DENGKI YANG DIPERBOLEHKANPERMISSIBLE ENVY DENGKI YANG DIPERBOLEHKAN

dengki-ilustrasi-_130317061418-931Oleh: M Sinwani

“Rumput rumah tetangga lebih hijau ketimbang rumput rumah sendiri.”

Demikian sebuah ungkapan yang acapkali kita dengar yang menyiratkan makna bahwa setiap hati kita bisa saja terjangkiti benih penyakit, entah kecil atau besar. Bermula dari pandangan bahwa keadaan tetangga lebih makmur daripada kita, kemudian kita memperturutkan dan membanding-bandingkan terus menerus hingga akhirnya penyakit dengki membiak dalam hati.

Dengki berasal dari kata hasada yang artinya iri hati, hasud, atau menaruh perasaan tidak suka atas keberuntungan orang lain. Ia dapat menggiring kita pada ucapan maupun perilaku yang kurang terpuji, seperti mengumpat, gibah, ataupun adu domba.

Dengki adalah salah satu sifat tercela di hadapan Allah SWT. Ia merupakan pemicu awal lahirnya segala dosa dan kejahatan. Sebut saja iblis, ia enggan bersujud kepada Adam as lantaran dengki menggumpal dalam hatinya. Ia tidak rela gelar istimewa ditautkan untuk Adam karena ia merasa dirinya lebih mulia ketimbang Adam as selaku manusia yang hanya tercipta dari tanah.

Demikian pula Rasulullah SAW menasehati kita agar bisa menjauhi sifat dengki dengan bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu dapat memakan kebajikan-kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar.’’ (HR Abu Dawud).

Adapun untuk menjauhi sifat dengki kita perlu mengetahui sebab-sebab pemantik munculnya sifat dengki, di antaranya, rasa benci terhadap kekayaan maupun prestasi orang lain; perasaan diri lebih mulia; dan adanya perasaan senang jabatan dan kedudukan di mata manusia. Semuanya tercela di hadapan Allah SWT.

Namun, jangan salah bahwa terdapat sifat dengki yang diperbolehkan. Rasulullah SAW menyebutkan, pertama, dengki terhadap seseorang yang Allah berikan anugerah harta lantas ia menjaganya dari kerusakan dengan menginfakkannya dalam kebenaran. Dalam hal ini tiada berdosa bagi kita menaruh dengki kepada orang tersebut dengan maksud dapat mencontoh seperti apa yang ia kerjakan. Namun, apabila kita dengki dengan berangan-angan agar hartanya habis atau bisa berpindah ke tangan kita maka hakikat dengki kembali haram.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, “Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.’’ (QS an-Nisa [4]: 32).

Dengki yang diperbolehkan kedua adalah dengki terhadap seseorang yang Allah SWT anugerahkan ilmu baginya lantas ia menggunakan dengan baik dan mengajarkannya kepada orang lain. Kita patut menaruh dengki agar kita senantiasa terusik untuk belajar, menambah wawasan, dan berlomba dalam kebaikan dengan mengajarkannya kepada orang lain.

Wallahu a’lam.

Sumber: republika.co.id
dengki-ilustrasi-_130317061418-931 The Prophet (sal Allahu alaihi wa sallam) said, “Envy is permitted only in two cases: Of a man whom Allah gives wealth, and he disposes of it rightfully, and of a man whom Allah gives knowledge, and he applies and teaches it.” [Bukhari]

According to Imam An-Nawawi’s explanation, the word Hasad (jealousy) is used here in the sense of Ghibtah, i.e. envy. In Islam, jealousy is forbidden and is held unlawful. The reason being that one who is jealous wants the one he is jealous of to be deprived of that blessing. Envy is permissible for the reason that when one sees that a person has been graced by Allah (subhana wa ta’ala) with certain gifts and qualities, he also desires to be blessed with those gifts. In the latter case, he does not grumble and grieve but eagerly prays to Allah (subhana wa ta’ala) for those gifts.

‘Knowledge’ stands for the knowledge of the Quran and Hadith because this knowledge alone is beneficial for man, and it is through this knowledge that correct judgements can be made. This hadith encourages acquiring useful knowledge and wealth to spend only in the ways pleasing to Allah (subhana wa ta’ala).

Envy is permissible for the reason that when one seems that a person has been graced by Allah with certain gifts and qualities, he also desires to be blessed with those gifts.

In the latter case, he does not grumble and grieve but eagerly prays to Allah for those gifts. `Knowledge’ here stands for the knowledge of the Qur’an and Hadith because this knowledge alone is beneficial for man, and it is through this knowledge that correct judgements can be made among the people. This Hadith has an inducement for acquiring useful knowledge along with wealth to spend in the ways ordained by Allah.
dengki-ilustrasi-_130317061418-931Oleh: M Sinwani

“Rumput rumah tetangga lebih hijau ketimbang rumput rumah sendiri.”

Demikian sebuah ungkapan yang acapkali kita dengar yang menyiratkan makna bahwa setiap hati kita bisa saja terjangkiti benih penyakit, entah kecil atau besar. Bermula dari pandangan bahwa keadaan tetangga lebih makmur daripada kita, kemudian kita memperturutkan dan membanding-bandingkan terus menerus hingga akhirnya penyakit dengki membiak dalam hati.

Dengki berasal dari kata hasada yang artinya iri hati, hasud, atau menaruh perasaan tidak suka atas keberuntungan orang lain. Ia dapat menggiring kita pada ucapan maupun perilaku yang kurang terpuji, seperti mengumpat, gibah, ataupun adu domba.

Dengki adalah salah satu sifat tercela di hadapan Allah SWT. Ia merupakan pemicu awal lahirnya segala dosa dan kejahatan. Sebut saja iblis, ia enggan bersujud kepada Adam as lantaran dengki menggumpal dalam hatinya. Ia tidak rela gelar istimewa ditautkan untuk Adam karena ia merasa dirinya lebih mulia ketimbang Adam as selaku manusia yang hanya tercipta dari tanah.

Demikian pula Rasulullah SAW menasehati kita agar bisa menjauhi sifat dengki dengan bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi sifat dengki karena sesungguhnya sifat dengki itu dapat memakan kebajikan-kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar.’’ (HR Abu Dawud).

Adapun untuk menjauhi sifat dengki kita perlu mengetahui sebab-sebab pemantik munculnya sifat dengki, di antaranya, rasa benci terhadap kekayaan maupun prestasi orang lain; perasaan diri lebih mulia; dan adanya perasaan senang jabatan dan kedudukan di mata manusia. Semuanya tercela di hadapan Allah SWT.

Namun, jangan salah bahwa terdapat sifat dengki yang diperbolehkan. Rasulullah SAW menyebutkan, pertama, dengki terhadap seseorang yang Allah berikan anugerah harta lantas ia menjaganya dari kerusakan dengan menginfakkannya dalam kebenaran. Dalam hal ini tiada berdosa bagi kita menaruh dengki kepada orang tersebut dengan maksud dapat mencontoh seperti apa yang ia kerjakan. Namun, apabila kita dengki dengan berangan-angan agar hartanya habis atau bisa berpindah ke tangan kita maka hakikat dengki kembali haram.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, “Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.’’ (QS an-Nisa [4]: 32).

Dengki yang diperbolehkan kedua adalah dengki terhadap seseorang yang Allah SWT anugerahkan ilmu baginya lantas ia menggunakan dengan baik dan mengajarkannya kepada orang lain. Kita patut menaruh dengki agar kita senantiasa terusik untuk belajar, menambah wawasan, dan berlomba dalam kebaikan dengan mengajarkannya kepada orang lain.

Wallahu a’lam.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia