NGO SUMMIT UPAYA PERANGI KEMISKINANNGO SUMMIT FOR FIGHTING POVERTY

RZ LDKO CilegonBANDUNG. Indonesia masih memiliki 28 juta jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan, angka tersebut cukup besar bila dibandingkan dengan upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai program pengentasan kemiskinan.

Sementara itu pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat dibandingkan pertumbuhan penduduk. Layanan publik tetap kurang layak berdasarkan standar negara berpendapatan menengah. Indonesia pun mencatat prestasi yang kurang baik, berdasarkan indikator kesehatan serta infrastruktur akibatnya kemungkinan Indonesia gagal mencapai target tujuan pembangunan millennium.

Tidak berbeda dengan Indonesia, negara-negara Asia – Afrika, yang kini tengah bertemu dan membahas persoalan-persoalan negara selatan-selatan ini, juga mengalami hal yang tidak berbeda, sebagian negara Afrika masih berkutat dengan serbuan penyakit Ebola, kemiskinan akut yang dialami sebagian negara-negara Afrika, akibat perang, kekeringan, bencana alam serta wabah penyakit.

“Maka pertemuan NGO Summit, yang akan berlangsung 25 – 26 April di hotel Savoy ini, menjadi sangat penting. Kami sadar bahwa Asia – Afrika akan menjadi kekuatan baru dalam ekonomi dunia, saat ini Asia sudah menunjukkan taringnya, Cina, India merupakan raksasa ekonomi baru yang berkembang dengan pesat,” jelas Nur Efendi CEO Rumah Zakat, yang menjadi penggagas kegiatan ini.

Di tengah anjloknya perkenomian negara-negara barat, maka pertemuan konferensi ini menjadi sangat strategis, kerja sama antar negara selatan-selatan akan menjadi kekuatan baru. “Tetapi tentu perlu persiapan di tingkat masyarakatnya, karena belajar dari pengalaman negara-negara barat, peningkatan ekonomi yang hanya memperhitungkan pertumbuhan ekonomi (economic growth) layaknya balon yang siap meledak.

Sehingga harus ada upaya-upaya penguatan masyarakat dan menumbuhkan partisipasi publik dalam prosesnya. Memang akan mengalami perlambatan dalam peningkatan ekonomi, tetapi perlahan ekonomi yang berbasis masyarakat akan kuat, contoh China yang mengikut sertakan masyarakatnya dalam mengembangkan ekonomi, saat ini siapa yang tidak mengenal semua produk China. Bahkan dalam satu kampung, penduduk di kampung tersebut, menjadi pemasok pembuatan industri transportasi China.

“Pertemuan Lembaga Swadaya Masyarakat (Non Government Organization – NGO) merupakan langkah awal, kami berharap akan terbangun jejaring, saling berbagi pengalaman dan menghasilkan sebuah rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi peserta delegasi KAA, dan juga menghasilkan beberapa kerjasama strategis lainnya,” Jelas Heny Widiastuti Direktur Program Rumah Zakat sekaligus ketua Panitia Penyelenggara NGO Summit.

Pertemuan ini diikuti oleh lebih dari 150 orang pegiat persoalan kemanusian, kebencanaan, kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup. Beberapa pembicara dari Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP), kelompok dampingan Rumah Zakat serta beberapa LSM yang selama ini memfokuskan kegiatannya untuk upaya kemiskinan, akan membagi pengalaman serta hasil risetnya di dalam pertemuan ini.

Konferensi ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk sustainable development goals (SDG’s) yang akan menjadi panduan pembangunan bagi seluruh negara-negara yang ikut menandatangani protokol tersebut.

Pertemuan ini tidak hanya didukung oleh LSM, tetapi beberapa lembaga usaha, seperti Lotte Mart, CIMB Niaga Syariah, Bank Muamalat, juga ikut berpartisipasi. “Mereka yakin bahwa ini adalah bagian untuk membangun kesadaran untuk mengakhiri kemiskinan di Indonesia. Kami berharap pertemuan ini akan dapat terselenggara secara berkesinambungan, dan perlahan akan merubah wajah negara-negara Asia-Afrika, menjadi penopang baru ekonomi dunia dunia,” demikian harapan Heny Widiastuti.***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2015/04/24/324789/ngo-summit-upaya-perangi-kemiskinan

RZ LDKO CilegonBANDUNG. Poverty is one of biggest problems in the world. World Bank data shows that there are 3 billion people or 80 percent of people over the world who live in poverty; with 2.5 USD per day, whereas in Indonesia 1.25 USD per day. There are 22.000 children die each day due to poverty (UNICEF), whereas million of children in the world are malnourished due to living as poverty.

Those development challenges are summarized in Millennium Development Goals; a program where its level indicators are very clear. In Indonesia, the implementation of MDGs has given positive contributions. Even though there are some goals that need to be achieved with hardworking but there are many goals that have showed betterment or even some of them have been achieved. Indonesia managed to reduce the proportion on low income society, 1.00 USD per capita per day, from 20.60 percent in 1990 to 5.90 percent in 2008.

Condition in Indonesia is also experienced by other developing countries and other poor countries in Asia and Africa. The experiences of some non-government organizations in Indonesia show that there are many indicators which can be used as a strategic entrance in reducing absolute poverty.

Therefore, RZ initiated to share those experiences and formulated it in the seminar named NGO Summit “Fighting Poverty” held on April 25th – 26th, 2015 in Savoy Homann, Bandung. This seminar was attended by 150 delegations of International NGOs that concern on humanitarian, disaster, poverty, health, education and environment issues.

Heny Widiastuti, the Chief Program Officer of RZ and the Chairwoman Committee of NGO Summit, said that the experiences of the vanguards are expected to give positive contribution and important notes to the implementation of Asian-African Conference 2015 and to the heads of states who participated in Asian African Conference, under the theme “Strengthening South-South Cooperation to Promote World Peace and Prosperity”. ***

Newsroom/Rendriawan Muhammad
Bandung
NGO SUMMIT UPAYA PERANGI KEMISKINAN

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia