WAKTU, PERUBAHAN DAN RAMADHAN

Oleh Aan Sopiyan
Rumah Zakat-Bandung

Ternyata tidak hanya manusia saja yang menganggap waktu adalah sesuatu yang penting. Semesta raya yang terikat dengan waktu pun membuat setiap sendi pengisinya terikat dengan waktu. Tetumbuhan dan binatang, ritme hidupnya memperkirakan pergantian waktu. Mereka memperkirakan kapan pagi menjelang, malam menyongsong, musim dingin menyerang, atau musim panas merongrong. “Hmm .. apa sebenarnya waktu itu?”.

Waktu tak bisa dilihat. Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun hingga abad hanyalah simbol, bukan wujud dari waktu. Yang kita rasakan hanyalah lama dan sebentar, itu adalah pengertian tentang waktu, namun sadarkah kita bahwa waktu terus berlalu? Dan waktu pun terus berjalan dengan atau tanpa kejadian? Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi adalah juga tentang waktu. Esensi dari waktu merupakan perubahan atau pergantian. Meski kita tahu bahwa tidak perlu menunggu satu tahun untuk melakukan perubahan-perubahan dalam hidup. Ya, setiap saat adalah perubahan.

“Waktu mengubah segala-galanya kecuali sesuatu hal dalam diri kita, yang selalu kaget dengan perubahan,” Thomas Hardy.

Waktu adalah anugerah. Permasalahannya, bagaimana kita memanfaatkannya sebaik mungkin dan kita tentunya memiliki kemampuan untuk itu. Kuncinya memanfaatkan sebaik mungkin. Momen perubahan tidak hanya ada pada Ramadhan yang sesaat lagi berakhir kemudian menuju lebaran saja atau momen-momen lain yang serupa. Apalagi jika moment tersebut hanya kita gunakan sebagai ajang pelampiasan atas ketidakberdayaan kita atas kegagalan-kegagalan kita di masa lalu. Tak masalah Anda menyulut petasan atau kembang api, tapi yang penting haruslah beriringan dengan pemanfaatan yang lebih baik Anda harusnya berpikir “Apa manfaatnya menyulut petasan atau kembang api?” jika tidak bermanfaat,  seperti kata Hardy di atas, Anda akan selalu kaget dengan perubahan dan selalu menjadi orang yang tak siap atas perubahan. Lakukan revisi besar dalam hidup. Perjalanan hidup seseorang di suatu masa, memang tak menjadi ukuran apapun bahwa ia akan menjadi seperti apa di masa yang lain. Sepotong episode hidup seseorang di suatu waktu, tak pernah menjadi ukuran bahwa ia juga akan menjadi orang yang sama dengan episode hidupnya di masa tertentu.

Kita harus mempunyai waktu untuk segera merespon perubahan-perubahan dalam hidup ini. Merevisi hidup, merupakan perkara besar. Revisi selalu membutuhkan pengorbanan besar, mungkin juga rasa sakit. Ini jika kita harus merevisi dan merubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Termasuk meninggalkan suatu keburukan pada kebaikan, melepas suatu kebiasaan buruk, membuang tradisi buruk yang mungkin sudah dilakukan berulangkali dan kita merasakan kenikmatan sendiri melakukan keburukan itu. Seperti perkataan Muhammad Natsir, “Sejarah telah menunjukkan, tiap-tiap bangsa (atau siapapun) yang telah menempuh ujian hidup yang sakit dan pedih, tapi tidak putus bergiat menentang marabahaya, berpuluh, bahkan beratus tahun lamanya, pada satu masa akan mencapai satu tingkat kebudayaan yang sanggup memberikan penerangan kepada bangsa lain.”

Betapa banyak orang yang tidak cenderung mau memeriksa perjalanannya lalu merevisi hidupnya. Sampai hidupnya perlahan terus digerogoti usia, sampai jasadnya terus menerus dimakan waktu yang tak pernah berhenti. Hingga akhirnya, ia tak mampu lagi melakukan perubahan yang berarti karena renta, atau karena usianya yang memang sudah selesai waktunya, Betapa banyak diantara kita yang tidak peduli dengan perguliran waktu, dan membiarkan hidupnya berjalan seperti air, tanpa target, tanpa rencana, tanpa tujuan yang jelas. Hingga hidupnya terjebak pada situasi yang tak memungkinkannya lagi untuk merubah arah. Betapa banyak di antara kita yang membiarkan kehidupannya berlalu dengan produktivitas kebaikan yang rendah, sementara orang-orang lain telah memiliki saham kebaikan di mana-mana. Hidupnya berlalu dan berakhir begitu saja.

Hidup terlalu mahal untuk dibiarkan mengalir seperti air. Apalagi jika kita menyadari, air selalu berbentuk seperti wadahnya, lalu jika wadahnya kemaksiatan, apakah kita rela terbentuk olehnya? Air juga mengikuti hukum gravitasi, ia akan turun, mencari tempat ke bawah, apakah kita mau terus-menerus turun? Hidup harus direncanakan, diarahkan dan dipelihara sedemikian rupa agar tujuan hidup benar-benar tercapai. Hidup harus pula direvisi, dibenahi, dirubah jika perlu dan memang harus mengalami perubahan. Agar hidup ini bisa seiring sejalan dengan semakin bertambahnya amal-amal shalih yang menjadi alurnya. Seperti apa yang dikatakan Utsman bin Affan RA, “Tak ada kecintaan padaku pada perguliran hari dan malam, kecuali aku menemui Allah dengan membaca Mushaf.”
 
Mari, kita menghisab diri kita masing-masing. Perlukah kita merivisi hidup kita untuk mencapai tujuan hidup kita yang paling hakiki? Jika harus, bersegeralah, jangan tunda-tunda, jangan tunggu Ramadhan berikutnya!

Tags :
Konfirmasi Donasi