Setiap menjelang bulan Muharram, dua nama ini selalu disebut bersamaan: puasa Tasua dan puasa Asyura. Sering disandingkan, sering dianggap mirip, tapi sebenarnya keduanya punya kedudukan dan sejarah yang berbeda dalam syariat Islam.
Banyak yang bertanya, kalau hanya bisa puasa satu hari saja, mana yang sebaiknya dipilih? Pertanyaan ini sangat wajar muncul, apalagi keduanya sama-sama membawa keutamaan yang luar biasa di bulan yang dimuliakan Allah ini.
Nah, Rumah Zakat akan membahas perbedaan puasa Tasua dan Asyura secara lengkap, beserta jawaban tentang mana yang lebih utama berdasarkan dalil yang shahih. Yuk, simak terus!
Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura?
Sebelum membandingkan keduanya, penting untuk memahami dulu definisi dan tanggal pelaksanaan masing-masing puasa ini secara tepat.
Pengertian dan Tanggal Pelaksanaan
Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sementara puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Keduanya berurutan dan sering dikerjakan secara berkesinambungan oleh banyak Muslim.
Asyura sendiri sudah dikenal sejak sebelum masa kenabian. Bahkan kaum Quraisy di masa jahiliyah dan kaum Yahudi di Madinah sudah memiliki tradisi berpuasa di hari ini, jauh sebelum Rasulullah SAW menetapkannya sebagai amalan sunnah dalam Islam.
Asal Usul Penamaan Kedua Puasa Ini
Nama “Asyura” berasal dari kata asyarah yang berarti sepuluh, merujuk pada tanggal 10 Muharram. Sementara “Tasua” berasal dari kata tis’ah yang berarti sembilan, merujuk pada tanggal 9 Muharram.
Penamaan ini sangat sederhana dan langsung merujuk pada urutan tanggal di kalender Hijriah, tanpa makna simbolis tambahan di baliknya.
Baca Juga: Amalan di Bulan Muharram yang Sering Dianggap Sunnah Padahal Tidak Ada Dalilnya
Perbedaan Puasa Tasua dan Asyura
Meski sering disandingkan, ada beberapa perbedaan mendasar antara kedua puasa ini yang penting untuk dipahami.
Berikut tabel perbandingannya:
| Aspek | Puasa Tasua | Puasa Asyura |
|---|---|---|
| Tanggal | 9 Muharram | 10 Muharram |
| Asal kata | Tis’ah (sembilan) | Asyarah (sepuluh) |
| Sejarah | Ditetapkan Rasulullah SAW sebagai pelengkap | Sudah dikenal sejak zaman jahiliyah dan Yahudi |
| Tujuan utama | Menyelisihi tradisi Yahudi | Menghapus dosa setahun sebelumnya |
| Status hukum | Sunnah | Sunnah, lebih utama |
| Dalil utama | HR. Muslim | HR. Bukhari dan Muslim |
Perbedaan paling mencolok ada pada sejarahnya. Asyura sudah ada jauh sebelum Islam datang, sementara Tasua justru ditetapkan Rasulullah SAW belakangan sebagai pembeda dari praktik kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari kesepuluh saja.
Mana yang Lebih Utama?
Setelah memahami perbedaannya, pertanyaan yang paling sering muncul akhirnya bisa dijawab dengan lebih jelas berdasarkan dalil yang ada.
Keutamaan Masing-Masing Berdasarkan Hadis
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar dan disebutkan langsung oleh Rasulullah SAW:
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)
Sementara puasa Tasua, meski tidak memiliki keutamaan penghapus dosa secara khusus, punya kedudukan penting sebagai bentuk kehati hatian Rasulullah SAW. Beliau bersabda menjelang wafatnya:
“Sungguh, jika aku masih hidup tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasua).” (HR. Muslim)
Berdasarkan kedua hadis ini, Asyura adalah puasa yang lebih utama karena memiliki keutamaan penghapus dosa yang sangat besar, sementara Tasua berfungsi sebagai penyempurna dan pembeda dari tradisi sebelumnya.
Bolehkah Hanya Mengerjakan Salah Satunya?
Tentu boleh. Jika hanya mampu mengerjakan satu hari saja, dahulukan puasa Asyura karena keutamaannya yang lebih besar dan dalilnya yang lebih tegas tentang penghapusan dosa.
Namun jika memungkinkan, mengerjakan keduanya secara berurutan adalah yang paling sempurna dan paling sesuai dengan apa yang diinginkan Rasulullah SAW, sebagaimana tergambar dari hadis beliau yang berniat berpuasa di hari kesembilan sebagai pelengkap.
Baca Juga: Yuk Berbagi di Bulan Muharram Melalui Sedekah Yatim
Kesimpulan
Jadi, puasa Tasua dan Asyura memang berbeda dari sisi sejarah dan keutamaan, tapi keduanya sama sama membawa nilai ibadah yang besar di bulan Muharram.
Dan, jika harus memilih satu, Asyura lebih diutamakan, namun mengerjakan keduanya tetap menjadi pilihan paling sempurna.
Jadikan dua hari istimewa ini sebagai momentum memperbanyak amal kebaikan, tidak hanya melalui puasa tapi juga dengan berbagi kepada sesama.
Yuk, salurkan kebaikan melalui Rumah Zakat di hari hari penuh berkah ini agar pahala puasa semakin lengkap dengan pahala berbagi kepada yang membutuhkan.

