Tidak Shalat Tapi Puasa, Apakah Diterima?

oleh | Feb 26, 2026 | Inspirasi

Tidak shalat tapi puasa, apakah diterima? Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama saat bulan Ramadhan. Ada sebagian orang yang tetap menjalankan puasa, tetapi masih meninggalkan shalat lima waktu. Lalu bagaimana hukum puasanya? Apakah tetap sah dan diterima?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati karena berkaitan dengan dua ibadah besar dalam Islam, yaitu shalat dan puasa. Keduanya sama-sama wajib bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat.

Baca puasa : Kesalahan Umum Saat Puasa Ramadhan yang Sering Tak Disadari

Kedudukan Shalat dalam Islam

Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Ibadah ini menjadi tiang agama dan pembeda antara Muslim dan non-Muslim. Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Karena itu, meninggalkan shalat bukan perkara ringan. Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja termasuk dosa besar. Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja dapat terjatuh pada kekufuran, meskipun pendapat ini masih diperselisihkan dalam detail hukumnya.

Dengan memahami betapa pentingnya shalat, maka pertanyaan tentang tidak shalat tapi puasa harus dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Apakah Puasanya Sah Jika Tidak Shalat?

Secara fikih, puasa dan shalat adalah dua ibadah yang berdiri sendiri. Artinya, sah atau tidaknya puasa ditentukan oleh terpenuhi atau tidaknya syarat dan rukun puasa, seperti niat, menahan diri dari makan dan minum, serta menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa.

Jadi, jika seseorang tidak shalat tetapi tetap menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, maka secara hukum fikih puasanya tetap sah.

Namun, sah belum tentu diterima. Inilah yang perlu dipahami. Diterima atau tidaknya ibadah adalah hak Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa menjalankan kewajiban lain berisiko tidak bernilai sempurna di sisi Allah SWT.

Hubungan Antara Shalat dan Puasa

Tidak shalat tapi puasa menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam menjalankan kewajiban agama. Shalat adalah kewajiban harian, sedangkan puasa hanya diwajibkan di bulan Ramadhan.

Jika kewajiban yang lebih sering dan lebih utama saja ditinggalkan, tentu hal ini menjadi masalah serius. Puasa seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, termasuk dalam menjaga shalat lima waktu.

Banyak ulama menasihati bahwa meninggalkan shalat dapat menghapus pahala amal lainnya. Meskipun ada perbedaan pendapat dalam detail hukumnya, semua sepakat bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar yang tidak boleh diremehkan.

Apakah Masih Ada Harapan?

Bagi seseorang yang belum rutin shalat tetapi tetap berpuasa, tentu masih ada harapan selama ia mau bertaubat. Justru Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri.

Daripada meninggalkan puasa karena merasa belum sempurna dalam shalat, lebih baik tetap menjalankan puasa sekaligus mulai memperbaiki shalat secara bertahap. Jangan sampai bisikan putus asa membuat seseorang meninggalkan dua-duanya.

Langkah kecil seperti mulai menjaga satu waktu shalat, lalu bertambah hingga lima waktu, adalah bentuk kesungguhan yang sangat bernilai.

Pentingnya Taubat dan Perbaikan Diri

Islam adalah agama yang membuka pintu taubat seluas-luasnya. Seseorang yang menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki diri memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT.

Jika selama ini masih meninggalkan shalat tetapi tetap berpuasa, jadikan Ramadhan sebagai titik balik. Perbaiki niat, kuatkan tekad, dan mohon pertolongan kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjalankan seluruh kewajiban.

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga sarana melatih ketaatan secara menyeluruh. Ketaatan itu tentu mencakup shalat sebagai ibadah utama.

Baca juga : Rahasia Puasa Ramadhan yang Jarang Diketahui

Kesimpulan

Tidak shalat tapi puasa, apakah diterima? Secara hukum fikih, puasanya tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Namun, meninggalkan shalat adalah dosa besar yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai ibadah di sisi Allah SWT.

Karena itu, puasa seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki shalat, bukan alasan untuk merasa cukup hanya dengan satu ibadah saja. Keduanya sama-sama kewajiban yang tidak bisa dipilih salah satu.

Semoga Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki diri secara menyeluruh, menjaga shalat, menyempurnakan puasa, dan meningkatkan kualitas keimanan.

Sahabat, yuk terus peduli dan berbagi bersama Rumah Zakat.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait