MENGAJARI ANAK BERPUASA

Datangnya bulan suci Ramadhan tentunya sangat dinanti oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.  Bukan saja orang dewasa yang sudah mengerti makna hadirnya bulan suci ini yang menantinya, anak-anak usia dini pun sangat menantikan hadirnya bulan Ramadhan. Mereka memang belum memahami maknanya secara utuh. Pengalaman pertama menjalan puasa ini sebaiknya menjadi pengalaman yang benar-benar berkesan positif, sehingga membuat anak tertarik  dan antusias untuk mencoba melakukannya.

Secara psikologis, puasa memberikan pengaruh positif pada anak, di antaranya melatih si kecil disiplin, sabar, mau berbagi, jujur dan mampu mengendalikan diri. Apalagi temperamen anak adakalanya sulit ‘dikendalikan’ bukan? Nah, lewat puasa, anak dilatih untuk mampu menahan emosinya. Karena usianya yang masih dini, mereka memiliki keterbatasan fisik, maka puasa tentu saja tidak boleh dipaksakan. Ajari anak berpuasa saat orang tua juga puasa. Insya Allah jika anak diajari dengan baik sejak usia balita, saat masuk usia baligh, berpuasa tidak menjadi beban. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan ibadah puasa pada anak-anak terutama di usia balita:

 

1. Perkenalkan ibadah puasa ini dengan cara yang menyenangkan, bukan di bawah tekanan dan ancaman

Secara naluriah, manusia akan mengulangi apa yang ia rasakan menyenangkan. Ketika orang-orang di sekitarnya antusias dan bahagia saat menyambut Ramadhan, anak-anak pun akan menangkap kesan yang sama. Sampaikan pengertian tentang puasa ini melalui aktivitas-aktivitas yang sudah biasa dilakukan anak, seperti  melalui lagu-lagu tentang puasa, dongeng dan cerita Ramadhan atau pengalaman masa kecil orang tua saat berpuasa. Dengan cara tersebut secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar puasa. Hindari paksaan dan ancaman saat mengajak anak berpuasa.

 

2. Memperkenalkan suasana ibadah puasa melalui pengalaman.

Ajak dan libatkan mereka saat kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang memang hanya dilakukan selama bulan Ramadhan. Ajak mereka makan sahur, sholat tarawih berjamaah, berbuka puasa bersama, tadarus Al Quran, bahkan I’tikaf dimasjid pada 10 malam terakhir. banyak beramal dan bersedekah atau aktifitas-aktifitas khas lainnya seperti pasar Ramadhan yang menjual berbagai kebutuhan berbuka puasa dan kebutuhan untuk merayakan Idul Fitri. Ajak mereka mengamati dan merasakan perbedaan suasana dan minta mereka membuat sebuah kesan tentang apa yang mereka rasakan. Dengan begitu, mereka akan benar-benar memperoleh pengalaman yang bisa membangun antusiasme mereka saat menantikan datangnya bulan Ramadhan.

 

3. Awali secara bertahap dan tetapkan target bersama anak.

Sebagai perkenalan dan latihan, puasa untuk anak-anak diusia balita ini bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek lebih dahulu, sekitar 3- 4 jam sudah cukup untuk mereka berlatih menahan lapar dan haus. Secara bertahap perpanjang jangka waktunya dengan menambah jam puasa menjadi 6 jam pada minggu kedua. Setelah itu tambahkan waktunya menjadi setengah hari (sampai adzan dzuhur), dan jika anak ingin melanjutkan puasanya, lanjutkan sampai magrib. Biasanya suasana berbuka puasa ini yang mereka tunggu-tunggu. Jika anak sudah lebih siap, motivasi anak untuk bisa berpuasa sehari penuh, tetapi jangan lupa perhatikan kondisi kesehatannya. Buatlah target dan kesepakatan mengenai  berapa hari sang buah hati akan berpuasa atau sampai jam berapa ia akan berpuasa setiap harinya. Hal ini penting untuk anak belajar mengendalikan diri dan bertanggungjawab dengan apa yang ia targetkan. Tentunya hal ini disesuaikan dengan kondisi anak tersebut, dan bisa bervariasi antara sang kakak dan sang adik.

 

4. Jadikan sahur menjadi aktivitas yang menyenangkan

Biasanya, membangunkan anak usia balita untuk makan sahur, bukanlah hal yang mudah. Bangunkan anak dengan suara lembut sambil mengingatkan tentang target yang telah disepakati bersama. Motivasi anak dengan hal-hal yang menyenangkan pada saat sahur. Selain itu buatlah menu makanan favorit dan usahakan agar tampilan makan sahur menjadi menarik. Perbanyaklah makanan dari jenis protein dan lemak seperti daging, nasi, telur, ikan, dan lainnya. Makin besar lemak dan protein yang dikonsumsi saat sahur, otomatis cadangan energi yang dimiliki si buah hati juga lebih besar. Lebih disarankan untuk membiasakannya makan di akhir waktu sahur dan jangan membangunkannya terlalu awal, karena waktu tidur yang cenderung berkurang dapat membuatnya gelisah dan rewel saat makan sahur.

 

5. Sibukkan anak saat berpuasa

Berikan beberapa aktivitas menarik selama anak berpuasa. Biasanya selama bulan Ramadhan, anak menjadi lebih cepat pulang dari sekolah. Ajaklah anak bermain untuk sejenak lupa bahwa ia sedang berpuasa. Pilihlah aktivitas yang tidak terlalu banyak menyita energi sehingga tidak memancingnya untuk minta berbuka puasa sebelum waktunya.  Lakukan aktivitas fisik di sore hari sehingga ia tidak perlu membatalkan puasanya jika ia merasa haus dan lapar hingga waktu maghrib tiba.

6. Berikan reward

Jangan lupa memberikan reward setiap kali anak berhasil puasa sesuai target yang disepakati. Orang tua dan anak bisa bersama-sama menetapkan aturan main mengenai pemberian reward/ hadiah ini.  Reward yang dimaksud tidak harus mahal dan mewah, tidak pula harus berupa benda atau uang. Sebuah pelukan dan ciuman hangat di pipi serta pujian pada saat berbuka puasa adalah contoh sederhana yang dapat membuat anak termotivasi untuk berpuasa kembali keesokan harinya. Makanan special favorit anak, juga sangat bermakna sebagai reward, atau kita bisa menggunakan “papan perang bintang” sebagai catatan reward yang bisa dikumpulkan untuk ditukarkan dengan sejumlah uang saat lebaran tiba.

 

7. Catat semua perkembangan

Ambillah secarik kertas dan buatlah tabel sesuai dengan target berpuasa sang anak. Berikan tanda ‘√’ bila anak dapat berpuasa sehari penuh (atau sesuai target), dan tanda ‘X’ bila anak tidak berpuasa sehari penuh/ tidak sesuai target. Dengan catatan ini, anak bisa mengevaluasi prestasi puasanya dan bisa memotivasinya untuk terus mencoba untuk menamatkan puasanya sebulan penuh sejalan dengan bertambahnya usia.

 

Orang tua perlu bersabar saat melatih anak-anak berpuasa, jangan sekali-kali membandingkan prestasi puasanya dengan anak lain. Yang terpenting adalah prosesnya, hargai setiap upayanya melakukan ibadah ini. Didiklah anak melakukan puasa dengan rasa kasih sayang, karena hal ini akan membantu anak mencapai kedewasaan, baik dari segi akal, dan fisik.

Tags :
Konfirmasi Donasi