AWET MUDA DIBALIK RASA LAPAR KARENA PUASA

Tujuan berpuasa di bulan Ramadhan Insya Allah dipahami  sebagai upaya membentuk muslim yang bertakwa. Menahan lapar dahaga dan hawa nafsu sebagai ciri berpuasa yang sudah sebulan dilatih  tentu saja harapannya bisa didawamkan pasca Ramadhan.  Sanggupkah? Kunci istiqamah berpuasa, indikatornya kita tetap mampu membiasakan puasa minimal puasa sunah sebulan 3 kali pasca Ramadhan.  Hal ini sebenarnya tak berat  jika dibekali dengan niat yang kuat dan pengetahuan akan hikmah-hikmah berpuasa.

Hikmah berpuasa secara ruhiyah, dalam bentuk jiwa yang lebih tenang, tidak mudah emosi, keimanan yang kuat banyak dibahas oleh para ulama.  Nah bagaimana dengan hikmah puasa secara fisik? Rasa lapar biasanya identik dengan orang berpuasa.  Di hari-hari biasa, seringnya kita tak biasa menahan lapar berlama-lama, selain ketakutan sakit maag, menjadi tak konsentrasi beraktivitas, pada umumnya perut keroncongan memang tdak mengenakkan. Ada orang yang gampang marah karena perutnya melilit lapar.  Padahal ada hikmah ‘ajaib’ di balik rasa lapar itu lho.

Seorang pakar kesehatan yang juga Ketua Asosiasi Kedokteran Anti Aging berkelas internasional yakni Dr. Yoshinari Nagumo, dari Jepang dalam bukunya “Makan Sekali Sehari” menceritakan bahwa di negara-negara yang mengalami bencana kelaparan,  pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat menjadi suatu masalah; sedangkan di Negara-negara maju, penurunan jumlah penduduklah yang menjadi masalah karena terjadi tanpa dihambat walaupun mereka memiliki teknologi mutakhir yang semestinya dapat memperpanjang usia manusia.   Kita pun mengakui, kakek nenek moyang kita di jaman-jaman dahulu termasuk jaman penjajahan dan susah pangan justru beranak banyak,  artinya tingkat kelahiran tinggi dan tanpa masalah (terlepas dari soal belum adanya program KB ya). Nyaris kisah yang sama di zaman sekarang yakni pertumbuhan penduduk di Negara Palestina yang Allah SWT takdirkan stabil, para ibunya subur melahirkan anak meski negaranya tengah berkecamuk intimidasi perang yang memakan jiwa dan tentu saja dilanda lapar karena kerap terjadi sabotase makanan.

Menurut Nagumo, manusia modern di zaman sekarang akan memiliki daya tahan hidup yang justru meningkat pada waktu dilanda kelaparan, kedinginan ataupun wabah penyakit menular. Daya tahan hidup yang dimiliki manusia setelah berhasil melalui krisis tersebut (lapar, dingin atau penyakit) disebut dengan gen-gen vitalitas.  Gen-gen vitalitas menurutnya ada 6 jenis yakni :

1.Gen Kelaparan, membantu kita dapat bertahan hidup ketika mengalami kelaparan.

2.Gen Kelangsungan Hidup, membantu kita bertahan hidup lebih lama.

3.Gen Perkembangbiakan, membantu kita melestarikan spesies manusia

4.Gen kekebalan tubuh, membantu kita bertahan hidup saat menghadapi penyakit menular

5.Gen antikanker, membantu melawan kanker

6.Gen pemulihan, membantu kita sembuh dari penyakit dan menghambat penuaan.

Jadi nenek moyang dulu mendapatkan Gen Kelaparan  setelah berhasil bertahan hidup di tengah bencana kelaparan yang telah berulang-ulang.  Gen ini fungsinya menyerap gizi sebanyak mungkin dari makanan seadanya dalam rangka mengendalikan tubuh. Bahasa sederhananya gen yang menyiapkan cadangan makanan sehingga  hemat energi.  Ada gen lain yang penting dalam mempertahankan hidup dengan nama formal “gen Sirtuin”. Gen ini disinyalir memperkuat daya tahan struktur tubuh dan menjadi muda kembali jika kita sering lapar.

Sebuah penelitian mencoba membuktikannya dalam bentuk pengamatan terhadap usia hewan yang diberi porsi makan berbeda. Pada kera merah, tikus dan marmot menunjukkan bahwa rentang usia terpanjang yaitu sekitar 1,4-1,6 kali lipat dari rentang usia normal diperoleh ketika porsi makanann hewan tersebut dikurangi sebesar 40%.  Kera dengan porsi makanan dibatasi masih memiliki rambut lebat, kulit lebih cerah dan kencang meski sudah tua dibandingkan yang normal bahkan kera yang rakus ternyata lebih cepat mengalami rambut rontok dan kulit wajah mengendur.

Hasil percobaan menjawab jika makhluk hidup mengalami kelaparan maka gen sirtuin bekerja secara aktif untuk menjaga kehidupan.  Hasil yang lebih menakjubkan dikatakan bahwa dalam keadaan lapar  gen ini akan memeriksa kembali sekitar 50 trilyun gen lain dalam tubuh manusia dan memperbaikinya jika terdapat kerusakan. Bisa dikatakan gen sirtuin berperan menghambat penuaan dan mengobati penyakit serta memperpanjang usia.

Jadi kesimpulan penting dari pemikiran berdasarkan penelitian oleh Nagumo adalah: dengan mengkatifkan gen-gen vitalitas  manusia dapat memperpanjang usia harapan hidup dan menjalani kehidupan dengan kesehatan yang lebih baik.

Gen-gen vitalitas hanya aktif pada waktu lapar.

Dalam konsep Islam, soal rasa lapar terlatih jelas dalam Ibadah puasa.  Bukan hanya puasa Ramadhan yang bersifat wajib, Rasulullah SAW juga membiasakan puasa sunah seperti senin kamis, puasa pertengahan bulan (ayyamul bidh) dan lainnya.  Kebiasaan Beliau tidak makan sebelum lapar, makan tidak sampai kenyang, ukuran makan dan minumnya ialah sepertiga perut untuk makan, sepertiga minum dan sepertiga lainnya untuk bernafas adalah cermin menjaga kesehatan fisik.

Dibalik rasa lapar baik karena berpuasa atau menyengaja berlapar-lapar dalam beberapa saat agar bisa benar-benar menikmati makan ternyata memiliki hikmah tersendiri justru untuk menjaga kesehatan struktur tubuh yang memberi dampak positif memperpanjang usia dan awet muda.

So, mulai sekarang jika terdengar bunyi perut keroncongan cobalah untuk menikmatinya lebih dahulu, jangan langsung buru-buru makan karena pada saat itu gen sirtuin tengah aktif bekerja.  Bayangkan seluruh tubuh kita saat itu tengah diperiksa oleh gen ini untuk diperiksa dan diperbaiki.  Jika saatnya makan dianjurkan  untuk makan yang memang kita inginkan namun dalam porsi sewajarnya bukan balas dendam sebanyak-banyaknya.   Berarti memang untuk mendapat “gen panjang umur” tersebut, mau tak mau kita harus sering berpuasa.  Bila perut belum terasa lapar hingga berbunyi, gen tersebut tidak akan bekerja sehingga kita tidak mendapat manfaat apa-apa. Gen sirtuin dalam tubuh lah yang akan memperbaiki sel-sel yang rusak.  Nah salah satu penyebab kanker dan penuaan dini adalah kelainan genetis (kerusakan gen). Dan ternyata itu bisa diantisipasi dengan membiasakan diri merasakan lapar khususnya melalui puasa.

Dalam keadaan lapar pula sebenarnya  “Gen Kelaparan” sebagai gen penghemat energi bekerja secara efektif, jadi makan dengan porsi sedikitpun mampu menghasilkan lemak viseral yang dapat mencukupi kebutuhan energi tubuh.  Itulah kunci  melakukan diet  untuk kesehatan menurut Yoshinori Nagumo.

Betapa hebat ya ternyata hikmah berpuasa bagi kesehatan, itu yang kadang dilupakan orang.  Sungguh memang semua ibadah yang diperintahkan Allah akan kembali manfaatnya buatnya manusia itu sendiri.  Semoga Allah menerima puasa ramadhan kita di tahun ini, dan puasa tersebut membantu kita melatih diri untuk terbiasa menahan rasa lapar yang justru membantu kita untuk menjaga kesehatan. Aamiin.

 

Sumber: Ummi-online.com

 

Tags :
Konfirmasi Donasi