AMMAR BIN YASSIR, PEMUDA PENGHUNI SURGA

gopego_Google-Street-View-Liwa-Desert_bigSuasana Madinah hari itu ramai. Selepas hijrah, Rasulullah SAW dan para sahabat memang giat membangun sarana pra sarana di sana, terutama masjid. Para sahabat bersenandung riang. Terdengar juga suara Ammar bersenandung dengan nada yang tinggi. Rupanya suaranya melebihi suara yang lainnya dan membuat yang lainnya merasa terganggu karena menganggap Ammar sengaja sedang menonjolkan diri, hingga terjadilah kericuhan di antara mereka dan keluar kata-kata tak pantas dari mereka. Mendengar hal itu Rasulullah marah, “Apa yang mereka lakukan terhadap Ammar? Dia mengajak ke surga malah mereka mengajak ke neraka. Sungguh Ammar adalah sudut mataku.” Rasulullah SAW berkata dengan tegas. Hal tersebut juga pernah terjadi pada Khalid bin Walid yang sempat berselisih paham dengan Ammar. Saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang memusuhi Ammar dimusuhi Allah dan orang yang membenci Ammar, dibenci Allah.” Sehingga tak ada pilihan lain bagi Khalid bin Walid untuk mematuhi dan mendatangi Ammar serta meminta maaf atas segala khilafnya. Ammar bin Yassir adalah sahabat kesayangan Rasulullah Muhammad SAW. Pemuda pendiam bermata biru itu telah kenyang dengan bermacam siksaan sejak pertama kali mengumumkan diri menjadi pengikut Muhammad bersama ayahnya Yassir dan ibunya Sumayyah. Mereka adalah keluarga yang dipilih Allah sebagai tauladan tentang pengorbanan dan keteguhan dalam membela agama Islam dan sekaligus menjadi bukti tentang segala keagungan dan keabadian Islam. Amr bin Maimun menceritakan bahwa orang-orang musyrik membakar Ammar dengan api. Dan saat itu Rasulullah tengah  melewati tempat penyiksaan tersebut. kemudian beliau mengusap kepala Ammar seraya berkata, “Hai api, jadilah kamu sejuk dan menyegarkan tubuh Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dan menyegarkan tubuh Ibrahim.” Tidak hanya dibakar, tapi Ammar juga disalib, ditelentangkan di pasir panas lalu ditindih dengan batu besar yang sangat panas, sampai dibenamkan ke dalam air hingga ia tidak bisa bernafas. Dahsyatnya siksaan yang menimpa Ammar tersebut sampai membuat ia tak tahu apa yang telah diucapkannya. Ammar sangat menyesal karenanya. Ia membayangkan, siksaan yang akan diterimanya kelak jauh melebihi siksaan orang kafir yang tengah dialaminya. Akan tetapi Rasulullah datang dan menenangkan, rupanya wahyu telah turun sebagai pengobat dan penyejuk hati Ammar yang gelisah karena rasa penyesalan yang amat mendalam serta rasa kekalahan yang ia terima. Saat Rasulullah menemui Ammar, beliau mendapati Ammar tengah menangis. Kemudian Rasulullah mengelap air mata Ammar dengan tangan beliau, “Apakah orang kafir itu berkata ini dan itu kemudian kamu mengikutinya?” “Betul wahai Rasulullah,” “Jika nanti mereka melakukannya lagi, katakana apa yang telah kamu katakana tadi,” Rasulullah menjawab sembari tersenyum kemudian beliau menyampaikan firman Allah, “Kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap teguh dalam keimanan.” (QS. An Nahl: 106) Hati Ammar pun menjadi tenang. Segala siksaan yang dialaminya terasa jauh lebih ringan. Ucapan yang ia anggap salah ternyata telah mendapat jaminan dari Al Qur’an. Ammar, Yassir dan Sumayyah adalah penduduk surga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah surga.”

Tags :
Konfirmasi Donasi