ATAS NAMA CINTA

Oleh: Titin Titan

“Wahai Ibrahim, kenapa kau tinggalkan kami di sini?” Perempuan itu bertanya penuh keheranan. Yang ditanya terdiam tak mampu menjawab. Ada genangan di mata tuanya.

“Kenapa kau tinggalkan kami, hai Ibrahim?” masih dengan pertanyaan yang sama, perempuan itu mengejar langkah Ibrahim.

“Kenapa, wahai Ibrahim?” Ibrahim masih saja terdiam, ia tak mampu memberikan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan istrinya. Ada banyak rasa yang tersimpan di hatinya. Tentang istri, anak yang telah lama diidam-idamkan, juga perintah Allah yang tak mungkin ia abaikan.

“Apakah ini perintah dari Allah?” tiba-tiba pertanyaan itu mengagetkan Ibrahim.
“Iya, ini perintah Allah,” jawabnya.
“Jika ini perintah Allah, maka Dia tidak akan sekali-kali menyia-nyiakan kami.”

Sang suami pun bergegas pergi. Tak terselip keraguan di hatinya, sebab ia percaya Allah yang Maha Rahman dan Rahim akan senantiasa menyayangi istri dan anaknya. Dia yang memerintahnya, maka Dia pula yang akan memenuhi segala kebutuhan mereka. Ia yakin sepenuhnya, Hajar, perempuan yang menjadi istri keduanya beserta Ismail anaknya berada pada sebaik-baik penjagaan dan perlindungan.

Mata lelaki yang seharusnya sudah menimang cucu itu masih berkaca-kaca, mengingat semua doa dan permohonannya tentang keturunan. Kini saat uban itu telah memenuhi rambut, ternyata istrinya mengandung dan melahirkan. Namun bersamaan itu pula datang perintah untuk meninggalkan mereka di tempat yang asing sama-sekali. Sisi manusiawinya berontak, tapi nuraninya yang bening tak dapat menolak perintah Tuhannya. Dia hanya bisa berdoa,

“Ya Tuhan kamu, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturuanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Sementara itu Hajar yang ditinggal bersama bayi merah yang belum bisa apa-apa hanya bisa bepasrah. Berhari-hari mereka bertahan, hingga akhirnya keringlah air susu Hajar. Iapun kebingungan mencari air untuk anaknya. Dia berlari-lari mencari sumber mata air di hamparan tanah kosong yang kelak menjadi sejarah besar bagi umat Muslim.

Hajar pergi ke bukit Safa, berharap menemukan sumber kehidupan di sana. Berkali-kali ia melihat bayangan air, tapi ketika didekati semua yang ia lihat hanya fatamorgana. Dari bukit Safa ia melihat bayangan mata air di bukit Marwah, ketika didekati ternyata bayangan tersebut juga fatamorgana di tengah teriknya matahari. Hal tersebut berlangsung hingga Hajar bolak-balik berlari sebanyak tujuh kali. Peristiwa itulah yang kemudian diabadikan sebagai ibadah Sa’i. Yaitu lari-lari kecil sebanyak tujuh kali mengelilingi Safa dan Marwah.

Ismail tumbuh sehat layaknya anak kebanyakan yang tumbuh bersama orang tua lengkap serta fasilitas hidup mudah. Hingga suatu hari Ibrahim mendatanginya demi menjalankan perintah Allah. Ia berkata kepada Ismail, “Ismail, aku bermimpi seolah-olah menyembelihmu, bagaimana menurutmu?”

Ismail yang telah tumbuh menjadi anak yang shaleh tanpa ragu menjawab, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua tanggalkanlah pakaianku agar tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibu, berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghibur dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan.”

Kemudian Ibrahim memeluk Ismail dengan erat. Merasakan kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa, dikaruniai putra yang shaleh dan tata pada Allah.

Sebuah fragmen sempurna dari pengabdian hamba pada sesembahan-Nya. Ketaatan tanpa ragu akan janji bahagia kelak di surga. Sebuah keluarga tauladan dengan cerita abadi sepanjang masa, sebab dari merekalah semua prosesi haji yang dikenal hingga kini berasal.

Ibrahim yang hanif, bapak para nabi, telah melakukan contoh pengorbanan yang luar biasa. Dia salah satu Rasul Allah yang namanya diabadikan dalam salah satu surat di Al Qur’an. Ruang manusiawi tentu ada, namun mereka tak banyak menggunakan ruangan itu untuk berpikir meringankan beban diri dan menggugat Allah untuk segala perintah yang ada.

Sebab cinta tak akan berhenti pada kata memberi. Dia akan terus mencari celah menuju yang dicinta, apapun caranya. Atas nama cinta mereka menyediakan seluas-luasnya ruang ketataan pada perintah Allah. Atas nama cinta, maka pengorbanan menjadi manis terasa.

Jika begitu berat bukti cinta yang diminta Allah kepada keluarga Ibrahim, adakah yang kita lakukan setiap hari layak disebut pengorbanan untuk-Nya? []

Tags :
Konfirmasi Donasi