SAHABAT BERTANGAN EMAS

Oleh: Titin Titan
“Sesungguhnya aku takut tertahan untuk berjumpa sahabat-sahabatku karena banyaknya harta yang aku miliki,” laki-laki bersahaja tersebut berkata-kata sambil mengeluarkan air mata. Nafasnya satu-satu, tapi wajahnya berbinar penuh cahaya, seolah siap menjemput janji yang disebutkan-Nya dalam QS. Al Baqarah 262,

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Namanya Abdurrahman bin Auf, demikian Rasulullah SAW memberikan nama padanya setelah masuk Islam, tepat dua hari setelah keislaman Abu bakar. Seorang sahabat yang terkenal dengan segala keshalehan, kekayaan serta kedermawanannya. Pada masa Jahiliah ia dipanggil Abdu Amru, keturunan Bani Zuhrah yang terlahir 10 tahun sebelum tahun gajah. Berkulit putih, berhidung mancung serta panjang rambutnya hingga menutupi kedua telinga.

Ia masuk ke dalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga juga enam orang yang ditunjuk untuk menggantikan Khalifah Umar Al Faruq, meski akhirnya ia memilih mundur dan berkata, “Demi Allah, mata anak panah diambil lalu diletakkan di kerongkonganku, kemudian diteruskan ke sisi lainnya, lebih aku sukai daripada menjadi khalifah.”

Saat terjadi perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan agar kaum Muslimin mengorbankan harta benda mereka. Abdurrahman Bin Auf pun dengan segera memenuhi seruan Rasulullah SAW dengan memberikan 200 uqiyah emas. Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW,

”Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun buat keluarganya.”

Kemudian Rasul bertanya kepada Abdurrahman bin Auf, “Apa kau meninggalkan uang belanja untuk istri dan anakmu?”

“Ya, mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik dari yang kusumbangkan.”

“Berapa,” tanya Rasululullah kembali.

“Sebanyak rezeki kebaikan dan pahala yang Allah janjikan.”

Saat berada di arena peperangan Tabuk, di sinilah Allah memuliakan Abdurrahman Bin Auf dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh oleh siapapun. Saat waktu shalat tiba, Abdurrahman Bin Auf menjadi imam karena Rasulullah terlambat datang. Sehingga ketika Rasulullah datang setelah rakaat pertama, beliau menjadi makmum Abdurrahman Bin Auf. Sungguh tak ada yang lebih utama daripada menjadi iman dari Rasulullah SAW, pemimpin umat dan para nabi.

Ia pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar, dan hasil penjualan tersebut ia bagikan semua ke keluarganya Bani Zurrah, kepada Ummahatul Mukminin juga kepada fakir miskin dan kaum Muslimin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman Bin Auf yang kemudian menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin. Dia bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebtuhan dan juga mengadakan pengawalan ketika mereka bepergian.

Ia meninggalkan kekayaan sebesar 2.560.000 dinar. Semasa hidup ia juga pernah menyumbangkan seluruh barang dagangan yang dibawa oleh 700 unta kepada penduduk Madinah, menyantuni tak kurang 100 orang veteran badar yang masih hidup sebesar 400 dinar per orang. Selain itu ia juga telah menyumbang dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham (sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai +/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda, dan 1500 ekor unta.

Meski begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun ia masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri).

Ketika Abdurrahman Bin Auf meninggal, Utsman bin Affan r.a berkata, “Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan dan penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya, karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampaikan dan berikan kepada mereka.”

Ummahatul Mukminin Aisyah r.a. ingin memberikan penghargaan yang istimewa yaitu dengan memakamkan Abdurrahman Bin Auf di kamarnya di sisi Rasulullah SAW, Abu Bakar seta Umar Bin Khattab, tapi ia merasa malu mengangkat dirinya sampai ke derajat itu, ditambah perjanjiannya dengan sahabatnya Utsman Bin Mazh’un ra.a bahwa siapa di anatarnaya yang meninnggal belakangan, maka akan dikuburkan di dekat sahabatnya.

Abdurrahman Bin Auf, seorang sahabat bertangan emas. Di tangannya harta menjadi berkah yang melimpah. Dengan harta itu pula ia mencapai surga indah-Nya.

Tags :
Konfirmasi Donasi