HUKUM MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI

Assalamu’alaikum. Ustadz Kardita, setiap tahun keluarga saya merayakan tahun baru masehi. Tahun lalu kami pergi ke pantai menonton kembang api. Tahun sebelumnya kami mengundang saudara datang ke rumah untuk makan-makan bersama lalu meniupkan terompet saat malam tahun baru tiba. Sebenarnya boleh tidak ya merayakan tahun baru masehi?
Indra, Jakarta

Wa’alaikumsalam wr wb.
Sobat Indra yang dimuliakan Allah, ada beberapa pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.

1. Pendapat yang Mengharamkan Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, memiliki beberapa argumentasi di antaranya:

a. Perayaan malam tahun baru adalah ibadah orang kafir.

Perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya. Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke Eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malamtahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir Nabi Isa. Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

b. Perayaan malam tahun baru menyerupai perbuatan orang kafir.

Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Daud).

c. Perayaan malam tahun baru penuh maksiat.

Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan
malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hurahura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam. Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

d. Perayaan malam tahun baru adalah bid`ah.

Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal, sehingga apabila seseorang melakukan suatu kegiatan ritual keagamaan misalnya membaca ayatayat tertentu, atau sholat dengan bilangan tertentu yang dihubungkan dengan malam tahun baru masehi maka hukumnya bid’ah.

2. Pendapat yang Membolehkan Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan

malam tahun baru Masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikutikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi jika tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya. Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikutikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?

Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja. Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, maka boleh boleh saja hukumnya. Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya. Misalnya, umat Islam memanfaatkan event malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan, bersilaturahmi dengan keluarga, muhasabah dan introspeksi diri dan sebagainya. Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tags :
Konfirmasi Donasi