BERHUTANG? PATUHI RAMBU-RAMBUNYA

mengutamakan-membayar-hutangPernahkah memberi pinjaman hutang pada seseorang, tapi setelah jatuh tempo tak jua mendapat pelunasan, ditagih pun banyak alasan, bahkan meminta maaf dan bicara baik-baik untuk minta penangguhan pun tidak? Jika pernah, perlu sekali kita memperhatikan adab dalam berhutang sebagaimana yang terdapat di Alquran dan hadits:

1. Catatlah hutang piutang
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya..” (TQS Al Baqarah 282)

Kalau kita tidak mencatatnya, sama saja memberi kesempatan pihak yang berhutang untuk memungkiri hutangnya.

2. Berniat tidak melunasi hutang Sama Dengan Pencuri
“Siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri…” (HR Ibnu Majah)

Jangan sekali-kali berhutang pada seseorang tapi berniat untuk tidak melunasinya, karena itu sama saja dengan melakukan pencurian.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh, no. 2387)

3. Jangan pernah menunda-nunda membayar hutang
“Menunda-nunda (pembayaran hutang) bagi orang yang mampu adalah kedzaliman..” (HR Bukhari dan Muslim)

Menunda-nunda dalam melunasi utang sama saja telah melakukan kedzoliman. Siapa pun yang berhutang harusnya tidak menyepelekan hal ini, meskipun orang yang kita pinjam uangnya adalah seorang yang kaya raya, tetap saja tidak dapat menjadi alasan kita untuk menunda pembayarannya.

4. Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar hutang.
“Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran hutang…” (HR Bukhari dan Abu Daud)

5. Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran hutang
“Allah ‘Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi hutang..” (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Orang yang berbelit-belit dan banyak alasan ketika ditagih hutangnya maka akan sulit juga masuk ke surga, karena ia telah menahan hak orang lain.

6. Jangan pernah meremehkan hutang walaupun sedikit
“Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada hutangnya hingga hutangnya dibayarkan..” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, dan Ibnu Majah)

7. Jangan pernah berbohong kepada pihak yang menghutangi
“Sesungguhnya, apabila seseorang berhutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkari..” (HR Bukhari dan Muslim)

Janganlah menjadikan hutang sebagai hobi atau kebiasaan, karena dampaknya sangat buruk bagi karakter kita. Kebiasaan berhutang akan membuat seseorang sering bicara dusta dan juga ingkar janji.

8. Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya
“… Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban..” (QS Al Israa’ : 34)

Menyepelekan janji sama saja menjadikan diri kita bagian dari kaum munafik, lebih baik tidak menjanjikan bayar hutang dalam waktu cepat jika memang kita tidak bisa melakukannya.

9. Jangan pernah lupa doakan orang yang telah menghutangi
“Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mendapati apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya..” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Wallaahualam.

Sumber: ummi-online.com

Tags :
Konfirmasi Donasi