Selama ini yang sering dibahas hanyalah anak durhaka kepada orang tua, kisahnya ada di mana-mana, dari ceramah masjid hingga konten media sosial. Tapi pernahkah terlintas pertanyaan: bagaimana jika yang durhaka justru orang tuanya?
Islam ternyata tidak menempatkan hubungan orang tua dan anak sebagai hubungan satu arah. Ada kewajiban besar di pundak orang tua, dan ada hak-hak anak yang wajib dipenuhi, bukan sekadar anjuran, melainkan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahas tentang konsep kedurhakaan orang tua kepada anak dalam pandangan Islam, mulai dari hak-hak anak, bentuk-bentuk kezaliman orang tua, hingga bagaimana memperbaikinya.
Hak Anak dalam Islam yang Wajib Dipenuhi Orang Tua
Sebelum bicara soal kedurhakaan, penting untuk memahami dulu apa saja hak anak yang sudah dijamin Islam, karena melalaikan hak-hak inilah yang menjadi akar dari persoalan ini.
Islam Menjamin Hak-Hak Anak Sejak Lahir
Begitu seorang anak lahir ke dunia, Islam langsung menetapkan sejumlah hak yang menjadi kewajiban orang tuanya. Ini bukan sekadar norma sosial, ini adalah amanah dari Allah SWT.
Berikut hak-hak anak yang wajib dipenuhi orang tua dalam Islam:
- Nama yang Baik
Memberi nama yang bermakna positif adalah hak pertama anak. - Nafkah yang Layak
Sandang, pangan, dan papan yang halal adalah kewajiban, bukan pilihan. - ASI dan Perawatan
Terutama di masa bayi dan balita. - Pendidikan Agama dan Akhlak
Membekali anak dengan ilmu yang menyelamatkannya di dunia dan akhirat. - Kasih Sayang dan Perhatian
Kehadiran emosional orang tua adalah kebutuhan dasar anak. - Perlindungan dari Bahaya
Fisik, psikologis, maupun lingkungan yang merusak.
Allah SWT berfirman dengan sangat tegas dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini bukan hanya perintah untuk beribadah sendiri, tapi juga tanggung jawab penuh terhadap keluarga, termasuk anak-anak.
Kewajiban Orang Tua yang Sering Dianggap Sepele
Ada kewajiban-kewajiban orang tua yang secara hukum Islam sangat tegas, tapi dalam praktiknya sering dianggap hal biasa. Padahal kelalaiannya membawa konsekuensi dosa yang serius.
Rasulullah SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini bukan hanya soal nafkah materi. Menyia-nyiakan anak, dalam bentuk apapun, baik perhatian, pendidikan, maupun perlindungan, masuk dalam kategori dosa yang disebut Nabi SAW secara langsung.
Baca Juga: Sudah Dewasa & Bekerja, Apakah Anak Wajib Menafkahi Orang Tuanya?
Bentuk-Bentuk Kedurhakaan Orang Tua kepada Anak Menurut Islam
Istilah “durhaka orang tua kepada anak” memang tidak sepopuler sebaliknya. Tapi dalam fikih Islam, ada berbagai bentuk pelanggaran orang tua terhadap hak anak yang masuk kategori kezaliman, dan artikel ini membahas tiga bentuk yang paling sering terjadi.
1. Tidak Memberikan Nafkah dan Pendidikan yang Layak
Menelantarkan nafkah anak adalah salah satu dosa yang disebutkan secara eksplisit dalam nash. Orang tua yang mampu tapi memilih tidak memberi nafkah kepada anaknya telah berbuat zalim, dan kezaliman tidak pernah dibiarkan tanpa balasan oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 9)
Lebih jauh dari nafkah materi, tidak mendidik anak tentang agama dan akhlak juga merupakan bentuk penelantaran yang dampaknya jauh lebih panjang. Orang tua yang membiarkan anak tumbuh tanpa pondasi iman ikut menanggung akibat dari setiap kerusakan yang terjadi kelak.
2. Berlaku Tidak Adil dan Pilih Kasih antar Anak
Ini adalah kesalahan yang tampak kecil tapi lukanya sangat dalam. Pilih kasih antar anak, dalam pemberian hadiah, perhatian, bahkan ekspresi cinta, adalah sesuatu yang dilarang tegas oleh Rasulullah SAW.
Dari Nu’man bin Basyir RA, ia berkata bahwa ayahnya pernah memberinya sebuah pemberian tanpa memberi yang serupa kepada saudaranya yang lain. Rasulullah SAW pun bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pilih kasih bukan hanya soal materi. Anak yang merasa kurang dicintai dibanding saudaranya akan membawa luka itu jauh ke dalam usia dewasanya, dan luka seperti itu sangat nyata, sangat dalam.
3. Kekerasan Fisik dan Verbal terhadap Anak
Islam adalah agama yang memuliakan manusia, dan anak adalah manusia yang paling rentan. Segala bentuk kekerasan fisik terhadap anak, dengan alasan apapun, bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kasih sayang.
Tapi kekerasan verbal sering luput dari perhatian. Cacian, hinaan, label negatif seperti “bodoh,” “tidak berguna,” atau “menyusahkan” yang dilontarkan kepada anak, bahkan jika hanya sekali, bisa membekas seumur hidup. Ini bukan lebay, ini fakta psikologis yang juga sejalan dengan larangan Islam terhadap segala bentuk kezaliman lisan.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau dikenal sangat lembut dan penuh kasih sayang kepada anak-anak. Beliau bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari)
Menjadi Orang Tua yang Adil dan Bertanggung Jawab dalam Islam
Setelah memahami kesalahannya, tentu pertanyaan berikutnya adalah: lalu bagaimana menjadi orang tua yang benar-benar menjalankan amanahnya? Rumah Zakat merangkum jawabannya sebagai berikut!
Teladan Rasulullah SAW dalam Mendidik dan Menyayangi Anak
Rasulullah SAW adalah orang tua dan kakek yang luar biasa. Beliau tidak ragu mencium cucunya Hasan dan Husain di depan umum, menggendong mereka saat shalat, bahkan memperpendek bacaan shalat ketika mendengar tangis bayi di shaf makmum, demi tidak membebani sang ibu.
Sikap seperti itu bukan kelemahan. Itu adalah standar kemuliaan yang Islam tetapkan untuk seorang figur orang tua, hadir sepenuhnya, menyayangi sepenuh hati, dan tidak pernah membuat anak merasa tidak berharga.
Rasulullah SAW bersabda tentang kasih sayang kepada anak:
“Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Cara Memperbaiki Hubungan Orang Tua dan Anak dalam Perspektif Islam
Bagaimana jika sudah terlanjur berbuat salah kepada anak? Islam tidak menutup pintu perbaikan. Berikut langkah-langkah yang bisa mulai dilakukan:
- Akui Kesalahan dan Minta Maaf Kepada Anak
Ini bukan merendahkan wibawa, ini justru menunjukkan kebesaran hati. - Bertaubat kepada Allah SWT
Atas setiap kezaliman yang pernah dilakukan, meski tanpa disadari. - Pelajari Hak-hak Anak dalam Islam
Pemahaman yang benar adalah fondasi dari perubahan yang nyata. - Hadir secara Emosional
Luangkan waktu berkualitas, dengarkan anak tanpa menghakimi. - Berlaku Adil dalam Segala Hal
Perhatian, kasih sayang, dan pemberian.
Perbaikan tidak harus sempurna sejak hari pertama. Yang penting adalah arah yang benar, konsistensi, dan ketulusan niat untuk menjadi orang tua yang lebih baik dari hari ke hari.
Baca Juga: Ketahui! Inilah Dosa Besar Istri Terhadap Suami yang Harus Dihindari
Kesimpulan
Jadi, Islam menempatkan tanggung jawab yang sangat besar di pundak orang tua, bukan hanya menuntut bakti dari anak, tapi juga mewajibkan orang tua untuk menunaikan hak-hak anak dengan penuh amanah. Kedurhakaan bukan hanya milik anak.
Menjadi orang tua yang adil, penuh kasih, dan bertanggung jawab adalah ibadah panjang yang pahalanya mengalir sepanjang hayat. Dan sebagai pengingat bahwa masih banyak anak di luar sana yang bahkan tidak punya orang tua untuk menyayangi mereka, salurkan kepedulian melalui Rumah Zakat untuk anak-anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan kasih sayang dan dukungan nyata.

