DEGAIBISASI

laki-laki-tidur-ilustrasi-_130611154900-682Oleh: Prof Dr Fauzul Iman
Bagi orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat mempunyai sifat buruk; dan Alah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS an-Nahl: 60). Ayat ini diturunkan di tengah kaum yang arogan dan gemar berfikir pendek.

Mereka hanya mampu memandang hidup hari ini sebagai segalanya. Sementara otaknya yang tumpul tidak sanggup menembus nalar apa yang seharusnya dipersiapkan buat hari depan.

Hari ini bagi mereka tempat persinggahan gelora nafsu. Berjibaku dengan kekuasaan tanpa rambu. Siapa yang kuat diburu yang melas ditindas.

Laki-laki sang pejantan dibiarkan bernafas. Bayi wanita dibanting di halaman derita. Dikubur hidup-hidup di tengah lubang tanpa daya. Begitulah kisah serakah yang menghinggapi wilayah sebelum firman Tuhan ini didengungkan.

Kaum Jahiliyah dengan para sukunya direkam Tuhan karena kebiasaan buruknya melakukan kejahatan kemanusiaan dan menuduh Tuhan punya anak perempuan. Kejahatan kemanusiaan dilakukan kaum jahiliyah dengan cara membunuh bayi perempuan tanpa rasa belas kasih.

Sementara mereka menuduh Tuhan punya anak perempuan dilakukannya sebagai bentuk cibiran yang menyesatkan. Mereka benar-benar meletakkan Tuhan ke dasar terendah bagai semut diinjak kaki.

Bagi kaum Jahiliyah, Tuhan itu lemah, tak berdaya sama lemahnya dengan kaum wanita karena itu jangan lagi panggil nama Tuhan dan wanita di bumi ini. Tuhan dan kaum wanita mesti dieksit dari pelataran bumi dan selanjutnya dipendam atau dikubur ke bumi yang paling dasar.

Dalam pandangan jahiliyah, hanyalah laki-laki yang boleh berkuasa di bumi. Laki-laki berbuat sekehendaknya dan mengusai segalanya. Seluruh posisi dan pemilikan didisain agar berada dipihaknya.

Ketua suku adalah laki-laki, harta uang milik laki-laki, waris milik laki-laki, kawin milik laki-laki, kebun milik laki-laki, rumah milik laki-laki dan semua demikian setrusnya.

Pada puncaknya antara laki-laki saling konflik dan beradu anggar karena berebut monopoli yang menyebabkan tatanan sosial menjadi hancur. Demikian gambaran tragis kaum yang tidak percaya adanya hari depan. Hari adanya kehidupan setelah kematian di mana umat manusia mempertanggungjawabkan baik buruknya perbuatan.

Siapa yang baik di sanalah kelak meraih surga dan yang buruk meraih siksa neraka. Itulah hari akhrat hari, manusia bertemu pada yang ghaib. Di abad modern ini, perilaku jahili yang menafikan kepercayaan kepada sesuatu yang gaib (degaibisasi) hampir menjamur di seluruh lini kehidupan.

Manusia modern tipe ini berupaya menggerus hal-hal yang dipandang abstrak untuk menjemput kehidupan yang menurutnya lebih konkret dinikmati dan dilezati.

Perilaku degaibisasi ini jelas sangat berbahaya karena menafikan nilai-nilai ketuhanan di bumi. Akibatnya peradaban bumi menjadi musnah karena diisi para penghuni bumi yang melakukan keserakahan dan penzaliman.

Ibadah puasa merupakan momentum yang tepat untuk menangani perilaku degaibisasi yang amat membahayakan. Hal ini karena dalam Ibadah puasa terkandung ritual privasi yang dapat menumbuhkan kesadaran teologis.

Pelaku puasa ditantang menjalaninya secara rahasia dan tidak bisa dideteksi orang lain, kecuali pelaku puasa itu sendiri yang bertanggung jawab terhadap jujur dan tidaknya berpuasa.

Dalam kondisi inilah pelaku puasa mulai merasakan kehadiran Tuhan (kesadaran teologis) yang mengawasi segala garak-geriknya di manapun berada.

Oleh karena itu, ia akan merasakan ketakutan sehingga tidak mungkin melawan perintah Tuhan yang menyebabkan ia terjerumus dalam prilaku degaibisasi, yaitu prilaku tidak percaya adanya Tuhan /akhirat yang menurut Alquran dipandang sebagai perilaku yang paling buruk. Wallahu a’lam.

 

 

Sumber: republika.co.id

 laki-laki-tidur-ilustrasi-_130611154900-682Oleh: Prof Dr Fauzul Iman
“For people who do not believe in the afterlife has a bad character; and Allah have the nature of the Most High and He is the Mighty, the Wise (Surat an-Nahl: 60). This verse was revealed in the middle of the arrogant and likes to think short.

They are only able to look at life today as everything. While his brain is blunt cannot think the reason what should have been prepared for the next day.

Today they are a haven for the surge of lust. Struggling with power without signs, whoever is stronger is hunted and the weak suppressed.

The stud male is left to breathe. Baby girl is suffering, buried alive in the middle of the hole without power. That’s the story of the greedy the area before word of the Lord sounded.

Jahiliyah and its tribe are recorded by Allah because of their bad habits in doing crimes against humanity and accused Allah had a daughter. Crime against humanity committed by Jahilliyah by killing baby girls without compassion.

While they accuse the Allah has daughters did as a form of misleading scorn. They really put God to the very bottom like ants trampled by feet.

For Jahiliyah, God is weak, helpless as weak as women so don’t call the name of God and woman on this earth. Lord and women must be expelled out of the earth and then buried or buried into the deepest earth.

In Jahiliyah view, only men are allowed to power on earth. Men run riot and mastered everything. The entire ownership position and are designed to be on his side.

The leaders are men, treasure and the money belongs to the man, Heir belongs to men, marriage belongs to men, the garden belongs to the man, the house belongs to the man and so forth.

At its peak there was a conflict among them to fight over the monopoly that causes the destruction of social. Thus is the tragic picture of a people who do not believe on the hereafter, the existence of life after death in which the man is responsible for the good and bad deeds.

Who is good in there that is going to make heaven and bad won the torments in hell. That day is the hereafter when people gather at the unseen. In this modern age, jahili behavior who denies belief in the occult (degaibisasi) almost mushroomed across the line of life.

This type of modern man seeks to erode things considered abstract to pick up more concrete life which he enjoyed and pleasured.

Degaibisasi behavior is clearly very dangerous because it denies the values of divinity on earth. As a result of the earth civilization became extinct because it is filled the inhabitants of the earth who do greed and persecution.

Fasting is the right moment to deal with the degaibisasi behavior that is very dangerous. This is because in fasting contained privacy that can foster theological consciousness.

Fasting Performers challenged to live in secret and could not be detected any other person, unless the Fasting Performers itself is responsible for the honest whether they are fating or not.

In this condition the perpetrators of fasting began to feel the presence of God (theological consciousness) which oversees all his doings everywhere.

Therefore, he will feel the fear that they may not be against God’s command that caused him to fall into degaibisasi behavior, that behavior does not believe in a God / afterlife according to the Quran is seen as the worst behavior. Allaah knows best.

 

 

Source : republika.co.id

 

Tags :
Konfirmasi Donasi