Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar muncul setiap kali berita korupsi mengisi headline. Orang dengan jabatan tinggi, gaji besar, dan aset berlimpah, tapi masih juga mengambil yang bukan haknya. Apa yang sebenarnya mendorong seseorang melakukan itu?
Kalau jawabannya soal kebutuhan, itu masih bisa dipahami meski tetap salah. Tapi korupsi yang dilakukan orang kaya raya tidak bisa dijelaskan dengan logika kebutuhan semata. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang mendorong perilaku ini.
Nah, di artikel ini Rumah Zakat membahas akar masalah korupsi yang dilakukan orang kaya dari sudut pandang Islam, mengapa kekayaan tidak otomatis mencegah seseorang korupsi, dan solusi yang Islam tawarkan untuk membentengi diri dari jebakan ini.
Akar Masalah yang Sebenarnya Bukan Soal Uang
Islam sudah mengidentifikasi penyebab perilaku ini jauh sebelum ada kajian psikologi modern yang membahasnya, dan jawabannya bukan tentang jumlah harta tapi tentang kondisi hati.
Penyakit Hati yang Mendorong Korupsi
Islam mengidentifikasi dua penyakit hati utama yang paling banyak mendorong seseorang korupsi meski sudah kaya, yaitu hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan, dan hasad atau tidak ridha melihat orang lain mendapat lebih.
Dua penyakit ini tidak akan sembuh hanya dengan menambah kekayaan karena sumbernya bukan di rekening tapi di hati.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh emas, ia pasti menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam kecuali tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Islam tentang Sifat Tamak
Sifat tamak dalam Islam disebut dengan istilah syuh, yaitu keinginan yang tidak pernah puas dan selalu ingin lebih.
Sifat ini tidak bergantung pada seberapa besar harta yang sudah dimiliki, bahkan seringkali justru semakin menguat seiring bertambahnya kekayaan seseorang.
Allah SWT berfirman:
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang sangat berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)
Baca Juga: Harta Hasil Korupsi, Apakah Masih Bisa Disebut Rezeki?
Mengapa Kekayaan Tidak Otomatis Menghentikan Korupsi?
Ini adalah bagian yang perlu dipahami dengan serius karena banyak yang mengira bahwa orang kaya tidak perlu korupsi padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Ketika Harta Tidak Disertai Rasa Syukur
Orang yang kaya tapi tidak bersyukur akan selalu membandingkan dirinya dengan yang lebih kaya, bukan dengan yang lebih miskin.
Perbandingan ke atas ini menciptakan rasa kurang yang terus-menerus meski hartanya terus bertambah.
Islam mengajarkan bahwa kunci merasa cukup bukan pada jumlah harta tapi pada qanaah yaitu rasa puas dan ridha dengan pemberian Allah.
Tanpa qanaah, seseorang dengan seribu kali lebih banyak harta pun tetap akan merasa miskin secara psikologis.
Godaan Kekuasaan yang Lebih Besar dari Godaan Kemiskinan
Ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian yaitu korupsi tidak selalu tentang uang, tapi juga tentang kekuasaan, status, dan kontrol.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar godaan untuk memanfaatkan posisi itu sebagai sumber keuntungan pribadi.
Para ulama menyebut ini sebagai fitnah jabatan yang bahayanya disebutkan langsung oleh Rasulullah SAW:
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di kandang domba lebih merusak dari kerusakan yang ditimbulkan oleh ambisi seseorang terhadap harta dan kehormatan pada agamanya.” (HR. Tirmidzi)
Baca Juga: Zakat Tapi Korupsi? Bagaimana Hukumnya Ya?
Apa yang Islam Tawarkan sebagai Solusinya?
Islam tidak hanya mendiagnosis masalah, tapi juga menawarkan solusi yang sangat konkret untuk membentengi diri dari jebakan korupsi meski sudah berada di posisi yang sangat berkuasa.
Berikut benteng yang Islam ajarkan untuk melawan penyakit tamak dan godaan korupsi:
- Qanaah atau merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki, karena ini adalah kekayaan sejati yang tidak bisa dicuri oleh apapun.
- Memperbanyak sedekah karena tangan yang terbiasa memberi jauh lebih sulit digunakan untuk mengambil yang bukan haknya.
- Muraqabatullah atau merasa selalu diawasi Allah karena korupsi hanya bisa terjadi ketika seseorang lupa atau tidak peduli bahwa Allah Maha Melihat.
- Bergaul dengan orang-orang saleh yang mengingatkan pada akhirat, bukan yang mendorong gaya hidup konsumtif dan ambisi tak terbatas.
- Membiasakan hisab diri setiap hari dengan mengevaluasi dari mana penghasilan datang dan ke mana digunakan.
- Memperkuat iman pada hari akhir karena keyakinan bahwa setiap rupiah haram akan dimintai pertanggungjawaban adalah benteng paling kuat dari segala godaan.
Kesimpulan
Jadi, orang kaya yang masih korupsi bukan karena butuh uang, tapi karena ada penyakit hati yang tidak pernah diobati. Tamak, lupa bersyukur, dan godaan kekuasaan adalah racun yang terus bekerja tanpa peduli seberapa besar harta yang sudah dimiliki.
Islam memberikan diagnosisnya dengan sangat tepat dan obatnya dengan sangat jelas, yaitu qanaah, muraqabatullah, dan kebiasaan memberi yang melatih hati untuk tidak selalu ingin mengambil.
Dan salah satu cara paling efektif melatih hati agar tidak tamak adalah dengan membiasakan diri berbagi melalui Rumah Zakat karena tangan yang terbiasa memberi adalah hati yang paling terlindung dari godaan mengambil yang bukan haknya.

