PEMIMPIN YANG DICINTAI

pemimpinOleh: Imam Nur Suharno

Dari Auf ibn Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.”

“Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Lalu, Auf berkata: “Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka?” Rasulullah SAW bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian.” (HR Muslim).

Salah satu indikasi seorang pemimpin itu dicintai oleh rakyatnya adalah yang dapat mengayomi rakyatnya, melayani, menyayangi, membela, dan tidak berbuat zalim kepada rakyat. “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya), karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Agar seorang pemimpin dapat melayani, paling tidak ada tiga aspek dalam melayani rakyat, sehingga menjadi pemimpin yang dicintai. Pertama, alkhidmah bil-qalb (melayani dengan hati).

Ciri pemimpin yang dapat melayani dengan hati adalah tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Orientasinya bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan, tetapi untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Kedua, alkhidmah bil-aql (melayani dengan kepala/pikiran). Tiga hal penting dalam melayani dengan pikiran, yaitu memiliki visi yang jelas, responsif (seorang pemimpin harus selalu tanggap dalam setiap persoalan, kebutuhan, dan harapan dari rakyat yang dipimpinnya.

Ketiga, alkhidmah bil-yad (melayani dengan tangan). Yaitu pemimpin yang tidak sekadar memuaskan rakyat yang dipimpinnya, tetapi fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekadar kesuksesan duniawi, mau belajar, dan selalu menyelaraskan dirinya terhadap komitmen untuk ibadah dan melayani sesamanya.

Selain kemampuan dalam melayani, seorang pemimpin harus memiliki kualitas di atas rata-rata dari rakyat yang dipimpinnya. Kualitas itu menyangkut dalam hal keyakinan (iman), kepribadian (integritas), dan keahlian memimpin atau skill of leadership.

Kualitas tersebut harus menyatu dalam keseluruhan tindakan, sehingga kata sejalan dengan tindakan. Janji yang disampaikan pada saat kampanye akan direalisasikan setelah dirinya menjadi pemimpin.

Kepemimpinan adalah amanah dan setiap amanah dimintai pertanggungjawaban. Jadi, pemimpin yang dibutuhkan adalah yang dapat melayani bukan yang minta dilayani, memberi keteladanan, sehingga dapat mengantarkan kepada suasana keramahan dalam kepemimpinan. Wallahu a’lam.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi