MINUM TEH BAGI BALITA

bioma  gurun - ekosistem daratOleh: dr. Hilmi Sulaiman, MKM

Teh merupakan minuman yang sangat populer, tidak hanya di negara kita tetapi juga di seluruh dunia. Beberapa sumber bahkan menyebukan teh adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi kedua setelah air putih. Selain rasa dan aromanya yang khas, berbagai manfaat yang diyakini terdapat dalam teh juga membuat minuman ini banyak digemari.

Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan zat apa saja yang terkandung di dalam teh serta pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa zat yang ada di dalam teh di antaranya adalah fluoride, asam amino, polifenol, dan kafein. Zat-zat tersebut memiliki dampak pada kesehatan, baik positif maupun negatif yang sangat tergantung pada seberapa banyak kadar yang dikonsumsi oleh setiap individu.

Ada sumber-sumber yang mengutip hasil penelitian dari beberapa universitas tentang dampak buruk konsumsi teh, terutama bagi anak balita. Dampak negatif yang disebutkan oleh sumber-sumber tersebut terutama terkait dengan aspek tumbuh kembang anak yang dapat terganggu dan dihambat oleh zat-zat yang terkandung dalam teh. Beberapa akibat negatif yang diketahui berhubungan dengan zat-zat dalam teh diantaranya menyebabkan gigi menjadi berwarna kekuningan, anemia, dan menghambat pertumbuhan anak.

Jika dilihat dari zat yang terkandung di dalam teh, memang ada pengaruh dari zat-zat tersebut terhadap dampak yang disebutkan di atas. Sebagai contoh, kandungan tanin dan kafein dalam teh, dapat menghambat penyerapan besi dan kalsium di dalam usus. Sedangkan seperti yang kita ketahui, zat besi dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak yang optimal serta pembentukan sel darah merah. Begitu pula dengan kalsium yang diperlukan tubuh untuk pembentukan tulang. Hambatan dalam penyerapan kedua zat gizi ini tentu akan sangat merugikan bagi tumbuh kembang anak terutama balita.

Selain pengaruh dari zat-zat yang terdapat dalam teh, adanya gula yang seringkali ditambahkan pada saat mengkonsumsi teh juga dapat menimbulkan dampak negatif tersendiri. Konsumsi gula yang berlebihan, selain berpotensi menimbulkan masalah pada gigi, juga bisa menghambat hormon pertumbuhan dan berperan dalam terjadinya obesitas pada anak.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah semua dampak negatif yang disebutkan di atas sangat tergantung dari seberapa banyak teh yang dikonsumsi oleh anak. Menghindari konsumsi teh sama sekali bisa jadi merupakan hal yang kurang bijak, karena tidak sedikit manfaat yang bisa didapatkan dari konsumsi teh, terutama pada saat anak butuh cairan seperti ketika mengalami diare. Kandungan fluoride dalam teh tentu bermanfaat untuk memperkuat gigi. Polifenol yang merupakan antioksidan dapat membantu mengurangi radikal bebas dalam tubuh dan meningkatkan kekebalan tubuh anak. Kafein dalam teh juga bisa membantu meningkatkan kerja jantung dan pembuluh darah agar sirkulasi darah lebih baik.

Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa konsumsi teh baik bagi orang dewasa maupun anak-anak sebenarnya diperbolehkan, namun perlu diperhatikan seberapa banyak teh yang diminum setiap hari. Kadar aman berbagai kandungan teh tentu berbeda antara orang dewasa dan anak, dan hal ini menentukan seberapa banyak anak boleh diberikan teh. Dalam 1 gelas teh hitam yang biasa kita dapatkan dan kita konsumsi secara instan, rata-rata mengandung 30-50 mg kafein. Kadar ini masih berada pada batas aman anak usia balita yakni sekitar 45 mg per hari.

Apabila ingin memberikan teh bagi anak balita, beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:

1. Batasi konsumsi teh maksimal 1-2 cangkir kecil setiap hari
2. Hindari minum teh berdekatan dengan waktu makan atau minum susu karena teh dapat menghambat penyerapan zat besi serta kalsium pada makanan
3. Ganti teh dengan minuman seperti jus jeruk yang banyak mengandung vitamin C pada saat makan, karena vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi di usus.

Pada prinsipnya, segala sesuatu yang sudah disediakan oleh Allah SWT di bumi ini tentu boleh untuk dikonsumsi, terkecuali yang sudah diketahui berbahaya dan diharamkan oleh agama. Konsumsi makanan dan minuman apapun tentu akan lebih baik apabila tidak dilakukan dalam jumlah yang berlebihan. Terutama bagi anak balita, jangan sampai ketakutan kita akibat mitos terhadap makanan atau minuman tertentu justru menyebabkan anak kurang mendapatkan variasi makanan yang sebetulnya sangat dibutuhkan pada periode tumbuh kembangnya.

Tags :
Konfirmasi Donasi