[:ID]MENGENDALIKAN AMARAH[:en]CONTROLLING ANGER [:]

[:ID]oleh : Muslimin

Kemarahan dapat muncul dalam situasi dan kondisi apa pun pada diri seseorang. Ketika kemarahan membuncah pada diri seseorang, segala sifat buruk yang ada dalam dirinya akan sangat sulit dikendalikan.

Rasa malu pun berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahan pada benda, hewan, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.Sebaiknya, jika seseorang berada pada situasi amarah memuncak segera hilangkan atau salurkan pada hal-hal yang tidak melanggar perintah Allah dan tidak merugikan orang lain.

Keburukan amarah yang berlebihan itu tergambar ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya sedang duduk-dukuk bersama. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah seorang laki- laki yang tanpa sebab memaki-maki Abu Bakar.Namun, Abu Bakar hanya diam dan berusaha tenang.

Ketika sampai pada cacian yang ketiga, Abu Bakar bereaksi dengan menampakkan kemarahannya kepada laki-laki itu. Rasulullah pun lalu berdiri. Kemudian, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa pendapatmu tentang aku?Beliau menjawab, Malaikat turun dari langit dan mendustakan setiap yang dikatakan orang ini kepadamu, tetapi engkau memberikan reaksi, malaikat itu pun pergi dan kemudian diganti dengan kehadiran setan. (HR Abu Bukhari dan Dawud).

Melalui cuplikan hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabat dan pengikutnya agar berusaha mengendalikan emosi, amarah, dan kebencian yang berkepanjangan. Sebab, karakteristik Muslim sesungguhnya itu adalah mereka yang mampu memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, ramah kepada orang yang sombong dan angkuh, santun kepada orang fasik, sabar kepada orang yang mencela, dan bermurah hati kepada orang yang menyakiti.

Termasuk berbakti kepada saudara-saudaranya dan mencintai saudara-saudaranya. Sebagaimana yang digambarkan Allah SWT, Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, apabila mereka marah, mereka memberi maaf. (QS as-Syura [42]: 37).

Karakteristik umat Islam itu juga melekat pada pribadi Nabi Yusuf AS. Meskipun Nabi Yusuf pernah dibuang oleh saudara-saudara tirinya ke dalam sebuah sumur yang dapat mengakibatkan kematian dirinya, ketika bertemu kembali dengan saudara- saudaranya, yang kala itu Nabi Yusuf sudah menjadi pejabat yang terpandang di Mesir, beliau tidak mengumbar amarah kepada saudara-saudaranya itu.

Nabi Yusuf justru memaafkan kesalahan mereka dengan memberikan pertolongan kepada saudara-saudaranya yang dhuafa itu. Padahal, saudara-saudaranya itu pernah berlaku tidak manusiawi terhadap Nabi Yusuf.

Kepribadian memaafkan Nabi Yusuf ini senapas dengan yang diperintahkan Allah SWT, Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS Ali- Imran [3]: 133-134).

sumber : republika.co.id[:en]Anger can arise in any situation and condition in a person. When anger arouses in a person, all the bad qualities that are in him will be very difficult to control.

The shame also changed with all the bad traits in order to vent anger on the objects, animals, and the people around him. If someone is in anger peak immediately remove or channel on things that do not violate the command of Allah and not harm other people.

The ugliness of excessive anger is illustrated when Rasulullah SAW and his companions are sitting together. A few moments later, a man who unreasonably cursed Abu Bakr. But Abu Bakr just kept quiet and tried to calm down.

When it came to the third scold, Abu Bakr reacted by exposing his anger to the man. The Prophet then stood up. Then Abu Bakr asked the Prophet (s), “What do you think of me?” He replied, “The angels come down from heaven and deny everything that this man told you, but you react, the angel went away and then replaced with the presence of the devil. (HR Abu Bukhari and Dawud).

Through the excerpt of the hadith above, Rasulullah SAW reminds his companions and followers to try to control the emotions, anger, and hatred that prolonged. For, the true Muslim characteristics are those who are able to forgive and forget the mistakes of others, be kind to the arrogant and arrogant, be courteous to the wicked, patient to the reprobate, and generous to the offending, including devoted to his brothers and loving his brothers. As Allah Almighty describes, And to those who keep away from great sins and vile acts, when they are angry they apologize. (Surat as-Shura [42]: 37).

 

The characteristics of Muslims are also attached to the person of Prophet Yusuf AS. Although the Prophet Yusuf was once thrown out by his half-brothers into a well that could lead to his death, when he met his brothers, who at the time of the Prophet Yusuf had become a respected official in Egypt, he did not indulge his anger at his brothers .

The prophet Yusuf had forgiven their faults by providing help to his poor siblings. In fact, his brothers had ever applied inhuman to the Prophet Yusuf.

The personality of forgiving the Prophet Joseph is breathless with the command of Allah SWT, And hasten you seek forgiveness from your Lord and get the heaven as wide as the heavens and the earth provided for the righteous, those who give charity, both in time and space, and those who resist their anger and forgive others’ faults. And Allah loves those who do good. (Surah Ali-Imran [3]: 133-134).

 

source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia