PROGRAM RONA NUSANTARA DARI RUMAH ZAKAT MEMASUKI ANGKATAN 17

MOJOKERTO. Program Rona Nusantara dari Rumah Zakat telah dilaksanakan kembali. Memasuki angkatan 17 peserta Program Rona Nusantara berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Acara ini berlangsung selama tiga hari. Dimulai dari hari Jum’at tanggal 9 November 2018 hingga hari Ahad tanggal 11 November 2018. Acara yang berlansung terasa istimewa karena bertepatan dengan hari pahlawan.

Jumlah peserta yang mengikuti Program Rona Nusantara ini sebanyak 16 orang. Perona adalah sebutan untuk para peserta Rona Nusantara, mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari daerah Bogor, Lampung, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Wonogiri, Magetan, Probolinggo, Jember, dan Malang.

Bertempat di Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto mereka melaksanakan aksi sosial. Aksi sosial yang berlangsung selama satu hari penuh dimulai dengan senam pagi bersama lansia. Kemudian dilanjutkan dengan acara bakti pendidikan di Sekolah Luar Biasa dan Madrasah Ibtidaiyah. Tidak hanya itu, perona juga diajak untuk melaksanakan kegiatan industri kreatif kerajinan eceng gondok, hingga bakti lingkungan.
Bakti Lingkungan berupa penyediaan tempat sampah dan pemberian bibit sayur untuk kebutuhan gizi warga desa.

Pada malam harinya, Rumah Zakat bersama fasilitator kesehatan dari Cita Sehat Foundation Surabaya mengadakan cek kesehatan gratis yaitu cek gula darah, asam urat dan kolesterol. Sementara itu, kegiatan para perona mengajak warga menyaksikan film bertema pahlawan. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama, sekaligus penyaluran Superqurban.

Desa Kemlagi adalah salah satu Desa Berdaya binaan Rumah Zakat. Oleh karena itu Desa Kemlagi dipilih sebagai lokasi krgiatan Program Rona Nusantara angkatan 17 ini. Bapak Fathoni, selaku Relawan Inspirasi mengaku bersyukur program-program Rumah Zakat dapat didukung dan diterima oleh warga Desa Kemlagi.

“Alasan lainnya, karena di sini juga kita bisa belajar dari para pahlawan masyarakat, seperti pahlawan pendidikan, yakni para guru di SLB dan MI, serta pahlawan UMKM yaitu Pak Suliadi yang mengembangkan kerajinan dari eceng gondok hingga bernilai ekonomi.” ujar Niko, Ketua Pelaksana Rona Nusantara Angkatan 17 .

“Begitu pula dengan para perona, mereka juga pahlawan masa kini yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbagi kebahagiaan dan menebar kebaikan kepada sesama,” tambah Niko.

Kegiatan hari terakhir para perona meninggalkan Desa Kemlagi dan menuju Trowulan untuk Traveling. Konsep Traveling kali ini juga mengangkat tema pahlawan. Jika di Desa Kemlagi ada pak Suliadi sebagai pahlawan UMKM, maka di Trowulan para peserta diajak berkenalan dengan Pak Supriyadi sebagai pahlawan pariwisata. Pak Supriyadi adalah seorang seniman patung yang telah mendapatkan penghargaan upakarti. Beliau menegaskan bahwa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain, salah satu caranya melalui budaya dan pariwisata.

Para perona pun berkeliling kampung Majapahit dengan menggunakan bendi sembari menikmati nuansa rumah-rumah Majapahit tempo dulu.

Mereka juga berkesempatan untuk belajar membuat batik tulis sekaligus mewarnai.  Karya batik yang dibuat dibawa pulang sebagai cinderamata. Selanjutnya, para perona diajak untuk mengenal lebih dekat sejarah Majapahit secara langsung di salah satu situsnya yang berada di kawasan Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Unit Pusat Informasi Majapahit. Kantor BPCB Unit PIM ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai museum Trowulan.

Kebahagiaan para perona tergambar dari postingan di Instagram mereka.

”Senam pagi, bagi2 kornet dari rumah zakat, ke SLB, ke MI, mengunjungi produsen kerajinan dari eceng gondok, bersih lingkungan, kebun gizi, bioskop desa, makan bersama. Dilakukan dalam 1 hari. Sepadet dan sebahagia itu. Lagi-lagi bahagia itu sederhana. Lagi-lagi senang melihat orang lain senang,” tulis Humai, perona dari Bogor, di akun Instagram miliknya.

“Sangat beruntung bisa mendapat kesempatan menenun helaian benang dari orang-orang hebat seperti kalian. Terimakasih atas kesempatan, pengalaman, motivasi dan doanya kakak kakak. Bersyukur bisa jadi bagian dari Rona Nusantara 17,” tulis Asti, perona termuda yang masih duduk di bangku SMA, asal Magetan.

“Rona Nusantara benar-benar memberikan pengalaman dan pembelajaran bagaimana berbagi dan jalan-jalan yang bermanfaat,” tulis Samsul Bahri, perona asal Lampung.

Newsroom
Silvia Zakiah Itsnaini

Tags :
Konfirmasi Donasi