DIALOG PERADABAN

ceramah-adalah-salah-satu-metode-dakwah-_140219130925-676Oleh: A Ilyas Ismail

Dakwah sebagai proses pembangunan bangsa (umat) harus dilakukan dengan cara-cara yang terhormat dan penuh keadaban.
Syekh Yusuf al-Qardhawi berujar, dakwah adalah mendorong manusia agar mencitai Islam dan kaum Muslim, bukan menjauhkan dan membencinya.

Untuk itu, dakwah harus dilakukan secara konstruktif dan persuasif. (Lihat Khithabuna al-Islami fi ‘Ashr al-Aulamah, 2012).

Dalam QS an-Nahl [16]: 125, Allah SWT menyuruh kaum Muslim agar melaksanakan dakwah dengan tiga jalan, yaitu dengan ilmu dan kearifan, filosofis (bi al-hikmah),dengan memberi nasihat yang baik, advices (mau’izhah hasanah), dan dengan dialog yang beretika (mujadalah billati hiya ahsan).

Dialog sebagai pendekatan dakwah, seperti ditunjuk ayat di atas, penting digarisbawahi. Jangan salah, dialog atau mujadalah di sini bukanlah bantah-bantahan atau debat kusir, seperti menjadi kecenderungan orang awam yang tidak terdidik. (QS al-Kahfi [18]: 54).

Yang dimaksud dengan dialog di sini, yaitu semacam komunikasi lintas budaya (intercultural communication) yang beradab dan beretika. Dialog beretika, menurut ustaz Sayyid Quthub, mesti memenuhi tiga kriteria seperti berikut ini.

Pertama, dialog dilakukan secara rasional, tidak emosional. Kedua, dialog dilakukan untuk menemukan kebenaran, bukan mencari kemenangan. Ketiga, dialog dilakukan atas dasar saling menghomati, bukan saling merendahkan lantaran setiap diri (jiwa) memiliki naluri kemuliannya sendiri yang perlu dihormati.

Dialog sebagai pendekatan dakwah ditawarkan Alquran untuk menghadapi orang atau kelompok orang (al-mad’uwin) yang berlainan pemikiran atau berbeda secara agama dan budaya, seperti ahli kitab. “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, kecuali dengan cara yang paling baik.” (QS al-Ankabut [29]: 46).

Merujuk pada ayat di atas (QS al-Ankabut ayat 46) dan ayat lain yang semakna (QS an-Nahl ayat 125), Alquran mendorong dialog antarperadaban (al-hiwar bayna al-hadharat), bukan perang atau benturan peradaban (tashadum al-hadharat).

Pada era baru sekarang, dialog [antar] peradaban menjadi penting karena globalisasi membuat dunia menjadi saling tersambung satu dengan yang lain (interconnectedness), tanpa batas atau sekat, baik secara fisik territorial maupun kultural (borderless). Dialog peradaban dilakukan untuk mencapai tiga tujuan.

Pertama, mencari kesamaan pandangan atau titik temu, common platform (kalimatin sawa’). Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, ‘Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun. (QS Ali Imran [3]: 64).

Kedua, mencari dan menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang mendera kemanusiaan sejagat, seperti kemiskinan, kebodohan, perang saudara yang tak berkesudahan, masalah HAM, lingkungan hidup, dan lain-lain.
Dengan cara ini, dakwah benar-benar menjadi solusi, bukan agresi, seperti dituduhkan oleh sementara orang yang tidak suka kepada Islam.

Ketiga, mempertinggi derajat kemanusiaan manusia. Dengan jalan ini, dakwah bermakna sivilisasi, bukan intimidasi alias mengajak orang lain ke dalam Islam dengan paksa.
Hal yang disebut terakhir ini dilarang keras lantaran tidak ada paksaan dalam agama [Islam], La ikraha fi al-din. (QS al-Baqarah [2]: 256). Wallahu a’lam!

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi