[:ID]DISTRIBUSI KORNET SUPERQURBAN DAN TAS SEKOLAH SAPA GILI KETAPANG[:en]SUPERQURBAN CORNED AND SCHOOL BAGS DISTRIBUTION COME TO GILI KETAPANG[:]

[:ID]DISTRIBUSI KORNET SUPERQURBAN DAN TAS SEKOLAH SAPA GILI KETAPANGPROBOLINGGO. Relawan Rumah Zakat Surabaya menyalurkan donasi para donatur dalam bentuk kornet Superqurban dan tas sekolah yang dikemas dalam kegiatan Travelling and Sharing atau Jalan-Jalan Berbagi (JJB) di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo pada Selasa (28/03). Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang yang terdiri dari Relawan Rumah Zakat pusat, Relawan Rumah Zakat Surabaya, Relawan Rumah Zakat Malang, dan Relawan Rumah Zakat Jember.

“Alhamdulillah, kami berhasil menyalurkan bantuan dari para donatur berupa  50 kaleng kornet Superqurban dan 8 buah tas sekolah untuk dibagikan kepada masyarakat di Pulau Gili Ketapang,” ujar Andre, salah satu Anggota Relawan Rumah Zakat Surabaya.

Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menyebrang ke Pulau Gili Ketapang dari Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo. Sebelum menuju pantainya, rombongan Relawan Rumah Zakat diajak untuk melihat Gua Kucing, sambil menunggu giliran untuk snorkeling.

Dalam kesempatan tersebut dua kardus kornet Superqurban dibagikan oleh relawan di sekitar Gua Kucing. Masyarakat pun sangat antusias dan senang menyambutnya. “Terima kasih, Mas, Mbak. Semoga kebaikannya dibalas pahala oleh Allah,” ujar salah seorang warga seraya berdoa.

Selain membagikan kornet Superqurban dan tas, relawan juga melaksanakan kegiatan bersih-bersih pantai karena berbagai macam sampah berserakan di bibir pantai. Kegiatan ini dilakukan relawan dengan penuh semangat.

Mas Ali, pemandu sekaligus pengelola wisata di Pulau Gili Ketapang, mengatakan bahwa sampah-sampah tersebut kebanyakan adalah sampah kiriman dari Pulau Jawa. Volume sampah akan bertambah bila sedang musim hujan.

Pengelolaan sampah-sampah tersebut juga belum dilakukan dengan optimal. Keterbatasan dana, alat, dan sarana juga menjadi kendala dalam mengelola sampah di sini. “Kalau sampah organik, kami bakar. Kalau sampah botol atau gelas air mineral, ada yang memulungnya. Nah, sampah-sampah lain biasanya kami hanyutkan lagi,” ujar Mas Ali.

“Peran pemerintah tentu diperlukan. Selain itu, pengunjung juga harus sadar untuk tidak membuang sampah sembarang,” tutupnya.

Kegiatan JJB tersebut sangat menyenangkan, selain bisa berjalan-jalan, Relawan pun  tetap tak kehilangan momentum untuk berbagi kepada masyarakat. Kegiatan membersihkan pantai pun meninggalkan kesan tersendiri  bagi para relawan dan masyarakat sekitar.

 

 

Newsroom/Dea Sukmara

Probolinggo[:en]DISTRIBUSI KORNET SUPERQURBAN DAN TAS SEKOLAH SAPA GILI KETAPANGPROBOLINGGO. Volunteers of Rumah Zakat Surabaya  distributed the donation of the donors in the form of Superqurban corned and school bags on Traveling and Sharing activities or Jalan-Jalan Berbagi (JJB) on Gili Ketapang island, Probolinggo on Tuesday (28/03). This event was attended by 15 people consisting of Volunteers of Rumah Zakat Center, Volunteers of Rumah Zakat Surabaya, Volunteers of Rumah Zakat Malang and Volunteers of Rumah Zakat Jember.

“Alhamdulillah, we managed to distribute aid from donors such as 50 cans of Superqurban corned and 8 pieces school bags for people in Gili Ketapang island,” said Andre, one of the Member of Volunteers of Rumah Zakat Surabaya.

It took about 45 minutes to cross to Gili Ketapang island from Tanjung Tembaga port,  Probolinggo. Before heading to the beach, Volunteers of Rumah Zakat were invited to see the Gua (cave) Kucing, while waiting for snorkeling.

On the occasion two boxes of Superqurban corned distributed by volunteers around the Gua Kucing. The resident was very enthusiastic and happy to greet the volunteers. “Thanks, Mas, Mbak may God reward your goodness,” said one resident.

In addition distributing Superqurban corned and bags, volunteers also clean-up the beach from wide range of garbage strewn on the shoreline. The volunteers were done that activity enthusiastically.

Mas Ali, guide and also manager of tourism on Gili Ketapang island, said that the waste is mostly waste from Java. The garbage volume will increase when rainy season.

The waste management has not performed optimally. Limited funds, tools, and infrastructure are also obstacles in managing waste here. “If the organic waste, we burn. If the garbage or glass bottles of mineral water, people will collect it. And another garbage we usually throw it,” said Mas Ali.

“The role of government is certainly needed. In addition, visitors should also be aware not to throw any rubbish,” he concluded.

The JJB was such very enjoyable activity, in addition to travel, the volunteers also still got the momentum to share with the public. Beach cleaning up activities left such a nice impression for the volunteers and the surrounding community.

 

 

Newsroom / Dea Sukmara

Probolinggo[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia