TIDUR SIANG SAAT RAMADHAN

Oleh Muhammad Haden Aulia Husein
Rumah Zakat-Bandung

Di suatu Ramadhan di bilangan masjid Jakarta, seorang laki-laki dalam mesjid bercakap-cakap kepada temannya. “Kata pak ustadz, orang yang tidur di Ramadhan akan mendapatkan pahala.” Temannya pun menjawab, “berarti waktu tidur tadi, kita termasuk orang yang mendapat pahala ya? Nanti kita tidur di masjid lagi yu!”  Dialog diatas menggambarkan sekilas tentang bagaimana pemahaman kedua orang yang berpuasa tentang tidur Ramadhan, yang mungkin salah satunya kita anggap sebagai lumbung pahala malah menjelma menjadi ibadah atau amalan yang dibenarkan.
 
Tapi apakah semuanya benar, jika kita tidur Ramadhan akan mendapatkan pahala? Kita harus tahu dari mana asalnya istilah tersebut. Rasulullah SAW bersabda, \\\”Tidur sianglah, karena setan tidak tidur siang,\\\” (H.R. Thabrani). Dari dalil tersebut,  secara maknawi dan hakikatnya tidur siang itu diperbolehkan. Terlebih lagi di bulan Ramadhan, ketika pahala dilipatgandakan yang memungkinkan tidur seseorang yang berpuasa termasuk amalan yang dicontohkan Rasul. Hal ini juga didukung hasil penelitian sebuah fakta yang diujarkan Dr. Sara C. Mednik dalam bukunya “Take a Nap! Change Your Life” justru menganjurkan untuk tidur siang. Menurut nya tidur siang membantu proses memori, kesiagaan dan belajar hal baru. Dan menurut penelitian NASA menunjukkan bahwa tidur siang selama 26 menit bisa meningkatkan performa sebanyak 34 persen.

Apakah Tidur Merupakan Ibadah?
Adapun dalil Hadist yang menyebutkan bahwa \\\”Tidurnya orang puasa adalah ibadah\\\”, seperti penjelasan Iraqi dalam Takhrij Hadist-Hadist Ihya, bahwa hadist ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Abi Aufa, namun semua sanadnya antara dhaif (lemah) dan maudhu (palsu). Walaupun demikian alangkah lebih baiknya kalau memungkinkan kita istirahatkan sejenak diri kita di kategori cukup. Karena jika berlebihan ia akan menjadi penjerumus kita masuk ke lembah kemalasan yang mungkin akan membimbing kita semakin dekat ke jurang neraka.

Seperti Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al Utsaimin (Lajnah Daimah) menanggapi orang tidur sepanjang siang hari Ramadhan, beliau membaginya menjadi dua kondisi: Pertama, seseorang tidur sepanjang siang hari, tidak bangun hingga berbuka dan sengaja melalaikan shalat, orang ini telah bermaksiat karena meninggalkan sholat pada waktunya, bahkan tidak shalat berjamaah. Kedua, seseorang tidur sepanjang hari dan hanya bangun untuk menunaikan sholat berjamaah, setelah itu kembali tidur. Orang ini tidak berdosa, namun melalaikan kebaikan yang banyak. Selayaknya, orang yang berpuasa memanfaatkan waktunya untuk sholat, dzikir, berdoa dan membaca Al Qur’an hingga terkumpul dalam puasanya berbagai ibadah. Jika ia membiasakan ibadah dalam keadaan puasa, hal itu akan mudah baginya. Jika ia membiasakan kemalasan dan santai, ibadah-ibadah tersebut akan berat baginya (disarikan dari Fatwa Syekh Muhammad Shalih Al Utsaimin).

Tags :
Konfirmasi Donasi