Tata Cara Adzan yang Benar, Lengkap dengan Lafadz Bacaannya

oleh | Mar 28, 2026 | Inspirasi

Adzan bukan sekadar penanda waktu shalat. Ia adalah panggilan mulia yang menggema, mengingatkan hati untuk kembali menghadap Allah di tengah kesibukan dunia.

Sejak zaman Rasulullah SAW, adzan menjadi syiar Islam yang begitu khas. Suaranya menenangkan, lafadznya menggetarkan, dan maknanya begitu dalam bagi yang memahami.

Nah, di artikel ini, Rumah Zakat akan membahas tata cara adzan yang benar, lengkap dengan lafadz bacaan, adab, serta keutamaannya. Yuk, kita bahas satu per satu!

Syarat Menjadi Muadzin (Orang yang Mengumandangkan Adzan)

Sebelum adzan dikumandangkan, ada adab dan syarat yang perlu diperhatikan agar syiar ini terlaksana dengan baik.

1. Muslim dan Berakal

Muadzin harus seorang Muslim dan dalam kondisi berakal. Adzan adalah ibadah, sehingga pelakunya harus memahami makna dan tanggung jawabnya. Rasulullah SAW memilih sahabat yang paham agama untuk tugas ini. Bukan sekadar bersuara lantang, tetapi juga paham nilai ibadahnya.

2. Laki-laki

Dalam praktik yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat, muadzin adalah laki-laki. Hal ini menjadi ijma’ para ulama dalam pelaksanaan adzan di masjid. Tujuannya menjaga adab dan keteraturan pelaksanaan shalat berjamaah di ruang publik.

3. Suara yang Nyaring dan Merdu

Rasulullah SAW memilih Bilal bin Rabah karena suaranya kuat dan jelas. Suara yang nyaring memudahkan adzan terdengar luas. Bukan soal merdu semata, tetapi jelas dan tegas sehingga pesan adzan sampai kepada pendengar.

4. Mengetahui Waktu Shalat

Muadzin harus memahami masuknya waktu shalat. Adzan sebelum waktunya dapat menimbulkan kekeliruan dalam ibadah. Ketelitian waktu menjadi bagian penting dalam tugas mulia ini.

Lafadz Adzan: Arab, Latin, dan Terjemahannya

Berikut lafadz adzan yang diajarkan sejak masa Rasulullah SAW dan diamalkan hingga hari ini.

Lafadz Adzan Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya

ArabLatinArti
الله أكبر الله أكبر (2x)Allahu Akbar Allahu AkbarAllah Maha Besar
أشهد أن لا إله إلا الله (2x)Asyhadu an la ilaha illallahBersaksi tiada Tuhan selain Allah
أشهد أن محمدًا رسول الله (2x)Asyhadu anna Muhammadar RasulullahBersaksi Muhammad utusan Allah
حي على الصلاة (2x)Hayya ‘alash shalahMari mendirikan shalat
حي على الفلاح (2x)Hayya ‘alal falahMari menuju kemenangan
الله أكبر الله أكبر (2x)Allahu Akbar Allahu AkbarAllah Maha Besar
لا إله إلا اللهLa ilaha illallahTiada Tuhan selain Allah

Tambahan Khusus Adzan Subuh

Pada adzan Subuh, terdapat tambahan lafadz:

الصلاة خير من النوم (2x)
Ash-shalatu khairum minan naum
Shalat lebih baik daripada tidur.

Tambahan ini berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh para ulama.

Baca Juga: Doa Setelah Adzan: Waktu Mustajab untuk Memohon kepada Allah

Tata Cara Mengumandangkan Adzan yang Benar

Ada tata cara yang dicontohkan para sahabat saat mengumandangkan adzan.

1. Menghadap Kiblat

Muadzin dianjurkan menghadap kiblat saat adzan. Ini menunjukkan adab dalam menghadap Allah saat menyeru ibadah. Arah tubuh yang benar menambah kekhusyukan pelaksanaannya.

2. Suci dari Hadats

Dalam kondisi suci dari hadats kecil maupun besar lebih utama. Walau adzan tetap sah tanpa wudhu, kesucian menjadi adab terbaik. Ibadah terasa lebih sempurna ketika dilakukan dalam keadaan bersih.

3. Berdiri Tegak

Adzan dikumandangkan sambil berdiri. Posisi ini memudahkan suara lebih lantang dan jelas terdengar. Sikap tubuh juga mencerminkan kesungguhan dalam menyeru ibadah.

4. Menutup Telinga dengan Jari

Diriwayatkan bahwa muadzin menutup telinga dengan jari saat adzan. Tujuannya membantu fokus dan memperkuat suara. Cara ini juga dicontohkan para sahabat sejak dahulu.

5. Menolehkan Kepala

Saat membaca Hayya ‘alash shalah dan Hayya ‘alal falah, muadzin menolehkan kepala ke kanan dan kiri. Gerakan ini sebagai isyarat panggilan kepada sekitar agar memperhatikan seruan shalat.

Adab Bagi yang Mendengarkan Adzan

Ketika adzan terdengar, ada adab yang dianjurkan untuk dilakukan.

1. Berhenti Beraktivitas

Menghentikan aktivitas sejenak menunjukkan penghormatan terhadap panggilan shalat. Hati diberi ruang untuk fokus pada seruan Allah.

2. Menjawab Adzan

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” (HR. Muslim)

Menjawab adzan menjadi amalan ringan dengan pahala besar.

3. Membaca Doa Setelah Adzan

Doa setelah adzan sangat dianjurkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا

Keutamaannya, Rasulullah SAW menjanjikan syafaat bagi yang membacanya (HR. Bukhari).

Perbedaan Lafadz Adzan dan Iqamah

Berikut perbedaan utama antara adzan dan iqamah:

Unsur PerbedaanAdzanIqamah
TujuanPanggilan shalat jarak jauhPenanda shalat segera dimulai
Tempo BacaanLambat dan beriramaCepat dan tegas
Pengulangan LafadzMayoritas dibaca 2xMayoritas dibaca 1x
Kalimat TambahanAsh-shalatu khairum minan naum (Subuh)Qad qamatis shalah

Keutamaan Menjadi Muadzin dan Menjawab Adzan

Rasulullah SAW bersabda bahwa muadzin akan memiliki leher paling panjang di hari kiamat (HR. Muslim). Ini gambaran kemuliaan kedudukan mereka. Menjawab adzan pun menjadi sebab diampuninya dosa dan diraihnya syafaat Rasulullah SAW.

Baca Juga: Adzan Sholat Jumat: Kenapa Dua Kali? Ini Penjelasannya!

Kesimpulan

Jadi, adzan adalah syiar Islam yang sarat makna, bukan sekadar panggilan waktu. Ada tata cara, adab, dan keutamaan besar di baliknya.

Memahami dan mengamalkannya dengan benar menjadikan adzan lebih dari suara, tetapi pengingat hati untuk kembali kepada Allah.

Sebagaimana adzan mengajak menuju kebaikan, menyalurkan kebaikan melalui zakat, sedekah, dan infak di Rumah Zakat juga menjadi panggilan amal yang penuh makna.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait