Nafkah bukan sekadar angka yang ditransfer ke rekening istri setiap bulan. Dalam Islam, nafkah adalah ibadah, dan seperti semua ibadah, nilainya sangat ditentukan oleh keikhlasan hati yang ada di baliknya.
Sayangnya, ada situasi di mana nafkah diberikan tapi disertai dengan hal-hal yang justru merusak nilainya: diungkit di depan keluarga besar, dijadikan senjata saat bertengkar, atau diberikan dengan cara yang membuat istri merasa berhutang budi seumur hidup.
Nah, Rumah Zakat akan membahas ciri-ciri suami yang tidak ikhlas dalam memberikan nafkah, berdasarkan perspektif Islam dan kondisi nyata dalam rumah tangga, dengan tujuan agar bisa dijadikan bahan muhasabah, bukan penghakiman.
Nafkah dalam Islam: Kewajiban, Bukan Pilihan
Sebelum membahas ciri-cirinya, penting untuk memahami dulu bagaimana Islam memandang nafkah, karena dari fondasi inilah kita bisa menilai apakah seorang suami menjalankan kewajibannya dengan benar.
Dasar Hukum Nafkah dalam Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT berfirman:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Cukuplah seseorang berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud – hasan)
Dua dalil ini sangat tegas: nafkah adalah kewajiban, bukan kemurahan hati. Seorang suami tidak sedang “berbaik hati” saat menafkahi keluarga, ia sedang menunaikan tanggung jawab yang Allah bebankan kepadanya.
Apa yang Dimaksud Nafkah yang Ikhlas?
Nafkah yang ikhlas bukan hanya soal jumlahnya, tapi tentang bagaimana cara memberikannya. Islam mengajarkan bahwa sedekah dan infak yang disertai maan (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti) akan gugur pahalanya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Prinsip ini berlaku juga dalam nafkah keluarga, memberikan dengan cara yang menyakiti bukan hanya merusak hubungan, tapi juga mengurangi pahala di sisi Allah.
Baca Juga: Bolehkah Menikahi Wanita yang Ditinggal Suaminya Tanpa Kabar? Ini Penjelasan Islam
Ciri-Ciri Suami yang Tidak Ikhlas Memberi Nafkah
Inilah bagian yang paling banyak dicari, tanda-tanda konkret yang bisa dikenali dalam keseharian rumah tangga.
Tanda yang Terlihat dalam Sikap dan Perilaku
Berikut ciri-ciri yang perlu diwaspadai:
- Sering mengungkit nafkah, terutama saat bertengkar, seolah nafkah adalah “hutang” yang harus selalu diingat istri
- Membandingkan dengan istri orang lain, “istri si A bisa hemat, kok kamu boros” padahal kebutuhan tiap keluarga berbeda
- Memberikan nafkah dengan ekspresi keberatan, mengeluh setiap kali mengeluarkan uang untuk kebutuhan keluarga
- Menjadikan nafkah sebagai alat kontrol, membatasi akses istri pada keuangan sebagai cara mengendalikan perilaku
- Mempermalukan istri soal keuangan, di depan keluarga besar atau teman, menyebut-nyebut berapa yang sudah dikeluarkan
- Mendahulukan keperluan pribadi, rokok, hobi, atau pengeluaran pribadi dipenuhi lebih dulu sebelum kebutuhan pokok keluarga
Dampaknya terhadap Keluarga
Nafkah yang diberikan dengan cara seperti itu bukan hanya menyakiti istri, tapi merusak fondasi rumah tangga secara keseluruhan.
Istri yang terus-menerus merasa “berhutang” dan direndahkan akan kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman dalam rumah tangga. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini bisa menyerap pola yang salah tentang bagaimana cara memberi dan cara memandang pernikahan.
Baca Juga: Nafkah Setelah Cerai: Kewajiban Mantan Suami yang Perlu Diketahui
Bagaimana Menyikapi Kondisi Ini dengan Bijak?
Mengenali masalahnya adalah langkah pertama, tapi yang lebih penting adalah tahu apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Langkah yang bisa dilakukan istri dan keluarga:
- Komunikasikan dengan cara yang tenang dan tidak defensif, pilih waktu yang tepat, bukan saat emosi sedang tinggi
- Jelaskan dari perspektif agama, kadang suami tidak menyadari bahwa cara memberi nafkahnya bertentangan dengan nilai Islam
- Libatkan pihak ketiga yang dipercaya, ustaz, konselor pernikahan, atau tokoh keluarga yang bijak bisa membantu mediasi
- Dokumentasikan kebutuhan keluarga, membuat catatan pengeluaran bisa membantu diskusi yang lebih objektif dan berbasis data
- Doakan pasangan, doa adalah salah satu ikhtiar terkuat; memohon kepada Allah agar hati suami dilunakkan dan diberi keikhlasan
- Jaga kesehatan mental sendiri, mencari dukungan dari komunitas atau konselor bukan tanda kelemahan, tapi kebijaksanaan
Kesimpulan
Jadi, nafkah yang diberikan tanpa keikhlasan, disertai ungkitan, perbandingan, dan kontrol, bukan hanya menyakiti perasaan, tapi juga mengurangi pahala di sisi Allah dan merusak keharmonisan rumah tangga. Islam mengajarkan bahwa memberi dengan cara yang menyakiti sama buruknya dengan tidak memberi sama sekali.
Semoga setiap rumah tangga Muslim bisa saling mengingatkan bahwa memberi adalah ibadah, dan ibadah yang paling bermakna adalah yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Dan bagi suami yang ingin melatih keikhlasan dalam memberi, mulailah dari hal-hal kecil, salurkan sedekah untuk sesama melalui Rumah Zakat, karena kebiasaan memberi dengan ikhlas di luar rumah akan perlahan menumbuhkan keikhlasan yang sama di dalam rumah tangga.

