Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Dampak Sosial Berkelanjutan

oleh | Sep 11, 2026 | Berita

Jakarta, 9 September 2026 — Rumah Wakaf, Rumah Zakat, dan SharingHappiness.org menghadirkan Indonesia Endowment Ecosystem, sebuah infrastruktur kolaborasi berbasis wakaf untuk membangun sumber pendanaan sosial jangka panjang.

Inisiatif ini hadir sebagai respons terhadap tantangan keberlanjutan pendanaan berbagai program sosial. Selama ini, keberlangsungan program sering bergantung pada kampanye dan penggalangan dana berulang.

Melalui Indonesia Endowment Ecosystem, kontribusi sosial didorong untuk berkembang menjadi aset produktif. Hasil pengelolaan aset tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung program sosial secara berkelanjutan.

Ekosistem ini diperkenalkan melalui Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 yang digelar pada Rabu, 9 September 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Forum tersebut menjadi titik awal gerakan kolaboratif untuk membangun dampak sosial berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Chairman Indonesia Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf, Rendi Septiyan Nugraha, mengatakan pengembangan ekosistem ini diarahkan untuk mendorong perubahan paradigma dalam filantropi.

“Bukan hanya menghimpun dana, tetapi juga membangun aset produktif yang dapat menopang program sosial dalam jangka panjang,” ujarnya.

Membangun Dana Abadi untuk Dampak Berkelanjutan

Melalui model endowment, dana yang dihimpun tidak hanya digunakan hingga habis. Sebaliknya, dana tersebut dikelola secara produktif agar menghasilkan manfaat dalam jangka panjang.

Konsep ini sejalan dengan prinsip wakaf. Aset dijaga dan dikembangkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.

Indonesia Endowment Ecosystem menerjemahkan prinsip tersebut melalui infrastruktur kolaborasi. Ekosistem ini menghubungkan pengelola wakaf, platform digital, organisasi sosial, institusi, komunitas, serta mitra pengelola investasi.

Secara sederhana, terdapat tiga lapisan utama dalam model ini. Pertama, aset wakaf sebagai fondasi dana abadi. Kedua, pengelolaan produktif untuk menghasilkan manfaat. Ketiga, program sosial sebagai muara dampak bagi masyarakat.

Karena itu, Indonesia Endowment Ecosystem tidak dirancang sebagai satu program atau kampanye tunggal. Ekosistem ini menjadi infrastruktur bersama yang memungkinkan setiap pihak berkontribusi sesuai kompetensinya.

Kolaborasi Berbasis Peran

Dalam arsitektur tersebut, SharingHappiness.org berperan sebagai digital gateway. Platform ini menghubungkan akses digital, keterlibatan donatur, dan berbagai kampanye endowment.

Sementara itu, Rumah Wakaf berperan sebagai nazhir sekaligus ecosystem backbone dalam tata kelola dan pengelolaan aset wakaf.

Kemudian, NGO dan institusi mitra, salah satunya Rumah Zakat, berperan sebagai impact owner. Peran tersebut mencakup pelaksanaan program serta pengelolaan dampak sosial.

Di sisi lain, mitra manajemen investasi mendukung pengelolaan aset secara profesional dan optimalisasi hasil produktif.

CEO SharingHappiness, Zaeni Ramdan, menilai teknologi dan ekosistem digital memiliki peran penting dalam memperluas partisipasi masyarakat.

Melalui SharingHappiness.org, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengakses berbagai kampanye endowment. Pada saat yang sama, kontribusi tersebut dapat terhubung dengan infrastruktur pengelolaan wakaf.

Platform SharingHappiness.org juga menjadi salah satu komponen penting dalam arsitektur Indonesia Endowment Ecosystem. Berdasarkan dokumen strategi ekosistem, platform tersebut memiliki lebih dari 1,2 juta donatur aktif.

Model ini juga memberikan ruang bagi NGO dan organisasi mitra untuk tetap memiliki kampanye, hubungan dengan donatur, keterlibatan komunitas, implementasi program, serta storytelling dampak.

Sementara itu, pengelolaan wakaf, tata kelola, kepatuhan, investasi produktif, dan pelaporan transparansi menjadi bagian dari infrastruktur Rumah Wakaf.

Dengan demikian, organisasi sosial tidak perlu membangun seluruh infrastruktur endowment secara mandiri. Setiap pihak dapat berkolaborasi berdasarkan peran dan keahliannya.

Rumah Zakat Jadi Salah Satu Impact Owner

Dalam implementasinya, Rumah Zakat menjadi salah satu impact owner dalam Indonesia Endowment Ecosystem.

Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat, Didi Sabir, menyampaikan pengalaman Rumah Zakat dalam membangun dana abadi untuk menjaga keberlanjutan dampak sosial, khususnya di bidang pendidikan.

Sebagai impact owner, Rumah Zakat berfokus pada pengelolaan program. Selain itu, Rumah Zakat memastikan manfaat dana abadi dapat memberikan dampak sosial secara berkelanjutan.

Rumah Zakat juga telah mengembangkan jalur dana abadi melalui wakaf uang. Dana tersebut diamanahkan kepada Rumah Wakaf untuk dikelola.

Selain itu, terdapat skema bagi nasabah yang berminat mengalihkan nilai manfaatnya menjadi dana abadi Rumah Zakat. Skema tersebut turut diperkenalkan melalui intimate gathering untuk membuka peluang partisipasi dan kolaborasi yang lebih luas.

Hadirkan Regulator, Akademisi, dan Praktisi

Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Mereka berasal dari unsur regulator, ekonomi dan keuangan syariah, akademisi, praktisi bisnis, hingga pengelola wakaf.

Tokoh yang hadir antara lain Prof. Dr. H. Waryono, S.Ag., M.Ag., Direktur Pemberdayaan Zakat & Wakaf; H. Anas Nasikhin, M.Si., Sekretaris Badan Wakaf Indonesia; Didi Sabir, S.H., M.Kn., Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat; Prof. Dr. Raditya Sukmana, SE., MA., Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Airlangga; Dr. Aminul Rachman Pulungan, Konsultan & Pengusaha Bisnis; serta Rendi Septiyan Nugraha, S.E., M.B.A., CEO Rumah Wakaf.

Kehadiran lintas sektor tersebut membuka ruang dialog mengenai wakaf produktif, tata kelola investasi, teknologi, dan kolaborasi kelembagaan.

Rangkaian Summit meliputi Ecosystem Launch, keynote speech, diskusi panel, Strategic Partnership Announcement, serta sesi networking.

Empat Portofolio Dana Abadi

Indonesia Endowment Ecosystem mengembangkan empat portofolio dana abadi. Keempatnya mencakup pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Dana Abadi Pendidikan diarahkan untuk mendukung beasiswa, infrastruktur sekolah, dan riset berkelanjutan.

Selanjutnya, Dana Abadi Kesehatan mencakup layanan kesehatan komunitas dan fasilitas medis produktif. Dana Abadi Lingkungan diarahkan pada konservasi, energi bersih, dan ketahanan iklim.

Sementara itu, Dana Abadi Kemanusiaan ditujukan untuk mendukung respons krisis dan pemberdayaan komunitas rentan.

Pada tahap awal, pendidikan menjadi fokus pertama pengembangan portofolio dana abadi tersebut.

Melalui pendekatan ini, kontribusi sosial diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam satu periode. Sebaliknya, kontribusi tersebut dapat berkembang menjadi aset yang terus bekerja dan menopang program sosial di masa mendatang.

Menuju Ekosistem Endowment Nasional

Peluncuran Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 menjadi bagian awal dari roadmap pengembangan ekosistem hingga 2028.

Pada 2026, fokus diarahkan pada peluncuran ekosistem dan Summit perdana. Selain itu, tahap ini mencakup onboarding mitra pendiri dan regulator serta pembentukan tata kelola dasar.

Kemudian pada 2027, pengembangan memasuki fase ekspansi. Fokusnya meliputi perluasan portofolio dana abadi, penambahan kemitraan investasi, dan pengembangan sistem pelaporan dampak yang terstandarisasi.

Selanjutnya, pada 2028, Indonesia Endowment Ecosystem diarahkan menuju skala nasional lintas provinsi. Pengembangan juga mencakup integrasi dengan kebijakan filantropi nasional serta pembentukan ekosistem endowment yang mandiri dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Indonesia Endowment Ecosystem membawa visi untuk mengubah pola hubungan antarpelaku sosial. Dari yang sebelumnya berfokus pada kompetisi penggalangan dana, menjadi kolaborasi untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Sahabat, yuk terus peduli dan berbagi bersama Rumah Zakat.

Newsroom

Muhammad Rizal Rahman