Pernah Dengar Larangan Bercermin di Kaca Pecah? Begini Penjelasannya Dalam Islam

oleh | Jun 11, 2026 | Inspirasi

Hampir semua orang pernah mendengarnya, entah dari nenek, orang tua, atau tetangga: “Jangan bercermin di kaca pecah, nanti sial!” Kepercayaan ini begitu melekat di masyarakat sehingga banyak yang menghindarinya tanpa pernah bertanya dari mana asalnya dan apakah ada landasannya dalam Islam.

Di sisi lain, ada juga yang sudah tidak percaya mitos semacam ini tapi tetap merasa sedikit tidak nyaman ketika melihat kaca pecah. Wajar saja, kepercayaan yang sudah tertanam sejak kecil memang butuh waktu untuk dicerna ulang dengan akal dan ilmu.

Nah, RUmah Zakat akan membahas asal usul kepercayaan tersebut, bagaimana Islam memandangnya, dan apa yang seharusnya dilakukan seorang Muslim saat berhadapan dengan mitos semacam ini. Yuk, simak terus!

Dari Mana Asal Larangan Bercermin di Kaca Pecah?

Sebelum bisa menyikapi kepercayaan ini dengan benar, penting untuk melacak dulu dari mana ia berasal, karena memahami akarnya akan membantu menjawab pertanyaan tentang apakah Islam mendukung atau menolaknya.

Apakah Berasal dari Ajaran Islam?

Jawabannya tegas: tidak ada satu pun dalil dalam Al-Qur’an maupun hadis shahih yang melarang bercermin di kaca pecah karena alasan kesialan atau pertanda buruk.

Tidak ada nash yang menyebut kaca pecah sebagai tanda musibah, bencana, atau sesuatu yang harus dihindari. Larangan ini sepenuhnya tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Asal Usul Kepercayaan Ini

Kepercayaan tentang kaca pecah dan kesialan sebenarnya berasal dari tradisi Eropa Kuno, khususnya dari kepercayaan Romawi dan Yunani yang menyatakan bahwa cermin adalah “jiwa” seseorang, dan jika cermin pecah, arwah ikut rusak selama tujuh tahun.

Di Indonesia, kepercayaan ini masuk dan berbaur dengan tradisi lokal lalu diturunkan dari generasi ke generasi tanpa pernah dicek ulang asal usulnya.

Ini adalah contoh klasik dari tradisi yang mengalami sinkretisme budaya dan tanpa sadar dianggap sebagai bagian dari ajaran agama padahal sama sekali bukan.

Baca Juga: Sesuai Syariat! Ketahui Adab-Adab Berpakaian dalam Islam

Pandangan Islam terhadap Mitos dan Kesialan

Islam adalah agama yang sangat jelas dalam menyikapi kepercayaan tentang kesialan, pertanda buruk, dan takhayul. Dan posisinya sangat tegas.

Bagaimana Islam Memandang Pertanda Buruk?

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tiyarah (pesimis karena pertanda), tidak ada burung hantu (pertanda kematian), dan tidak ada kesialan di bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiyarah adalah istilah dalam Islam untuk kepercayaan bahwa suatu benda, peristiwa, atau pertanda bisa membawa kesialan. Dan hadis di atas secara tegas menolaknya.

Bercermin di kaca pecah lalu percaya hal itu akan membawa kesialan adalah bentuk tiyarah yang dilarang dalam Islam, karena keyakinan seperti itu menyandarkan nasib pada benda atau kejadian, bukan kepada Allah.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Seorang Muslim?

Islam tidak melarang berhati-hati terhadap kaca pecah karena alasan keselamatan fisik, itu logis dan bijak. Yang dilarang adalah meyakini bahwa kaca pecah membawa kesialan atau pertanda buruk.

Berikut sikap yang dianjurkan seorang Muslim:

  • Tidak meyakini kaca pecah sebagai pertanda kesialan karena itu termasuk tiyarah yang dilarang

  • Boleh menghindari kaca pecah karena alasan keselamatan, potongan kaca bisa melukai; ini adalah kehati-hatian yang wajar

  • Segera beristighfar jika merasa was-was atau tidak nyaman saat melihat kaca pecah

  • Mengembalikan semua urusan kepada Allah karena hanya Allah yang menentukan baik dan buruknya sesuatu

  • Tidak meneruskan kepercayaan ini kepada anak atau orang sekitar tanpa koreksi yang benar

Adab Bercermin yang Dianjurkan dalam Islam

Islam tidak hanya meluruskan yang salah, tapi juga memberikan panduan yang benar. Ada adab bercermin yang sangat indah yang diajarkan Rasulullah SAW dan sangat dianjurkan untuk diamalkan.

Rasulullah SAW mengajarkan doa saat bercermin yang bisa dibaca setiap hari:

اللَّهُمَّ أَنْتَ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

Allaahumma anta hassanta khalqii fahassin khuluqii

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah pula akhlakku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Doa ini mengajarkan sesuatu yang sangat dalam: bercermin bukan hanya tentang melihat wajah, tapi juga momen untuk berdoa agar akhlak ikut diperindah oleh Allah.

Ini jauh lebih bermakna dari sekadar khawatir tentang kaca pecah dan kesialan yang tidak pernah terbukti secara ilmiah maupun syariat.

Baca Juga: Hati-Hati Sama Sifat Sombong yang Nggak Terasa

Kesimpulan

Jadi, larangan bercermin di kaca pecah karena kesialan tidak memiliki dasar apapun dalam Islam, baik dari Al-Qur’an maupun hadis. Ini adalah kepercayaan yang berasal dari tradisi Eropa Kuno yang masuk dan berbaur dengan budaya lokal, lalu diturunkan tanpa koreksi selama generasi.

Seorang Muslim yang baik tidak meyakini pertanda buruk dari benda atau kejadian apapun, karena hanya Allah yang menentukan nasib seseorang. Alihkan energi dari khawatir tentang kaca pecah menjadi amal nyata yang benar-benar berdampak, seperti berbagi kebaikan melalui Rumah Zakat, karena kebaikan adalah pelindung nyata yang Allah janjikan jauh lebih kuat dari mitos manapun.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait