Adzan bukan sekadar penanda waktu shalat. Ia adalah panggilan mulia yang menggema, mengingatkan hati untuk kembali menghadap Allah di tengah kesibukan dunia.
Sejak zaman Rasulullah SAW, adzan menjadi syiar Islam yang begitu khas. Suaranya menenangkan, lafadznya menggetarkan, dan maknanya begitu dalam bagi yang memahami.
Nah, di artikel ini, Rumah Zakat akan membahas tata cara adzan yang benar, lengkap dengan lafadz bacaan, adab, serta keutamaannya. Yuk, kita bahas satu per satu!
Syarat Menjadi Muadzin (Orang yang Mengumandangkan Adzan)
Sebelum adzan dikumandangkan, ada adab dan syarat yang perlu diperhatikan agar syiar ini terlaksana dengan baik.
1. Muslim dan Berakal
Muadzin harus seorang Muslim dan dalam kondisi berakal. Adzan adalah ibadah, sehingga pelakunya harus memahami makna dan tanggung jawabnya. Rasulullah SAW memilih sahabat yang paham agama untuk tugas ini. Bukan sekadar bersuara lantang, tetapi juga paham nilai ibadahnya.
2. Laki-laki
Dalam praktik yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat, muadzin adalah laki-laki. Hal ini menjadi ijma’ para ulama dalam pelaksanaan adzan di masjid. Tujuannya menjaga adab dan keteraturan pelaksanaan shalat berjamaah di ruang publik.
3. Suara yang Nyaring dan Merdu
Rasulullah SAW memilih Bilal bin Rabah karena suaranya kuat dan jelas. Suara yang nyaring memudahkan adzan terdengar luas. Bukan soal merdu semata, tetapi jelas dan tegas sehingga pesan adzan sampai kepada pendengar.
4. Mengetahui Waktu Shalat
Muadzin harus memahami masuknya waktu shalat. Adzan sebelum waktunya dapat menimbulkan kekeliruan dalam ibadah. Ketelitian waktu menjadi bagian penting dalam tugas mulia ini.
Lafadz Adzan: Arab, Latin, dan Terjemahannya
Berikut lafadz adzan yang diajarkan sejak masa Rasulullah SAW dan diamalkan hingga hari ini.
Lafadz Adzan Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya
| Arab | Latin | Arti |
|---|---|---|
| الله أكبر الله أكبر (2x) | Allahu Akbar Allahu Akbar | Allah Maha Besar |
| أشهد أن لا إله إلا الله (2x) | Asyhadu an la ilaha illallah | Bersaksi tiada Tuhan selain Allah |
| أشهد أن محمدًا رسول الله (2x) | Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah | Bersaksi Muhammad utusan Allah |
| حي على الصلاة (2x) | Hayya ‘alash shalah | Mari mendirikan shalat |
| حي على الفلاح (2x) | Hayya ‘alal falah | Mari menuju kemenangan |
| الله أكبر الله أكبر (2x) | Allahu Akbar Allahu Akbar | Allah Maha Besar |
| لا إله إلا الله | La ilaha illallah | Tiada Tuhan selain Allah |
Tambahan Khusus Adzan Subuh
Pada adzan Subuh, terdapat tambahan lafadz:
الصلاة خير من النوم (2x)
Ash-shalatu khairum minan naum
Shalat lebih baik daripada tidur.
Tambahan ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh para ulama.
Baca Juga: Doa Setelah Adzan: Waktu Mustajab untuk Memohon kepada Allah
Tata Cara Mengumandangkan Adzan yang Benar
Ada tata cara yang dicontohkan para sahabat saat mengumandangkan adzan.
1. Menghadap Kiblat
Muadzin dianjurkan menghadap kiblat saat adzan. Ini menunjukkan adab dalam menghadap Allah saat menyeru ibadah. Arah tubuh yang benar menambah kekhusyukan pelaksanaannya.
2. Suci dari Hadats
Dalam kondisi suci dari hadats kecil maupun besar lebih utama. Walau adzan tetap sah tanpa wudhu, kesucian menjadi adab terbaik. Ibadah terasa lebih sempurna ketika dilakukan dalam keadaan bersih.
3. Berdiri Tegak
Adzan dikumandangkan sambil berdiri. Posisi ini memudahkan suara lebih lantang dan jelas terdengar. Sikap tubuh juga mencerminkan kesungguhan dalam menyeru ibadah.
4. Menutup Telinga dengan Jari
Diriwayatkan bahwa muadzin menutup telinga dengan jari saat adzan. Tujuannya membantu fokus dan memperkuat suara. Cara ini juga dicontohkan para sahabat sejak dahulu.
5. Menolehkan Kepala
Saat membaca Hayya ‘alash shalah dan Hayya ‘alal falah, muadzin menolehkan kepala ke kanan dan kiri. Gerakan ini sebagai isyarat panggilan kepada sekitar agar memperhatikan seruan shalat.
Adab Bagi yang Mendengarkan Adzan
Ketika adzan terdengar, ada adab yang dianjurkan untuk dilakukan.
1. Berhenti Beraktivitas
Menghentikan aktivitas sejenak menunjukkan penghormatan terhadap panggilan shalat. Hati diberi ruang untuk fokus pada seruan Allah.
2. Menjawab Adzan
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” (HR. Muslim)
Menjawab adzan menjadi amalan ringan dengan pahala besar.
3. Membaca Doa Setelah Adzan
Doa setelah adzan sangat dianjurkan:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا
Keutamaannya, Rasulullah SAW menjanjikan syafaat bagi yang membacanya (HR. Bukhari).
Perbedaan Lafadz Adzan dan Iqamah
Berikut perbedaan utama antara adzan dan iqamah:
| Unsur Perbedaan | Adzan | Iqamah |
|---|---|---|
| Tujuan | Panggilan shalat jarak jauh | Penanda shalat segera dimulai |
| Tempo Bacaan | Lambat dan berirama | Cepat dan tegas |
| Pengulangan Lafadz | Mayoritas dibaca 2x | Mayoritas dibaca 1x |
| Kalimat Tambahan | Ash-shalatu khairum minan naum (Subuh) | Qad qamatis shalah |
Keutamaan Menjadi Muadzin dan Menjawab Adzan
Rasulullah SAW bersabda bahwa muadzin akan memiliki leher paling panjang di hari kiamat (HR. Muslim). Ini gambaran kemuliaan kedudukan mereka. Menjawab adzan pun menjadi sebab diampuninya dosa dan diraihnya syafaat Rasulullah SAW.
Baca Juga: Adzan Sholat Jumat: Kenapa Dua Kali? Ini Penjelasannya!
Kesimpulan
Jadi, adzan adalah syiar Islam yang sarat makna, bukan sekadar panggilan waktu. Ada tata cara, adab, dan keutamaan besar di baliknya.
Memahami dan mengamalkannya dengan benar menjadikan adzan lebih dari suara, tetapi pengingat hati untuk kembali kepada Allah.
Sebagaimana adzan mengajak menuju kebaikan, menyalurkan kebaikan melalui zakat, sedekah, dan infak di Rumah Zakat juga menjadi panggilan amal yang penuh makna.

