SD JUARA JAKARTA TIMUR GELAR FESTIVAL DRAMA PALESTINA

JAKARTA. (0SD JUARA JAKARTA TIMUR GELAR FESTIVAL DRAMA PALESTINA8/04), Tak disangka, siswa-siswi kelas 5 yang rata-rata aktif kinestetik, linguistik, dan visual ini memiliki bakat yang luar biasa, terutama dalam berakting. Tahun pelajaran ini, tugas mata pelajaran bahasa Indonesia begitu istimewa dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bu Dwi, Sang Guru bahasa Indonesia menemukan mutiara berkilau di balik keaktifan siswa-siswi kelas 5 SD Juara Cakung dengan meramu metode pembelajaran Kontekstual Teaching Learning.

Festival Drama ini terinspirasi dari mata kuliah Apresiasi Drama yang pernah diajarkan oleh Ibu Helvy Tiana Rosa, sastrawan sekaligus dosen Sastra UNJ sewaktu guru bahasa Indonesia tersebut kuliah.

Awal pembelajaran, sang guru memberikan tantangan kepada siswa-siswi kelas 5 untuk mengadakan Festival Drama. Agar suasana teater lebih hidup, maka diambillah tema Palestina, negeri yang bertahun-tahun dijajah oleh Israel, bahkan kebebesan hidup mereka masih terenggut hingga kini.

“Tentunya, siswa-siswi kelas 5 diberikan pembekalan terlebih dahulu tentang apa saja yang berkaitan dengan drama. Mulai dari latihan olah vokal dengan pernapasan perut agar suara yang dihasilkan saat dialog jelas terdengar hingga latihan ekspresi mimik wajah. Selain itu, secara berkelompok, mereka berlatih drama tentang Palestina selama kurang lebih 3 bulan. Meski selama proses pembekalan dan persiapan drama terdapat kendala, seperti adanya siswi yang memerankan tokoh utama (Nasya sebagai Maryam) sakit, tak surut membuat kekompakan mereka redup, malah hal itu dimanfaatkan mereka untuk membuat bendera Palestina dan tiket masuk secara gratis yang diperuntukkan untuk penonton,” jelas Ahmad Kosasi.

Ada 3 kelompok yang terbentuk dan setiap naskah drama yang mereka pentaskan saling terkait sehingga membentuk alur cerita yang memukau.

Kelompok pertama, naskah drama berjudul “Sajadah Kusam untuk Maryam” yang diperankan siswi kelas 5 bercerita tentang seorang anak perempuan keturunan Palestina yang orang tuanya syahid dan ia dilarikan ke Indonesia, diasuh oleh nenek angkatnya. Meski kehidupannya sederhana sebab ia berjualan telur dan kardus bekas, ia tetap ceria dan giat bersekolah. Maryam dikenal pula sebagai anak yang berprestasi. Suatu hari ia bercita-cita ingin memiliki sajadah agar ia bisa shalat di mana saja meski tempat kehidupannya kotor penuh dengan kardus bekas yang ia kumpulkan. Ternyata, Bu Sarni memberikannya sajadah yang kusam, namun Maryam amat senang, akhirnya ia bisa shalat dengan nyaman. Tiba-tiba di tengah jalan, ia melihat anak kecil yang akan tertabrak motor, Maryam pun menyelamatkannya, namun Maryam tak bernyawa lagi. Anak kecil yang bernama Azizah itu pun teringat jasa Maryam hingga ia beranjak remaja, Azizah bertekad membalas jasa Maryam dengan melakukan penggalangan dana untuk Palestina.

Suatu hari negeri Palestina berduka kembali. Kedukaan negeri Palestina diperankan oleh kelompok siswa laki-laki kelas 5 dengan naskah drama yang berjudul “Intifadhoh Palestina,” tentunya setting drama ini menggunakan setting negeri Palestina yang dibumbui instrumen musik menyayat hati. Inilah alur drama yang penuh dengan konflik menegangkan, hingga siswa-siswi kelas lain sangat berantusias menonton drama tersebut. Berkisah tentang Abi Akmal yang tertangkap Israel ketika ia sedang makan bersama ketiga putranya di pelataran reruntuhan rumahnya. “Duaaarrr!” suara desingan bom dan tembakan dari tentara Israel laknatullah. Mereka menangkap, menyeret, dan memisahkan Abi Akmal (diperankan Alwan) dengan anak-anaknya.
Peristiwa itu membuat luka mendalam bagi putra-putranya, terutama Yahya yang meski usianya masih belia, bertekad berjuang bersama kelompok pejuang Hamas. Akhir cerita, Abu Akmal melarikan diri dan menemui kedua putranya, rasa rindu yang teramat ia tumpahkan hanya sesaat sebab peluru begitu melesat cepat di tubuhnya. Tentara Israel yang berhasil menembak Abi Akmal tiba-tiba mendapat perlawanan dari pejuang Hamas Muda, Yahya. Anak kecil itu berhasil mengalahkan tentara Israel. Abi Akmal pun wafat dan Ahmad, adik Yahya membacakan puisi. Saat puisi itu dibacakan diiringi instrumen musik dan video Palestina para penonton berlinang air mata.

Tiba akhirnya kelompok ketiga berperan, mereka memerankan naskah drama berjudul “Penggalangan Dana Palestina” yang dibuat langsung oleh Sahla. Azizah mengajak teman-temannya, donatur, dan penonton menyisihkan rezekinya untuk Palestina.

Setelah pertunjukan drama selesai dan layar panggung dibuka, para siswa kelas 5 sudah berdiri di panggung drama dan mengajak penonton mengibarkan bendera Palestina sembari menyanyikan lagu Maher Zein berjudul “Palestine, Will be Free”. Setelah itu, penonton keluar teater sembari memasukkan infak untuk Palestina di kotak amal. Alhamdulillah, ternyata dana yang terkumpul sebanyak Rp 721.000,-. Infak ini juga melibatkan seluruh dewan guru.***

Newroom/Ahmad Kosasi
Jakarta

Tags :
Konfirmasi Donasi