ANAKKU PENYEJUK HATIKU

Oleh: Iwan Kartiwan, Lc.

“Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ QS Al Furqan (25:74)

Sebuah untaian doa dan harapan yang senantiasa membasahi lisan setiap orang tua untuk anak-anaknya, dan jika kita perhatikan ayat ini dari sepuluh ayat sebelumnya, maka doa ini merupakan bagian dari karakter dan identitas hamba-hamba Allah yang terkasih (Ibadurrahman).

Sahabat yang budiman, keshalihan anak dan keturunan tentunya tidak terlepas dari proses yang dikenal dengan pendidikan, maka pendidikan dalam pandangan Islam adalah satu keharusan (kewajiban) yang tidak bisa diabaikan. Berdasar pada sebuah kaidah “Suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya “.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pendidikan, khususnya pendidikan anak maka terlebih dahulu kita pahami sebagai berikut:

Hakikat anak dalam pandangan Islam
1. Sebagai perhiasan dan keindahan yang Allah SWT anugerahkan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya khususnya manusia, seperti dalam firman-Nya dijelaskan: ”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk, dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak, dan sawah ladang, itulah kesengan keidupan dunia, dan disisi Alllah-lah tempat kembali yang baik.” QS. Ali Imran:14.

2. Sebagai kabar gembira (Busyraa).
Di antara doanya Nabi Ibrahim as kepada Allah; “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak (yang termasuk) orang yang shalih. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran seorang anak yang penyabar (Ismail). QS As Saffat:100-101.

3. Sebagai Musuh atau sahabat.
Terkadang istri dan anak dapat menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan dalam agama, sebagaimana firman Allah dalam QS. At Thaghabun 14: ” Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

4. Sebagai amanah (titipan).
Sesungguhnya anak kita bukan milik kita semata, ia adalah titipan yang Maha Kuasa yang sangat berkenan untuk memberikan dan mengambilnya kembali kapanpun dikehendaki-Nya. Maka sebagai orang tua, ia hanya dititipi agar menjaga dan memelihara amanat Allah tersebut. Sebagaimana pesan Allah dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Periharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.“ QS. At Tahrim: 6

5.Fitnah (ujian)

”Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” QS. At Thaghabun (64:15).

Lalu bagaimana cara mendidik yang benar, berikut ini contohnya:
1.Mendidik dengan memberi contoh tauladan (Qudwah). Allah SWT mengajarkan sebuah manhaj samawi (sistem dari langit dengan mengutus seorang nabi dan Rasul sebagai contoh untuk semua kalangan dan bagi manusia sepanjang zaman, tiada lain adalah Muhammad SAW; “Sungguh dalam diri Rasulullah (Muhammad) terdapat contoh yang baik.“ QS Al Ahzaab: 21.

2.Mendidik dengan kebiasaan baik (‘Adah), seperti yang dijelaskan oleh Mughirah bin Syu’bah dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW biasa mendirikan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak, ketika belau ditanya ; Bukankah Allah telah mengampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang? Maka beliau menjawab: “ Tidak bolehkah Aku menjadi Hamba Allah yang bersyukur? Ketika Aisyah ditanaya apa amalan beliau ? Dia menjawab amalannya selalu dawam dan kontinyu (Mustamir).

Tags :
Konfirmasi Donasi