MEMPERBAIKI KEUANGAN USAI LEBARAN

Tidak terasa bulan Ramadhan baru saja kita lalui, saat ini kita memasuki bulan Syawal yang identik dengan Idul Fitri alias Lebaran.

Sesuai maknanya, Lebaran berarti meluaskan hati kita dalam suasana yang fitri atau suci serta bersih. Dalam konteks keuangan, berarti Lebaran meluaskan aset intagible dan tangible kita, seberapa banyak orang-orang mengenal kita dan sudahkah kita mengenal mereka.

Jika silaturahim memperbanyak rezeki, berarti kapitalisasi aset kita semakin bertambah, Insya Allah. Namun anehnya, setiap habis lebaran, ‘kantong’ kita selalu kembali ‘fitri’ artinya Saldo kita kembali nol.

Ibarat penyakit, kita mengalami sindrom saldo minus, suatu gejala penyakit keuangan yang diakibatkan pola pengaturan keuangan yang tidak benar dikarenakan kebanyakan utang alias konsumtif.

Dan realitasnya setelah Lebaran:

1. Selalu defisit, uang THR (Tunjangan Hari Raya) selalu habis, ditambah lagi dana darurat (Emergency Fund) kita juga ikut tergerus.
2. Selalu ingin berinvestasi, jika ada sisa. Faktanya, tidak akan pernah ada sisa, karena uang sudah habis untuk belanja.
3. Salalu merasa untung. Untungnya tahun ini, awal bulan dapat gaji baru lagi sehingga bisa melunasi utang-utang selama Ramadhan.

Bercermin dari realitas di atas maka sudah sepatutnya, isu yang harus kita hadapi adalah bagaimana membuat surplus kondisi keuangan dan bagaimana agar bisa berinvestasi secara rutin, baik habis Lebaran maupun habis bergadang, artinya bisa kapanpun berinvestasi.

Maka solusi dari sindrom saldo minus tadi adalah dengan melakukan terapi cash flow lewat sebuah pembiasaan gaya hidup sederhana dan membangun aset lancar.

Kesehatan keuangan hanya dapat terjadi jika kita mampu membangun fondasi dasar keuangan.

Apa itu fondasi dasar keuangan?
1. Saving, dimulai dari memiliki dana darurat yang besarannya, minimal 3-12 kali pengeluaran bulanan.
2. Protection, masing-masing keluarga, baik suami maupun istri harus mandiri secara keuangan, dengan cara memiliki Skill (keterampilan) dan sikil (kaki untuk melangkah, operasional), baru setelah itu punya proteksi dalam hal jiwa, kesehatan dan kerugian dari harta kita.
3. Asset, seperti filosofi huruf K, ada yang menunjuk ke atas dan ada yang ke bawah, artinya kita harus memiliki ke dua tipologi aset tersebut.

Ada 3 macam bentuk aset:
a. Aset lancar, harta dalam bentuk kas atau setara kas, misalnya tabungan, deposito dan emas, giro, reksadana pasar uang. Ini adalah harta kita yang dapat dicairkan dalam jangka waktu di bawah 1 tahun.
b. Aset guna pakai, harta atau apa-apa yang kita gunakan untuk kehidupan sehari-hari yang merupakan bagian dari kegiatan kehidupan. Misalnya, rumah tinggal, kendaraan (mobil, motor), furnitur, perhiasan emas, perhiasan berlian, dan barang warisan (family heirloom).
c. Aset investasi, harta yang tidak kita konsumsi karena kita mengharapkan adanya pendapatan tetap berkala/arus kas atau kenaikan modal (capital gain) dari kepemilikan tersebut. Contohnya, rumah yang disewakan, apartemen yang disewakan, ruko yang disewakan, tanah, koleksi batik kuno, koleksi lukisan dan benda seni lain, saham, obligasi/sukuk, reksadana, emas batangan dan lainnya.

Setelah memperbaiki fondasi keuangan kita, saatnya kita masuk ke fase akumulasi kekayaan kita, yakni dengan memahami prinsip-prinsip dalam berinvestasi.

Ada minimal 3 prinsip yang mesti kita pegang, yakni :

1. Miliki tujuan investasi keuangan
Ujung dari tujuan kita berinvestasi adalah seberapa besar hasil yang ingin kita capai. Tanpa adanya sebuah tujuan atau hasil, maka investasi akan kehilangan makna.
Contoh 6 tujuan keuangan yang paling umum adalah yang saya sebut 6 C:
a. Couple (memiliki pasangan alias berkeluarga).
b. Career (pertumbuhan prestasi kita dalam bekerja atau berusaha).
c. Card (punya uang untuk membiayai kebutuhan dan keinginan).
d. Car (memiliki kendaraan dalam beraktivitas).
e. Condominium (memiliki tempat tinggal yang layak sehingga muncul ketenangan dalam bekerja/berusaha).
f. Collection (tujuan-tujuan bersifat spiritual, sosial dan keluarga).

Cara sederhana dalam membuat tujuan keuangan adalah berapa umur kita sekarang?
Misalnya usia 30 tahun, jadi 5, 10, atau 15 tahun ke depan apa pencapaian keuangan yang akan kita lakukan Contohnya umroh atau haji 10 tahun lagi.

2. Miliki mindset investasi keuangan
Investasi itu bukan spekulasi, artinya semua bisa di ukur dengan parameter-parameter ilmiah serta bersifat fundamental, bukan sekedar artifisial. Misalnya dalam trading saham, walau ada ilmunya, tetapi kita lebih memilih untuk melihat aspek jangka panjang, yang kita kenal dengan istilah analisa fundamental. Hal-hal fundamental inilah yang menjadi landasan kita berpikir layaknya investor kelas dunia.

3. Miliki keberlangsungan investasi keuangan
Salah satu mengapa investasi kita sering terhenti adalah dikarenakan bad money habit (kebiasaan keuangan yang jelek), artinya kita lebih mementingkan membayar orang lain terlebih dahulu ketimbang diri kita sendiri. Misalnya, pergi berbelanja ketika gajian, memenuhi kebutuhan bulanan dan lainnya. Harusnya mulai kita balik dengan Good Money Habit (kebiasaan keuangan yang baik), yakni seseorang yang mampu membayar dirinya terlebih dahulu dibandingkan kepentingan lain, bahasa lainnya adalah Pay Your Self First dalam dataran sosial. Setelah itu barulah kita persisten dalam melaksanakannya, bisa menggunakan Metode DCA (Dollar Cost Averaging) yakni tetap berinvestasi dalam kondisi apapun, karena akan di ambil rata-ratanya selama kita berinvestasi.

Dengan memahami 3 prinsip investasi di atas kita akan memulai babak baru sebagai seorang investor.

 

Sumber: Republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi