Di antara para nabi, nama Idris AS sering terdengar akrab, tetapi kisahnya jarang dibahas secara lengkap. Padahal, Al-Qur’an menyebutnya dengan pujian yang sangat indah sebagai nabi yang jujur dan diangkat derajatnya.
Kisah beliau memang singkat, tetapi pesannya tentang ilmu dan iman terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Ilmu tanpa iman mudah kehilangan arah, sedangkan iman tanpa ilmu mudah rapuh saat diuji.
Nah, Rumah Zakat akan membahas kisah Nabi Idris AS dalam Al-Qur’an dan riwayat ulama, serta pelajaran ilmu dan iman.
Siapa Nabi Idris AS dalam Al-Qur’an?
Informasi yang paling kuat tentang Nabi Idris AS tentu bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Dua Ayat yang Menyebut Namanya
Nama Idris disebut dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu di Surah Maryam dan Surah Al-Anbiya. Keduanya memuji kepribadian beliau, tetapi tidak menguraikan peristiwa hidupnya secara panjang lebar dalam ayat tersebut.
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbiya: 85)
Allah menyebut beliau sebagai orang yang sabar, sebuah sifat yang selalu menyertai kemuliaan para nabi. Sabar menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang menuntut ilmu dan menjaga iman.
Gelar Shiddiq dan Martabat yang Tinggi
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sungguh, dia adalah seorang yang sangat jujur dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)
Shiddiq berarti sangat jujur dan selalu membenarkan kebenaran dengan ucapan, hati, serta perbuatan. Sebagian ulama tafsir memahami diangkat sebagai kemuliaan derajat, sebagian lain memahaminya sebagai diangkat ke langit.
Baca Juga: Kisah Nabi Isa a.s. dalam Islam, dari Perjalanan Dakwah hingga Mukjizatnya
Kisah Nabi Idris AS dalam Riwayat Para Ulama
Selain ayat, para ulama menyebutkan beberapa riwayat yang perlu dibaca dengan penuh kehati-hatian.
Riwayat tentang Ilmu yang Perlu Dibaca dengan Hati-Hati
Sebagian riwayat menyebut beliau orang pertama yang menulis dengan pena, menjahit pakaian, dan mempelajari perbintangan. Banyak ulama menilai sebagian riwayat itu berasal dari kisah Israiliyyat dan tidak sekuat Al-Qur’an dan hadis sahih.
Karena itu, riwayat tersebut sebaiknya dipahami sebagai catatan sejarah, bukan sebagai bagian dari akidah. Bagian yang paling pasti tetap adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis sahih tentang peristiwa Mi’raj.
Pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Idris AS saat Mi’raj
Dalam hadis sahih tentang Mi’raj, Rasulullah SAW bertemu Nabi Idris AS di langit keempat.
“Ternyata di sana ada Idris … lalu ia membalas salam dan berkata: Selamat datang, saudara yang saleh dan nabi yang saleh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sambutan saudara yang saleh dan nabi yang saleh menunjukkan eratnya persaudaraan di antara para nabi. Pertemuan itu juga menegaskan bahwa beliau adalah nabi yang sangat dimuliakan di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Bukan Hanya Penakluk Yerusalem, Begini Kisah Salahuddin Al-Ayyubi yang Menginspirasi
Pelajaran Ilmu dan Iman dari Kisah Nabi Idris AS
Dari ayat dan hadis yang pasti, tampak beberapa pelajaran penting tentang ilmu dan iman.
1. Ilmu Mengangkat Derajat, tetapi Iman yang Menuntunnya
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menyebut iman dan ilmu berdampingan sebagai dua sebab terangkatnya derajat seseorang. Sebagai nabi, Idris AS mengemban wahyu, ilmu terbaik yang berpadu dengan iman yang kokoh.
2. Kejujuran dan Kesabaran sebagai Fondasi
Allah menyebut Nabi Idris AS sebagai shiddiq dan sabar, dua sifat yang menjaga ilmu tetap lurus. Ilmu yang disertai kejujuran akan terhindar dari kesombongan, dan kesabaran membuat proses belajar tidak cepat menyerah.
3. Ilmu yang Bermanfaat Terus Mengalir Pahalanya
“Apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menempatkan ilmu bermanfaat sejajar dengan sedekah jariyah sebagai amal yang pahalanya terus mengalir. Ilmu yang dibagikan dan harta yang disedekahkan sama-sama menjadi bekal setelah usia berakhir.
Baca Juga: Tak Berhenti Berdoa, Ini Kisah Nabi Zakaria AS yang Penuh Hikmah
Kesimpulan
Jadi, kisah Nabi Idris AS memang singkat dalam Al-Qur’an, tetapi sarat pelajaran tentang ilmu dan iman. Beliau jujur, sabar, dan diangkat martabatnya, sehingga menjadi teladan bagi siapa pun yang mencari ilmu.
Ilmu dan iman akan semakin bermakna ketika dibagikan, baik lewat pengajaran maupun lewat sedekah. Salurkan sedekah, infak, atau donasi melalui Rumah Zakat agar kebaikan terus mengalir sebagai amal jariyah.

