HIKMAH KESHALEHAN KOLEKTIF DALAM KELUARGA

Oleh: Abang Eddy Adriansyah

Ibrahim a.s. baru saja sampai di dataran yang kelak bernama Mekkah itu, ketika beliau tiba-tiba mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya. Ismail a.s , anak pertama, laki-laki, dan baru kali itu bersua kembali dengannya setelah ditinggal selama kurang lebih 7 tahun. Bila kita seorang ayah tentu bisa membayangkan betapa beratnya, baru saja bertemu dengan anak yang diharap-harap kelahiran dan pertemuan dengannya, kini harus diwafatkan dengan perantaraan tangannya sendiri. Ibrahim a.s., Dengan berat hati akhirnya Ibrahim a.s. mengutarakan perintah Allah SWT tersebut, kepada anaknya, Ismail a.s. “Wahai, anakku, sesungguhnya aku mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpiku.”“Apa perintah Allah kepadamu, ya Bapakku?” Ibrahim a.s. bergantian memandang langit, merasakan helaan angin yang meresahkan, memandang wajah inosen anaknya tercinta. Al Qur’an mengabadikan momen tersebut dalam surat Ash-Shaffat ayat 102, yaitu : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata,“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Kita tahu bahwasanya, diakhir prosesi, Allah SWT telah memerintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengganti Ismail a.s. dengan seekor gibas. Dan, untuk kesekian kalinya, lelaki yang dijuluki Bapak Para Nabi itu menyempurnakan ketauhidannya, dengan mengatasi ujian hati yang hingga kapanpun akan selalu menjadi tantangan berat bagi hati kecil manusia. “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,…kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”firman Allah SWT dalam Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 108-109. Sebagaimana seorang bijak menyarankan untuk “belajarlah dari sejarah”, begitu pula kita yang datang kemudian dan sedang berupaya meretas jalan menuju kemuliaan sebagaimana yang telah ditempuh Ibrahim a.s.

Ternyata, bila menyimak kisah Ibrahim a.s. dan anaknya, Ismail a.s., yang terjadi dalam kurun ribuan tahun lampau itu, tempat terindah yang telah dicapai Ibrahim a.s. dan keluarganya saat ini adalah berkat kesalehan kolektif yang menjadi hiasan jiwa anggota-anggotanya. Bagaimana seorang ayah berupaya menegakkan perintah Allah SWT meskipun resikonya adalah kehilangan seorang anak yang dicintainya, bagaimana seorang anak bersabar mendukung ayahnya di jalan kebenaran walau dengan tanggungan penderitaannya, adalah ikhtiar yang diteladankan Ibrahim a.s. kepada kita yang datang kemudian ini. Kebersamaan aqidah, kesalehan kolektif, nyata-nyata merupakan syarat kemuliaan bagi kita bila ingin meraih kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak.

Perayaan Idul Qurban adalah momen pengingat bahwasanya kesalehan kolektif adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Ketika pribadi orangtua dan pribadi anak berimbang kualitas kesalehannya, akan terjalin interaksi yang harmonis dan bernilai yang mana satu pribadi dengan pribadi lainnya saling mendukung dalam perjalanan mencapai ridho-Nya. Bila sang ayah hendak menunaikan kebenaran maka ia akan menyegerakannya sebab dukungan penuh anak-anak dan istrinya. Bila sang anak hendak melakukan kealpaan maka ia akan tercegah dari berbuat lebih jauh, sebab diingatkan oleh orangtuanya.

Karena itulah, momen Idul Qurban yang diperingati setiap tahun selalu saja mengandung sebuah peringatan. Bahwasanya, setiap insan dalam institusi keluarga harus saling nasehat-menasehati, harus saling tolong menolong dalam kebenaran, agar semuanya selamat mencapai tempat terindah sebagaimana tempat yang dijanjikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

 

Tags :
Konfirmasi Donasi