[:ID]SEKOLAH PETANI DI DESA BERDAYA MEKARMANIK, KAB. BANDUNG[:en]FARMER SCHOOL IN MEKARMANIK, RUMAH ZAKAT’S BUILT VILLAGE[:]

[:ID]KAB. BANDUNG. Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung adalah salah satu Desa Berdaya binaan Rumah Zakat. Di Desa ini Fasilitator Desa Berdaya tengah melakukan Pemberdayaan Masyarakat dalam bidang pertanian, karena daerah ini memiliki potensi pesawahan yang baik.

Sejak 23 Mei 2018, Aliyudin Fasilitator Desa Berdaya menggulirkan program Sekolah Lapang PHT (Pengendali Hama Terpadu) yaitu sekolah untuk para petani padi. Secara swadaya program ini dijalankan bersama warga dan melibatkan FKP3S (Forum Konsultasi Perencanaan Program Pemberdayaan Sosial) LKSA Al Hikmah Banten dan pemerintah setempat.

Hingga saat ini Sekolah lapang telah berjalan selama 9 pertemuan dari 14 kali pertemuan, jumlah pertemuan ini di sesuaikan dengan musim menanam padi.

Metode belajar yang digunakan adalah belajar lewat pengalaman dengan menitik beratkan kepada metode pendidikan orang dewasa (andragogy), para petani belajar dengan System of Rice Intensification (SRI) langsung dilapangan dan mempraktikannya di sawah – sawah yang mereka tanami.

“Pada awalnya para petani menganggap bahwa semua serangga yang ada di sawah adalah hama sehingga salah dalam mengambil keputusan yakni setiap musim tanam selalu menggunakan racun tanpa mempedulikan efek samping terhadap lingkungan termasuk terhadap kesehatan dirinya sendiri, nah dari sinilah perlunya kita mengedukasi para petani agar tanamannya bisa berkembang. Alhamdulilah respon dari para peserta sangat baik sekalipun sudah berpuluh-puluh tahun mereka bertani ternyata mereka baru tahu bahwa di agroekosistem sawah selain serangga hama juga terdapat musuh alami hama yang tidak sedikit jenis dan populasinya ” ujar Aliyudin

Dalam setiap pertemuan dipandu sedikitnya oleh 2 orang pemandu dari tim FKP3S (Forum Konsultasi Perencanaan Program Pemberdayaan Sosial) LKSA Al Hikmah Banten yang notabene adalah pensiunan pertanian yg berpengalaman menjadi pelatih SLPHT bagi petugas pertanian di wilayah Banten dan Bogor dari tahun 1990-1998 pada Program Nasional PHT Bappenas. Bahkan salah seorang dari pelatih berpengalaman menjadi pelatih di Bangladesh.

Diharapkan setelah sekolah ini para petani dapat membudidayakan tanaman sehat, mampu melakukan pengamatan berkala setiap sepekan sekali terhadap kondisi agroekosistem padi di sawahnya sendiri, memahami unsur – unsur agroekosistem dalam saling keterkaitan antara tanaman, hama, musuh alami hama, tanah air, dan cuaca, bisa membedakan mana serangga hama dan mana serangga musuh alami, dapat mengambil keputusan yang benar apakah perlu penggunaan racun atau tidak di sawahnya sendiri.

“Setelah selesai sekolah lapangan PHT ini para petani akan terus dipandu untuk melakukan kegiatan tindak lanjut dengan studi – studi petani dan materi – materi yang belum dipelajari,” tambah Aliyudin.

Newsroom
Dani Suhardi / Lailatul Istikhomah[:en]KAB. BANDUNG. Mekarmanik Village, Cimenyan District Bandung Regency is one of Empowered Village built by Rumah Zakat. In this village, Empowered Village Facilitator is conducting Community Empowerment in agriculture, because this area has good potential of paddy field.

Since May 23rd, 2018, Aliyudin Village Facilitator has rolled out the Field School Program of IPM (Integrated Pest Control) which is a school for rice farmers. The program is self-help and involves the FKP3S (LKSA Al Hikmah Banten Social Resource Planning Forum) and the local government. Until now the Field School has been running for 9 meetings from 14 meetings, the number of this meeting is adjusted with the rice growing season.

The learning method used is learning through experience by focusing on adult education methods (andragogy), farmers study with System of Rice Intensification (SRI) directly in the field and practice it in the paddy fields they plant.

“At first the farmers assume that all the insects in the rice field is a pest that it is wrong in making a decision that every planting season always uses toxins regardless of side effects on the environment including on his own health, well this is where we need to educate the farmers so that the plants develop well. Alhamdulilah response from the participants is very good even though for decades they farm it turns out they just know that in agro-ecosystem rice other than insect pests there are also natural enemies of pests that is great in population” said Aliyudin

In each meeting guided by at least 2 guides from the FKP3S team (LKSA Al Hikmah Banten Social Development Planning Forum) who is actually a retired farmer who has been an experienced SLPHT trainer for agricultural officers in Banten and Bogor areas from 1990-1998 in the National Program IPM Bappenas. Even one of the experienced trainers has become a trainer in Bangladesh.

It is expected that after this school the farmers can cultivate healthy plants, able to make periodic observations once a week on the condition of rice agro-ecosystem in his own rice field, understand the elements of agro-ecosystem in interconnectedness between plants, pests, natural enemies of pests, homeland, and weather, distinguish which insect pests and enemies of natural enemies, can make the correct decision whether to use poison or not in their own fields.

“After completion of PHT field schools, farmers will continue to be guided to follow-up activities with farmer studies and materials that have not been studied,” Aliyudin added.

Newsroom

Dani Suhardi / Lailatul Istikhomah[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia