AGAR TAK KEHILANGAN CAHAYA DI HARI KEBANGKITAN

Sebagai seorang muslim dan muslimah, kita yakin bahwa ruh dalam hati kita adalah cahaya yang langsung terhubung kepada Allah SWT. Itu mengapa kita tak pernah bisa membohongi hati kita sendiri meskipun mulut kita berkata sebaliknya.

Tugas kita selama hidup di dunia adalah menjaga cahaya itu agar senantiasa menyala sehingga sinarnya membuat kita mampu melihat kehidupan dunia ini pada hakikat yang sesungguhnya. Bukan angan-angan kosong belaka yang diperindah oleh syetan.

Bahkan di hari kebangkitan pun, cahaya itu akan menjadi pembeda bagi orang-orang beriman. Pada hari itu, cahaya dalam dada orang-orang beriman akan menjadi pemandu ke mana mereka harus melangkah.

“Pada hari ketika Allah tidak akan mengecewakan Nabi, dan orang-orang yang beriman bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berkata: ‘Ya Rabb-kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (QS.At-Tahrim: 8)

Cahaya itu memancar di hadapan, itulah cahaya yang berasal dari hati kita. Sementara cahaya yang memancar di sebelah kanan, itulah cahaya yang berasal dari catatan amal kebaikan kita di dunia.

“Adapun orang yang buku catatan amalnya diberikan di tangan kanannya, maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi.” (QS Al-Haqqah:19-21)

Sementara bagi orang-orang munafik dan kafir, cahaya yang dulu Allah letakkan dalam hati mereka, tidak akan menyala sama sekali. Ini tentu saja karena cahaya itu tak pernah mereka jaga selama hidup di dunia.

“Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman ‘Tunggulah kami, kami ingin meminjam cahayamu’. (Kepada mereka) dikatakan ‘kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)’. Lalu di antara mereka dipasang dinding besar (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.” (QS Al Hadiid: 13)

A’udzubillahi min dzalik. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari lalai menjaga cahaya dalam hati kita.

Lantas apakah yang harus kita lakukan untuk menjaga cahaya tersebut? Jika jasad manusia yang dari tanah itu makanannya adalah sesuatu yang berasal atau tumbuh dari tanah, maka ruh manusia yang dari cahaya ini makanannya pun tentu harus dari cahaya.

Dalam Al-Qur’an, Allah ada memperkenalkan diri-Nya dengan cahaya dan menyebut Al-Qur’an pun sebagai cahaya.

“Allah cahaya langit dan bumi.” (QS An-Nuur:35)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu, bukti kebenaran dari Rabb-mu, (Muhammad dengan mu’jizatnya), dan telah kami turunkan kepadamu, cahaya yang terang-benderang (Al-Qur’an).” (QS.An-Nisaa:174)

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa satu-satunya cara untuk menjaga agar cahaya dalam hati kita terpelihara kemurniannya, sehingga nanti di hari kebangkitan dapat menyala dan memandu langkah kita, adalah dengan sering-sering mengingat Allah dan banyak-banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ini untuk cahaya dari arah depan.

Agar di hari kebangkitan nanti kita juga memiliki cahaya dari sebelah kanan, maka kita harus memastikan bahwa buku catatan amal kita selama hidup di dunia harus terisi dengan amal-amal terbaik kita. Jika suatu saat kita lalai dan berbuat kesalahan, maksiat atau dosa, maka segeralah bertaubat tanpa menunda, agar Allah SWT berkenan menghapusnya dari buku catatan amal kita.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuuha, taubat yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam surga…” (QS At-Tahrim: 8)

Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua dalam menjaga cahaya dalam hati kita. Dan Allah Maha Tahu Yang Sebenarnya.

Sumber: ummi-online.com

Tags :
Konfirmasi Donasi