METODE MENGHAPAL AL-QURAN

Oleh Roni Firmansyah
Rumah Zakat-Bandung

 

Sahabat Pecinta al- Qur’an yang dirahmati Allah SWT,  setiap orang punya cara untuk mengatur waktu dalam menghapal al-Qur’an,  namun yang terpenting adalah bukan hanya sejauhmana kita bisa sebanyak-banyaknya menambah hapalan. Satu hal yang tidak bisa kita tinggalkan adalah menjaga hapalan kita tetap didalam dada sahabat semua. Proses kerja keras dalam menghapal al-Qur’an hanya akan bermuara pada komitmen kita. Yang menjadi catatan penting adalah menghapal Al Qur’an bukan sebuah amalan jangka pendek namun ini adalah amalan seumur hidup kita hingga ajal menjemput.
Maka disinilah perlu dicari metode yang baik agar semangat menghapal dan menjaganya bisa terus bernafas seiring nafas dalam tubuh kita.  Berikut beberapa faktor yang menyebabkan kita susah untuk menghapal al-Qur’an.

 

Mudah Mengeluh
 Allah SWT berfirman :
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.
Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh-kesah.
(QS. Al Ma’arij : 19 – 20)
Fitrahnya manusia adalah ketika ditimpa kesulitan tidak banyak yang bisa bersabar dalam menghapal Al Qur’an. Pada umumnya para penghapal lebih bersemangat untuk menambah hapalan dan terkadang banyak terlalaikan dalam mengulang-ulang hapalan. Yang pada akhirnya ayat yang sedang dihapal belum sempurna kita rekam dan ayat yang sudah dihapal sudah hilang dari ingatan. Inilah yang bisa menjatuhkan psikologis penghapal sehingga tidak sedikit yang berguguran.

 

Perlakuan Psikologis terhadap Ayat Satu dengan Ayat yang Lain
Contoh, jika  kita membuka dan menghapal  QS. Al-Baqarah ayat 1, mudah bukan? Jangankan lihat mushaf, sambil bermain juga bisa hapal dalam 5 detik. Dan sekarang lihat QS. Al-Baqarah ayat : 282 dan hapalkan, dibaca berulang kali pun belum tentu hapal.

 

Perlakuan Psikologis terhadap Surat Satu dengan Surat yang Lain
Silahkan sahabat coba untuk menjadi imam di masjid atau dikantor, sahabat mempunyai hapalan surat al-Lahab dan surat al-Buruj. Mana yang terlebih dahulu baca? Kecenderungan orang akan membaca al-lahab. Mengapa? Karena ayatnya pendek dan lebih percaya diri untuk membacanya.

 

Pertanyaannya adalah kapan kita membudayakan shalat dengan membaca surat diluar juz 30? Sehingga hal ini dikalangan umum akan membentuk mindset bahwa sholat cukup hanya dengan membaca surat -surat pendek. Sehingga surat yang lainnya jarang terekspos ke jamaah. Kapankah budaya hafidz itu akan dimulai? Dari 3 catatan diatas dapat kita ambil benang merahnya yaitu masalah psikologis (mindset). Manusia cenderung untuk memilih hal-hal yang lebih praktis dan gampang.

 

Silahkan sahabat buka mushaf  al-Qur’an di halaman mana saja yang sahabat inginkan, lihat dan ukur setiap baris pada halaman tersebut dengan mistar. Lalu bandingkan dengan halaman lain adakah yang lebih panjang ? mungkin 1 cm atau bahkan 5 cm. Nah, inilah yang kita manfaatkan untuk meringankan psikologis kita dalam menghapal al-Qur’an. Tidak ada membeda-bedakan mana ayat panjang dan ayat pendek, surat pendek dan surat panjang, semua sama hanya kira-kira 10 cm setiap barisnya (untuk al-Qur’an ukuran sedang). Pada akhirnya, apapun metode yang kita pakai untuk menghapal al-Qur’an, hanya satu sikap yang bisa menjaga hapalan kita yaitu KOMITMEN!!!

Tags :
Konfirmasi Donasi