Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 127 gunung api aktif yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, menjadikannya salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia.
Status gunung yang naik level bukan sesuatu yang terjadi sekali-sekali tapi realita yang bisa menimpa siapapun yang tinggal di sekitar kawasan gunung berapi.
Yang membedakan antara yang selamat dan yang tidak dalam situasi ini hampir selalu bukan soal seberapa dekat jarak mereka dari kawah, tapi seberapa cepat dan seberapa tepat tindakan yang diambil saat informasi pertama kali diterima. Kecepatan dan ketepatan respons di momen awal itulah yang paling menentukan.
Nah, Rumah Zakat akan membahas apa yang harus langsung dilakukan saat status gunung naik level, mulai dari memahami sistem peringatan yang berlaku hingga persiapan yang tidak boleh terlewat sebelum kondisi memburuk.
Memahami Level Status Gunung Api di Indonesia
Sebelum membahas langkah yang harus diambil, penting untuk memahami dulu sistem peringatan yang digunakan di Indonesia agar bisa membaca situasi dengan benar.
Badan Geologi Indonesia menggunakan empat level status gunung api yang masing-masing menuntut respons yang berbeda:
| Level | Status | Kondisi | Tindakan Umum |
|---|---|---|---|
| Level 1 | Normal | Aktivitas dalam batas normal | Pantau informasi rutin |
| Level 2 | Waspada | Peningkatan aktivitas di atas normal | Tingkatkan kewaspadaan |
| Level 3 | Siaga | Peningkatan signifikan, potensi erupsi | Persiapan evakuasi |
| Level 4 | Awas | Erupsi sudah terjadi atau sangat imminent | Evakuasi segera |
Saat status naik dari Level 1 ke Level 2 atau lebih tinggi adalah momen yang paling kritis karena ini adalah sinyal pertama bahwa kondisi berubah dan persiapan harus segera dimulai.
Baca Juga: Enam Gunung Api Erupsi di Hari yang Sama, Apakah Tanda Bencana Besar?
5 Hal yang Harus Langsung Dilakukan Saat Status Gunung Naik Level
Waktu adalah sumber daya paling berharga saat status gunung naik level, dan lima langkah berikut harus dilakukan secara berurutan tanpa menunda.
1. Pantau Informasi dari Sumber Resmi
Langkah pertama dan paling menentukan adalah memastikan sumber informasi yang diakses adalah sumber yang benar-benar resmi dan dapat dipercaya.
Informasi yang salah atau hoaks bisa menyebabkan kepanikan yang tidak perlu atau sebaliknya ketenangan palsu yang berbahaya.
Sumber resmi yang perlu dipantau:
- Website dan media sosial PVMBG atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang menjadi otoritas tertinggi untuk informasi gunung api.
- BPBD daerah setempat yang akan mengeluarkan instruksi dan rekomendasi untuk masyarakat di zona terdampak.
- BMKG untuk informasi tentang kondisi cuaca yang bisa mempengaruhi sebaran abu vulkanik.
- Sistem peringatan dini resmi yang ada di wilayah setempat baik berupa sirene maupun aplikasi mobile resmi.
2. Siapkan Tas Siaga dan Dokumen Penting
Saat status sudah naik satu level dari normal, ini adalah saat yang tepat untuk menyiapkan atau memeriksa kembali tas siaga yang sudah disiapkan sebelumnya. Jangan menunggu sampai Level 3 atau 4 karena saat itu waktu yang tersedia sudah sangat terbatas.
Pastikan tas siaga mengandung:
- Dokumen penting dalam plastik kedap air seperti KTP, KK, dan buku tabungan.
- Obat-obatan rutin yang dibutuhkan oleh anggota keluarga dengan kondisi kesehatan khusus.
- Air minum dan makanan tahan lama untuk minimal 3 hari.
- Masker N95 atau KN95 untuk perlindungan dari abu vulkanik yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan.
- Perlengkapan ibadah termasuk sajadah, Al-Qur’an kecil, dan mukena untuk tetap bisa menjalankan sholat dalam kondisi darurat.
3. Rencanakan Jalur Evakuasi Sebelum Darurat
Ini adalah langkah yang sering diabaikan karena banyak yang berpikir akan merencanakan jalur evakuasi nanti saat sudah benar-benar darurat.
Tapi saat darurat tiba, jalan bisa macet, komunikasi terputus, dan pikiran tidak dalam kondisi optimal untuk membuat keputusan.
Rencanakan sekarang saat masih tenang:
- Identifikasi dua jalur evakuasi yang berbeda karena satu jalur bisa tertutup oleh lahar, abu, atau kerumunan.
- Tentukan titik kumpul keluarga yang semua anggota sudah tahu tanpa perlu komunikasi.
- Hubungi saudara atau teman di luar zona terdampak sebagai tujuan pengungsian sementara.
- Ketahui lokasi posko pengungsian resmi yang ditetapkan BPBD setempat.
Baca Juga: 7 Cara Menyelamatkan Diri dari Bahaya Gunung Meletus
4. Perkuat Doa dan Dzikir sebagai Perlindungan
Ikhtiar fisik harus diiringi dengan ikhtiar spiritual karena seorang Muslim memahami bahwa keselamatan sejati hanya ada di tangan Allah SWT.
Doa yang dianjurkan saat menghadapi bencana atau situasi berbahaya:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan bersama nama-Nya baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Perbanyak juga bacaan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallahu wa ni’mal wakiil
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
5. Segera Mengungsi Jika Diminta Pihak Berwenang
Ini adalah langkah yang paling sering diabaikan karena banyak yang merasa masih aman atau tidak ingin meninggalkan rumah dan harta benda.
Padahal instruksi evakuasi dari pihak berwenang dikeluarkan berdasarkan data ilmiah yang tidak bisa ditebak oleh intuisi semata.
Saat instruksi evakuasi dikeluarkan, ingat tiga prinsip ini:
- Jiwa lebih berharga dari harta karena semua yang tertinggal bisa diganti tapi nyawa tidak.
- Jangan menunda dengan alasan apapun karena setiap menit yang terlewat saat erupsi sudah terjadi bisa sangat fatal.
- Bantu tetangga yang membutuhkan terutama lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang mungkin membutuhkan bantuan untuk evakuasi.
Kesimpulan
Jadi, kenaikan status gunung api adalah sinyal yang harus direspons dengan cepat, tenang, dan terencana. Lima langkah di atas bukan sekadar checklist darurat tapi panduan yang bisa menyelamatkan nyawa saat kondisi tidak lagi memberikan banyak waktu untuk berpikir panjang.
Bagi seorang Muslim, setiap bencana adalah pengingat tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Allah dan betapa pentingnya terus saling menjaga satu sama lain.
Yuk, salurkan donasi melalui Rumah Zakat untuk membantu saudara-saudara yang sudah terdampak bencana gunung api mendapatkan bantuan yang paling mereka butuhkan hari ini.

