APA YANG DILAKUKAN KETIKA ANAK BERBOHONG?

Oleh: Vindhy Fitrianti

Sebagai orang tua, kita perlu mengetahui latar belakang mengapa anak berbohong. Banyak alasan mengapa anak berbohong, tergantung dari situasi dan motif mereka. Hanya saja secara garis besar anak berbohong untuk :
• Menutupi sesuatu, dengan tujuan terhidar dari konsekwensi atau hukuman
• Berksperimen dengan respon dan reaksi orang tuanya
• Membesar-besarkan/melebih-lebihkan cerita agar orang lain terkesan
• Ingin mendapat perhatian, meski anak menyadari bahwa yang dihadapannya mengetahui yang sebenarnya
• Memanipulasi situasi untuk mendapatkan yang diinginkan. Misalnya dengan mengatakan ke pada nenek, “Kata mama boleh makan permen sebelum makan.”

Ketika anak berbohong, apa yang bisa kita lakukan ? Tetaplah merasa positif. Sudut pandang akan perkembangan kognitif yang sudah dijelaskan di atas bisa membantu kita untuk tetap positif. Selain itu, tekankan tentang pentingnya kejujuran dalam keluarga kita. Kita bisa mengatakan pada anak bahwa kita suka jika jujur dan sebaliknya kita sebagai orang tua tidak suka kalau berbohong.

Contoh konkritnya, “Kalau Kakak ga bilang yang sebenarnya, Umi sedih dan kecewa. (Meski anak mungkin belum mengerti tentang arti dan konsep sedih / kecewa, tetap katakan dan iringi dengan ekspresinya)”. Setelah itu kita bisa menjadikan buku cerita yang bertema kejujuran sebagai media untuk semakin memahamkan anak tentang nilai kejujuran.

Tidak jarang anak juga memerlukan dukungan untuk memahami pentingnya kejujuran. Hal ini dapat mulai dilakukan saat anak mulai mampu membedakan mana yang benar dan salah. Biasanya di usia balita mulai dari usia 4 atau 5 tahun anak memasuki tugas perkembangan ini. Dan baik adanya jika dukungan ini dilakukan secara terus menerus / kontinyu.

Hal-hal berikut ini bisa dilakukan para orang tua untuk memfasilitasi anak :
• Jika anak mengarang sesuatu yang sifatnya imajiatif, kita dapat bersama-sama terlibat dan mengembangkan imajinasi anak. Tidak lain karena imajinasi penting dalam perkembangan anak. Misalnya ketika anak mengatakan ia adalah super-hero, kitabisa berespon dengan bertanya mengenai super-power yang dimilikinya.

• Bantu anak dengan menghindarkan situasi yang akan membuatnya merasa perlu untuk berbohong. Misalnya ketika melihat anak menumpahkan minyak goreng di dapur. Hindari mengemukakan pertanyaan yang berpotensi memojokkan, seperti “Kakak numpahin minyak ?”, “Kok bisa tumpah ?”, dsb. Ganti dengan pernyataan dan ajakan, misalnya, “Owh…minyaknya tumpah ya, yuk dibersihkan. Kakak bawa lapnya ya.”

• Jika anak berbohong untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan orang lain, ini dapat menjadi salah satu tanda orang tua perlu membantu anak meningkatkan self-esteem anak dengan cara meningkatkan frekuensi pemberian penghargaan baik secara lisan maupun fisik.

• Ketika anak berbuat salah, dorong ia untuk berkata jujur. Dan adalah sama pentingnya bagi anak untuk mengetahui dan mendapat kepastian bahwa orang tuanya tidak akan marah ketika ia memilih untuk jujur.

• Pastikan bahwa terdapat aturan yang jelas di dalam keluarga mengenai perilaku yang diterima.

• Jika anak dengan sengaja dan tanpa beban berbohong, beri penjelasan bahwa perilaku berbohong tidak bisa diterima. Jelaskan pula bahwa berbohong itu tidak baik dan dapat menyebabkan ibu atau orang lain tidak mempercayainya di kemudian hari. Media buku cerita bisa membantu.

• Usahakan untuk memisahkan antara perilaku berbohong dengan sesuatu yang mendorongnya untuk berbohong.

• Hindari memberi label “tukang bohong” atau “pembohong” pada anak.
Konsistensi serta kesabaran lingkungan rumah terutama dari orang tua memainkan peranan signifkan dalam membentuk pemahaman anak mengenai kejujuran. Dan yang paling penting adalah, setiap orang tua menikmati setiap proses dalam perjalanan mendidik sang buah hati

Tags :
Konfirmasi Donasi