[:ID]WAHAI AYAHKU[:en]O’ MY FATHER[:]

[:ID]Oleh: Hasan Basri Tanjung

Dikisahkan bahwa suatu hari Lukman al-Hakim–sosok ayah teladan yang diabadikan menjadi nama surah Alquran–ditanya oleh anaknya. “Wahai ayahku, perkara apakah yang paling baik pada manusia?” Lukman menjawab, “Agama.” Ia bertanya lagi, “Jika ada dua hal?”. “Agama dan harta,” jawabnya. “Jika ada tiga hal?” tanyanya lagi. “Agama, harta, dan sifat malu.” “Jika ada empat hal?” lanjutnya. “Agama, harta, sifat malu, dan akhlak yang baik.” “Jika ada lima hal?” Lukman menjawab, “Agama, harta, sifat malu, akhlak yang baik, dan dermawan.”

“Jika ada enam hal?” Lukman pun menegaskan, “Wahai anakku, jika lima perkara ini sudah berkumpul pada diri seseorang, ia termasuk orang yang bertakwa dan kekasih Allah.” (Adil Al-Ghiryani, Hikmah Luqman Al-Hakim, 2015). Ketika mendengar ungkapan “yaa abati” (wahai ayahku), terbayang suasana yang akrab dalam sebuah keluarga.

Bagaimana tidak, seorang anak yang beradab tengah menyapa atau bertanya kepada ayahnya dengan bahasa yang santun (QS 17:23). Sama halnya, ketika mendengar seorang ayah menyapa anaknya dengan lembut, “yaa bunayya” (wahai anakku). Manakala sapaan yang hangat, misal ini terucap dengan tulus maka akan terjalin kedekatan dan penuh kasih sayang.

Ungkapan ini pula yang membuat pikiran penulis melayang sejenak ke negeri Para Nabi, tempat Ananda Ihza Aulia sedang menuntut ilmu dan adab.

Menelusuri fitur “Qur`an Kemenag”, paling tidak sapaan “yaa abati” dijumpai dalam enam ayat. Dua ayat mengisahkan Nabi Yusuf AS ketika mengutarakan mimpi kepada ayahnya Nabi Yakub AS, yakni melihat 11 bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya (QS 12: 4,100).

Empat ayat berikutnya menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim AS dan ayahnya Azar, supaya menyembah Allah dan meninggalkan berhala (QS 19: 42-45). Satu ayat tentang putri Nabi Suaib AS yang menaruh hati kepada Nabi Musa AS (QS 28:26), dan satu lagi tentang kisah Nabi Ismail AS ketika hen dak dikorbankan oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS. (QS 37:102).

Sejatinya, sapaan “wahai ayahku” menggambarkan kedekatan, keterbukaan, dan komunikasi yang efektif antara orang tua (guru) dan anak (murid) dalam pendidikan keluarga. Pada aspek konten, sapaan tersebut berisi curahan atau ekspresi hati. Ada pula yang berbentuk pertanyaan, ajakan, larangan, dan teguran. Juga, menunjukkan permohonan yang tulus dan kepatuhan terhadap orang tua.

Kata, sikap, dan perilaku yang baik tersebut adalah bentuk pendidikan adab yang diajarkan Alquran melalui sosok yang mulia. Tiada lain kecuali menjadi uswah (model keteladanan) bagi kita untuk menguatkan pendidikan karakter dalam keluarga.

Sejujurnya, apakah kita sudah mampu membangun suasana pembelajaran yang kondusif dalam keluarga seperti Lukman al-Hakim? Boleh jadi, ketika anak-anak mencurahkan perasaan atau bertanya, kita sering kali abai atau mengelak dengan bermacam alasan.

Sekiranya kita mampu menjawab satu pertanyaan, lalu mereka bertanya lagi, apakah kita masih menanggapinya dengan nada dan diksi yang baik? Atau, saat tak mampu menjawabnya, apakah kita jujur mengakui atau berapologi? Ketulusan orang tua menyapa, “wahai anakku”, akan disambut hangat oleh anak dengan “wahai ayahku”, atau ungkapan semisalnya. Kebahagiaan yang paling besar bagi orang tua adalah kehadiran anak yang beradab.

Jika demikian, pesan Nabi SAW mesti direnung menda lam. “Tiada hadiah terbaik dari seorang ayah kepada anak nya, melainkan adab yang baik,” (HR Ahmad). Allahua’lam bish-shawab.

sumber: republika.co.id[:en]

By: Hasan Basri Tanjung

It is said that one day Lukman Al-Hakim – a model father who was enshrined in the name of the surah of the Qur’an – was asked by his son. “O my father, what is the best thing in humans?” Lukman answered, “Religion.” He asked again, “If there are two things?”. “Religion and wealth,” he answered. “If there are three things?” he asked again. “Religion, wealth and shame.” “If there are four things?” he continued. “Religion, wealth, shame, and good morals.” “If there are five things?” Lukman answered, “Religion, wealth, shame, good morals, and generosity.”

“If there are six things?” Lukman stressed, “O my son, if these five cases have gathered to someone, he is among those who fear and is a lover of Allah.” (Fair Al-Ghiryani, Hikmah Luqman Al-Hakim, 2015). When hearing the phrase “Ya Abati” (O my father), a familiar atmosphere in a family can be imagined.

How cannot, a civilized child greets or asks his father in a polite language (QS 17:23). Likewise, when you hear a father greet his child gently, “ya bunayya” (O my son). When a warm greeting, like this, is said sincerely, then there will be closeness and affection.

This statement also makes the mind of the writer float for a moment to the land of the Prophets, where Ananda Ihza Aulia is searching for knowledge and studying manners.

Tracing the feature “Qur’an Ministry of Religion “, at least the greeting” yaa Abati “is found in six verses. Two verses tell the story of the Prophet Yusuf (AS) when he expressed his dream to his father Jacob AS, who saw 11 stars, the sun and moon prostrate to him (QS 12: 4,100).

The next four verses tell a dialogue between the Prophet Ibrahim and his father Azar, to worship Allah and leave idols (QS 19: 42-45). One verse about the daughter of the Prophet Suaib AS who put his heart to the Prophet Musa AS(QS 28:26), and another about the story of the Prophet Ismail AS when he was sacrificed by his father, the Prophet Ibrahim AS. (Qur’an 37: 102).

Indeed, the greeting “O my father” illustrates the closeness, openness, and effective communication between parents (teachers) and children (students) in family education. In the aspect of content, the greeting contained a spill or an expression of the heart. There is also a form of questions, invitations, prohibitions, and reprimands. Also, showing sincere requests and obedience to parents.

The words, attitudes, and good behavior is a form of education that is taught by the Qur’an through a noble figure. Nothing but uswah (exemplary model) for us to strengthen character education in the family.

To be honest, have we been able to build a conducive learning atmosphere in the family-like Lukman al-Hakim? Perhaps, when children pour out feelings or ask questions, we often neglect or evade with various reasons.

If we are able to answer one question, then they ask again, are we still responding with good tone and diction? Or, when unable to answer, do we honestly admit or apologize? The sincerity of a parent greeting, “O my son”, will be welcomed warmly by the child with “O my father”, or a similar expression. The greatest happiness for parents is the presence of a civilized child.

If so, the message of the Prophet must be thought deeply into. “There is no best gift from a father to his child, but good manners,” (Ahmad Ahmad). Allahua’lam bish-shawab.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia