Amalan di Bulan Muharram yang Sering Dianggap Sunnah Padahal Tidak Ada Dalilnya

oleh | Jun 15, 2026 | Inspirasi

Setiap kali Muharram tiba, berbagai amalan mulai beredar di media sosial, grup WhatsApp, dan ceramah-ceramah, mulai dari doa khusus awal tahun, amalan tertentu di malam satu Muharram, hingga ritual-ritual yang diyakini membawa keberkahan sepanjang tahun.

Yang jadi masalah adalah tidak semua yang beredar itu punya dasar yang kuat dalam Al-Qur’an atau hadis shahih. Dan dalam Islam, mengerjakan ibadah yang tidak ada dalilnya bukan sekadar sia-sia, tapi bisa masuk kategori bid’ah yang harus dijauhi.

Na, Rumah Zakat akan membahas amalan-amalan di bulan Muharram yang sering dianggap sunnah padahal tidak memiliki dalil yang shahih, lengkap dengan amalan yang benar-benar berdasar dan aman untuk dikerjakan.

Pentingnya Dalil dalam Setiap Amalan

Sebelum membahas amalan mana yang berdalil dan mana yang tidak, penting untuk memahami dulu mengapa dalil itu sangat menentukan dalam Islam, bukan sekadar formalitas akademik.

Prinsip Dasar Ibadah dalam Islam

Dalam fikih Islam, ada kaidah penting yang sangat mendasar: semua ibadah pada dasarnya terlarang kecuali ada dalil yang membolehkan atau memerintahkannya. Berbeda dengan muamalah yang prinsipnya boleh kecuali ada yang melarang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang membuat hal baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah dasar dari penolakan terhadap bid’ah, dan berlaku untuk semua bentuk ibadah, termasuk amalan khusus di bulan Muharram yang tidak ada asalnya dari Nabi SAW.

Bahaya Mengamalkan yang Tidak Berdalil

Ini bukan soal mengecilkan niat baik seseorang. Niatnya mungkin sangat tulus, tapi ibadah yang dilakukan tanpa dalil tetap tidak diterima karena Islam mengajarkan bahwa niat yang baik harus disertai cara yang benar.

Lebih jauh dari itu, mengamalkan yang tidak berdalil dan menyebarkannya kepada orang lain bisa menjadi jalan masuknya amalan-amalan yang terus bertambah tanpa kendali, hingga batas antara sunnah dan bid’ah menjadi kabur di tengah masyarakat.

Baca Juga: Checklist Ibadah Muharram: Persiapan Menyambut Tahun Baru Islam

Amalan di Bulan Muharram yang Tidak Ada Dalilnya

Berikut amalan spesifik yang sering beredar tapi perlu dikritisi secara ilmiah dari perspektif hadis.

Amalan yang Populer tapi Perlu Ditinjau Ulang

Berikut amalan yang sering dianggap sunnah di bulan Muharram tapi tidak memiliki dalil yang shahih:

  • Doa Khusus Akhir dan Awal Tahun Hijriah
    Doa yang sering beredar di media sosial dengan teks Arab panjang yang diklaim dibaca di penghujung dan awal tahun tidak memiliki sumber hadis yang shahih. Syaikh Al-Albani menyebutkan bahwa doa-doa ini tidak ditemukan dalam kitab sunnah yang muktabar.

  • Amalan Malam Satu Muharram Secara Khusus
    Menjadikan malam pergantian tahun Hijriah sebagai malam ibadah istimewa dengan ritual tertentu tidak ada dalilnya; berbeda dengan malam Lailatul Qadr atau malam Jumat yang ada landasan syariatnya.

  • Membuat Kue atau Hidangan Khusus Asyura
    Tradisi membuat bubur Asyura atau hidangan tertentu khusus untuk tanggal 10 Muharram tidak ada dalil shahihnya dari Nabi SAW; ini lebih ke tradisi budaya lokal.

  • Berkumpul Ramai untuk Memperingati Muharram dengan Upacara Tertentu
    Peringatan dengan ritual yang tidak diajarkan Rasulullah SAW tidak ada landasannya, meski niatnya baik.

  • Memperbanyak Sedekah Khusus di Hari Asyura dengan Keyakinan Pahalanya Berlipat dari Hari Biasa
    Keutamaan sedekah di Asyura secara spesifik tidak ada dalil kuat yang mendukungnya.

Bagaimana Para Ulama Menilainya?

Para ulama hadis seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaaif Al-Ma’arif menegaskan bahwa tidak ada amalan khusus yang ditetapkan Rasulullah SAW untuk malam pertama Muharram atau momen pergantian tahun.

Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menyebutkan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan beberapa amalan spesifik di Muharram banyak yang lemah bahkan palsu, dan tidak layak dijadikan landasan ibadah.

Baca Juga: Puasa Ayyamul Bidh Muharram 1447 H, 3 Hari Puasa, Pahala Setahun!

Amalan Muharram yang Benar-Benar Berdasar Dalil Shahih

Setelah mengetahui yang perlu dihindari, penting untuk tahu amalan yang shahih agar Muharram tetap diisi dengan penuh keberkahan yang nyata.

Amalan berikut memiliki dalil yang kuat dan bisa dikerjakan dengan tenang:

  • Puasa Asyura tanggal 10 Muharram – menghapus dosa setahun sebelumnya (HR. Muslim).

  • Puasa Tasu’a tanggal 9 Muharram – dianjurkan bersamaan dengan Asyura agar berbeda dari tradisi Yahudi (HR. Muslim).

  • Memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram – Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai bulan terbaik untuk puasa setelah Ramadan (HR. Muslim).

  • Berdoa kepada Allah dengan doa umum – tidak ada doa khusus yang ditetapkan, tapi berdoa dengan kalimat yang baik dan permohonan yang tulus selalu dianjurkan kapan saja.

  • Muhasabah dan memperbarui niat – bukan sebagai ritual ibadah yang ditetapkan, tapi sebagai sikap hidup yang dianjurkan Islam secara umum.

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim)

Cukup dengan yang shahih ini saja, nilainya sudah sangat besar di sisi Allah.

Kesimpulan

Jadi, mencintai bulan Muharram adalah sesuatu yang baik, tapi mengisinya dengan amalan yang tidak berdalil justru bisa mengurangi nilai ibadah itu sendiri. Yang dibutuhkan bukan semangat yang besar tanpa ilmu, tapi semangat yang besar yang dibimbing oleh dalil yang shahih.

Cukup kerjakan yang sudah pasti: puasa Tasu’a dan Asyura, perbanyak puasa sunnah, dan perbaharui niat untuk menjadi lebih baik.

Dan sebagai wujud nyata dari semangat kebaikan di bulan yang mulia ini, salurkan kebaikan melalui Rumah Zakat agar amalan yang dikerjakan bukan hanya berdampak bagi diri sendiri tapi juga bagi banyak orang yang membutuhkan.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait