PAKU DI HATI

Oleh: Heru Saputra

Pada suatu masa, hidup seorang anak yang sangat pemarah. Hal-hal sepele bisa menjadikannya naik pitam. Namun, beruntung anak itu ia memiliki seorang bapak yang sangat bijaksana. Suatu hari, sang bapak memberikan anak itu sekarung paku. Bapak itu meminta agar anaknya melampiaskan kemarahannya dengan memakukan  satu paku ke tembok belakang rumah. Satu paku untuk setiap satu kemarahan.

Hari pertama pun dilalui. Hari itu sang anak marah sebanyak 35 kali. Sebagai konsekwensinya, anak itu harus memasang 35 paku di tembok belakang rumah. Hari demi hari pun berlalu, dan terapi ini mulai berjalan lancar. Setiap hari, jumlah paku yang ditanamkan ke tembok itu semakin berkurang, dari 35 menjadi 30, menjadi 23 dan seterusnya. Bahkan setelah hari keseratus, anak itu sudah sama sekali tidak menanamkan paku ke tembok. Dengan gembira anak itu mengabarkan kepada bapaknya, bahwa sekarang ia lebih dewasa dan dapat mengendalikan emosinya.

Sang bapak langsung memeluk anak itu, dan mengucapkan selamat kepadanya. “Masih ada satu tahap lagi, nak” kata bapak itu. “Mulai sekarang, cabutlah satu paku dari tembok setiap saat kamu dapat bersabar dan memaafkan orang yang membuatmu marah.” Anak itu pun segera menuruti perintah bapaknya. Setiap kali ia dapat bersabar dan memaafkan kesalahan orang, ia mencabut satu paku dari tembok. Hari demi hari pun berlalu, hingga tiba saat ratusan paku di tembok tersebut telah habis dicabut.

Anak itu pun kembali pada bapaknya, dan melaporkan keberhasilannya tersebut. “Kamu telah berhasil nak. Kamu telah menjadi seorang anak yang luar biasa.” Bapak itu melanjutkan, “Tetapi coba amati sekali lagi tembok itu”.

Sambil mengelus lubang-lubang bekas paku di tembok, bapak itu kembali melanjutkan kata-katanya. “Lihatlah tembok ini, sekalipun kamu sudah mencabut seluruh paku yang ada, tetapi tembok tidak dapat kembali utuh lagi seperti sedia kala, banyak sekali lubang menganga dan retakan di tembok ini.” Bapak itu kemudian melanjutkan, “Setiap kamu melukai orang lain, selamanya kamu tidak akan dapat menghapuskan luka itu sekalipun kamu sudah meminta maaf dan mencabut semua kemarahan dari orang-orang sekitarmu.”

Tags :
Konfirmasi Donasi