HARTA KEKAYAAN DI TANGAN ORANG SHALIH

Oleh: Linda Langit Shabrina

Sebut saja Abu Bakr Ash Shidiq, orang pertama yang disebutkan dalam hadits tentang berita surga tersebut. Ia adalah sahabat Rasulullah SAW sejak sebelum mendapatkan wahyu kenabian. Saat seantero jazirah Arab tidak memercayai Muhammad Bin Abdullah sebagai seorang nabi, ia laki-laki pertama yang bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Ia adalah orang kaya yang hartanya disedekahkan untuk dakwah Islam. Di awal keislamannya, Abu Bakr RA menghabiskan 40.000 dirham yang setara dengan 2,8Milyar untuk memerdekakan hamba sahaya. Saat memerdekakan Bilal Bin Rabbah, majikannya, Umaiyah Bin Khalif Bilal meminta Abu Bakr RA menebusnya dengan 9 uqiah emas. Jumlah ini setara dengan uang senilai Rp140juta.

Sahabat Rasulullah SAW yang lain adalah Umar Bin Khattab RA. Ia masuk surga bersama Nabi Nuh AS. Kebahagiaannya memasuki taman surga ternyata salah satunya ia dapatkan dari perkebunannya yang amat luas. Setiap bulan seluruh perkebunannya dapat dipanen senilai Rp233Milyar. Berarti dalam setahun ia dapat menghasilkan lebih dari Rp2,7 Triliun. Tidak salah jika Umar Bin Khattab kita sebut muslim yang kaya raya.

Seperti air yang diminum saat haus, harta yang dimilikinya disedekahkan untuk kepentingan ummat muslim yang membutuhkan. Sedekah Umar Bin Khattab yang sering diceritakan kepada khalayak adalah ketia ia terlambat shalat Ashar berjamaah. Abdullah bin Umar RA bercerita bahwa pada suatu hari ayahnya sedang meninjau perkebunan kurman. Saat sampai di Kota Madinah, ayahnya melihat orang-orang sudah menyelesaikan shalat Ashar berjamaah. Dengan penuh penyesalah karena terlambat shalat Ashar Ummar Bin Khattab berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Aku terlambat shalat Ashar berjamaah karena kebun kurma. Ya Allah, saksikanlah kebun kurma itu aku sedekahkan kepada fakir miskin sebagai kifarat atas kealpaan yang telah kulakukan.” Betapa banyak harta kekayaan yang dimiliki, itulah sebabnya ia takmerasa berat menyedekahkan sebuah perkebunan. Bahkan setelah wafat, ia meninggalkan harta senilai Rp11,2Triliun.

Dua sahabat Rasulullah SAW yang sama-sama kaya dan berkejaran dalam sedekah adalah Utsman Bin Affan dan Abdurrahman Bin Auf. Pada persiapan perang Tabuk, ketika Rasulullah SAW mengumumkan berapa banyak keperluan yang harus disiapkan untuk menghadapi perang ini, Utsman Bin Affan RA menyedekahkan 300 unta bersama alas dan pelananya. Sebagian pendapat menyatakan Utsman RA menyedekahkan 900 unta dan 100 kuda. Pada saat yang sama Abdurrahman Bin Auf menyedekahkan hartanya sebanyak 200 uqiyah emas yang setara dengan Rp3Milyar.

Saat itu Umar Bin Khattab berujar kepada Rasulullah SAW, “Sepertinya Abdurrahman Bin Auf berdosa terhadap keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya.” Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya kepada Abdurrahman Bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu ?”
“ Ya!” Jawab Abdurrahman.”
“Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan.”
“Berapa?” Tanya Rasulullah SAW.
“Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah SWT.” Jawabnya.

Semakin bertambah usia, harta Abdurrahman Bin Auf semakin melimpah. Saat wafat, Abdurrahman Bin Auf meninggalkan harta lebih dari Rp3Milyar.

Benarlah apa yang disampaikan Allah SWT dalam Al Quran, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 261).

Tags :
Konfirmasi Donasi