Satu masalah selesai, menyusul masalah yang lain. Itulah hidup di zaman serba dinamis ini. Bukan zamannya lagi kita pagi-pagi duduk nyantai baca koran di sebelah secangkir kopi panas. Pagi-pagi kita sudah bergumul dengan kemacetan di jalan, salling berlomba merebut ruang yang kosong di depan kendaraan kita. Mungkin karena kerasnya hidup maka sapaan selamat pagi berubah jadi semangat pagi.

Boleh-boleh saja. Atau lebih tegas lagi: memang seharusnya demikian. Maksudnya: cara kita berkomunikasi haruslah disesuaikan dengan situasi-kondisi yang berkembang. Kita tidak bisa menyapa kenalan kita yang kebetulan orang Tapanuli dengan ucapan sugeng enjang. Kalau toh kita paksakan kita harus menjelaskan panjang lebar, bahwa sugeng enjang sama saja dengan selamat pagi; bahwa sugeng enjang adalah sapaan di pagi hari di Jawa. Sebelum ditanya kok sugeng bukan slamet, kita harus menjelaskan pula bahwa sugeng adalah bentuk krama dari slamet. Wah, urusannya jadi ruwet padahal sekedar mau menyampaikan sapaan di pagi hari. So, komunikasi akan jadi lancar kalau kita bicara dalam bahasa lawan bicara kita.

Dekat rumah ada orang tuli yang sekaligus buta. Saya tidak pernah menyapanya dengan selamat pagi meskipun hampir setiap hari saya lewat di depannya. Kalau sedang tidak kesiangan saya akan menyapanya dengan memegang tangannya. Itu adalah ganti ucapan selamat pagi. Dan dia akan tersenyum lebar ketika merasakan pegangan tangan saya. Dia tahu kalau yang megang tangannya saya, dan dia merasa senang karena sapaan ”istimewa” saya.

Sebenarnya, semua tadi hal yang biasa-biasa saja, hal yang masuk dalam nalar. Bahkan tanpa dinalarpun seakan otomatis saja kita lakukan. Bahwa berkomunikasi dengan orang lain, kita perlu memperhatikan caranya. Cara itu harus sesuai dengan lawan kita.

Nah, anehnya kalau sudah tahu begitu, sering terjadi kita tidak menggunakan kiat yang sama ketika kita melakukan komunikasi bisnis, atau komunikasi publik. Banyak contohnya: pasang iklan kecil, tapi maunya yang dimasukkan demikian banyak hal. Jadilah iklan kecil tadi demikian sarat dengan kalimat berhuruf-huruf super-mini. Mau mengajak orang tertib membuang sampah, memasang papan iklan dengan wajah walikota atau bupati. Mending kalau wajahnya cakep sehingga enak dipandang. Mau merebut hati anak muda, tapi dengan cara-cara jadul. Mau mendorong orang berbuat baik tapi dengan gaya memaksa.

Kita sering melupakan cara berkomunikasi yang alami. Padahal sejak dalam kandungan bunda kita sudah tahu benar bagaimana menyapa bunda, bagaimana merajuk ketika minta dibelikan mainan, bagaimana memuja bunda yang demikian menyayangi kita.#

 

 

Tags :
Konfirmasi Donasi