[:ID]JANGAN MEMINTA-MINTA[:en]BEGGAR[:]

[:ID]

oleh: Erwan Roihan

Rasulullah SAW bersabda, ”Bahwasanya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu dia datang dengan membawa seikat kayu bakar, lalu dia menjualnya, sehingga Allah memberinya kecukupan dengan itu. Adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka mau memberinya maupun tidak.” (HR Al-Bukhari) Rasulullah adalah orang yang giat bekerja dan pantang berpangku tangan. Sejak muda, ia dikenal sebagai saudagar yang ulet dan jujur.

Dalam hadis di atas, Rasulullah mengajak umatnya untuk mencari nafkah yang halal dengan cara yang baik, tidak meminta-minta. Mengapa? Karena mengemis adalah perbuatan yang rendah lagi hina. Pekerjaan yang kasar dan rendah dalam pandangan kebanyakan manusia, misalnya mencari kayu bakar di hutan lalu menjualnya, itu lebih baik menurut Rasulullah SAW daripada meminta-minta.

Menurut Al-Khauli dalam Al-Adab An-Nabawi, jika si pengemis itu sebenarnya mampu mencari nafkah namun dia lebih memilih untuk menjadi pengemis, maka dia telah kafir terhadap nikmat Allah. Disebut demikian, karena dia tidak mau mensyukuri nikmat anggota tubuh yang dikaruniakan Allah. Kalau dia bersyukur, seharusnya dia memanfaatkan anggota tubuhnya.

Orang-orang yang berjualan sayuran yang murah harganya, yang mereka panen dari ladang, lalu mereka pikul, mereka itu lebih mulia daripada orang-orang yang lalu lalang di jalanan, siang malam, mengemis kepada manusia, padahal mayoritas mereka sebenarnya mampu bekerja mencari nafkah dengan baik.

Sayangnya, kini banyak orang lebih suka mengemis daripada bekerja. Kesukaan meminta-minta ini merajalela di negeri kita. Tanpa sadar mereka telah mengingkari nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka baik berupa badan yang kuat, akal dan kecerdasan, serta kemampuan berproduksi.

Padahal, Rasulullah sangat tegas dalam soal ini. ”Tangan yang di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan yang ada di bawah (peminta-minta).” Demikian sabdanya seperti dituturkan banyak perawi hadis. Apabila masing-masing dari kita mau bekerja dengan baik, berproduksi secara optimal dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama, maka kebaikan dan kesejahteraan akan menjadi buahnya. Kita akan tegar menghadapi berbagai krisis dan teguh dalam menghadapi bencana. Tatkala problem datang menerpa, kita akan berpikir keras untuk mengatasinya, bukan mengemis belas kasihan orang lain untuk membantu kita.

sumber : republika.co.id

[:en]

By Erwan Roihan

Rasulullah SAW said, “That one of you took the rope and then he came with a bundle of firewood, then he sold it, so Allah gave him enough with it. It is better for him than he begs others, whether they want to give him or not. “(Al-Bukhari) The Prophet was someone who actively working. Since he was young, he was known as a tenacious and honest merchant.

 

In the above hadith, the Prophet invited his people to make a living which was lawful in a good way, not begging. Why? Because begging is a low and despicable act, rough and low work in the view of most humans, for example looking for firewood in the forest then selling it, it is better according to the Prophet Muhammad than begging.

 

According to Al-Khauli in Al-Adab An-Nabawi, if the beggar is actually able to make a living but he prefers to be a beggar, then he has disbelieved in Allah’s favor. They become ungrateful for the blessed given to them.

 

People who sell cheap-priced vegetables, which they harvest from the fields, then they carry it, they are more noble than people passing on the streets, day and night, begging humans, even though the majority of them are actually able to work to make a living by well.

 

Unfortunately, many people now prefer to beg rather than work. This begging fondness is rampant in our country. Unknowingly they have denied the blessings of Allah bestowed on them in the form of a strong body, mind and intelligence, and the ability to produce.

 

In fact, the Messenger of Allah was very strict in this matter. “The hand above (the giver) is better than the hand that is below (the beggar).” Such is the statement as told by many narrators of hadith. If each of us wants to work well, produce optimally and produce something that is beneficial to others, then goodness and prosperity will be the fruit. We will be strong in facing various crises and firm in facing disasters. When the problem comes, we will think hard to overcome it, not beg for the compassion of others to help us.

Source : republika.co.id

[:]
Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia