TOPONIMI ISTANBUL

Istanbul, yang kini menjadi salah satu ikon paling penting di Turki, memiliki segudang keunikan. Kota ini tidak hanya memainkan peran sebagai ‘jembatan’ antara peradaban Timur dan Barat, tetapi juga menyimpan kekayaan warisan budaya dari masa lampau.

Menurut catatan sejarah yang dilansir dari Mvlim.com, kota ini telah mengalami pergantian nama sebanyak tiga kali. Dimulai dari 657 SM, Istanbul yang ketika itu menjadi koloni Yunani dikenal dengan sebutan Bizantium. Toponimi itu diambil dari nama tokoh mitologis Yunani kuno, Raja Byzas.

Sepuluh abad berikutnya, Bizantium menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur dan diganti namanya dengan Konstantinopolis (Konstantinopel). Toponimi itu sendiri diambil dari nama Kaisar Konstantinus I yang memerintah Romawi Timur antara 306–337.

Ketika Sultan Muhammad II al-Fatih dari Dinasti Utsmaniyah menaklukkan Konstanti no pel pada pertengahan abad ke-15 silam, ia tidak pernah mengubah nama kota itu se cara resmi. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat Muslim Utsmaniyah sering menyebut Konstantinopel dengan Islambol (yang berarti ‘Kota Islam’). Pada 1930, barulah kota ini berganti nama secara resmi menjadi Istanbul—berasal dari ungkapan bahasa Yunani ‘es tein polin’ yang ber makna ‘di dalam kota’.

Istanbul memiliki dua fase penting dalam sejarahnya. Fase pertama adalah ketika kota ini menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi Timur (330– 1453). Sementara, fase kedua adalah saat ia menjadi ibu kota Kesultanan Utsmaniyah (1453–1922).

Masa Kekaisaran Romawi Timur Sejak zaman kuno, Istanbul selalu dianggap sebagai kota yang sangat stra tegis karena lokasinya yang membentang di dua benua, yaitu Asia dan Eropa. Meski demikian, kota ini baru mencapai puncak kemegahan untuk pertama kali nya ketika Kaisar Kon stantinus I menjadikannya sebagai ibu kota Romawi Timur pada 330.

Setelah resmi memisahkan diri dari Ke kaisaran Romawi Barat pada 395, Ke kaisaran Romawi Timur—yang kelak juga dikenal dengan nama Kekaisaran Bi zantium—tumbuh menjadi negara Kristen dengan identitas Yunani yang kuat. Di bawah pemerintahan Kaisar Justinian I (527–565), sejumlah maha karya arsitektur dibangun di Kon stan tinopel. Salah satunya adalah Hagia So phia yang terkenal itu (didirikan pada 537).

Selama periode Abad Pertengahan, Konstantinopel terus menjadi kota kosmopolitan utama di kawasan Mediterania. Akan tetapi, aksi penjarahan oleh para tentara Kristen Eropa pada masa Perang Salib Keempat (1202–1204) menyebabkan sebagian kota ini menjadi porak poranda.

Ketika pasukan Kekaisaran Bizantium berhasil merebut kembali Konstantinopel pada 1261, mereka mendapati kota ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sekitar dua abad berikutnya, Konstantinopel akhir nya jatuh ke tangan kaum Muslim, setelah ditaklukkan oleh Sultan Muhammad II al-Fatih dari Utsmaniyah pada 1453.

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi