MANUSIA MAKHLUK BERPASANGAN

Oleh: Nur Faridah

Allah SWT berfirman, “Dan, segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS Adz-Dzariyat [51]: 49). Di antara gambaran kebesaran Allah adalah bahwa Dia menciptakan segala makhluk di alam semesta ini berpasangan.

Untuk manusia, misalnya, laki-laki berpasangan dengan perempuan. Allah SWT menegaskan dalam Alquran, “Dan, Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).” (QS Fathir [35]: 11).

Untuk binatang, jantan berpasangan dengan betina. Dalam kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh, beliau diperintah oleh Allah SWT untuk menaikkan berbagai jenis binatang sepasang-sepasang (jantan dan betina).

Alquran menyebutkan, “Lalu Kami wahyukan kepadanya (Nuh), Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis (binatang).” (QS al-Muminun [23]: 27).

Demikian, pula dengan tetumbuhan yang menghasilkan biji dan buah. Allah SWT menciptakannya berpasangan, seperti disebutkan dalam Alquran, “Dan, Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan, padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan.” (QS Ar-Rad [13]: 3).

Apa hikmah dari berpasang-pasangannya makhluk ciptaan Allah? Seperti disebutkan pada ayat di awal, yaitu untuk menggambarkan kebesaran Allah SWT.

Melalui makhluk yang berpasangan itu, Allah SWT memperlihatkan bagaimana kebesaran-Nya mengembangbiakkan keturunan hingga makhluk hidup pun bertambah banyak dan bertebaran di segala penjuru bumi. Melalui keberpasangan itulah sampai sekarang manusia terutama berkembang menjadi banyak.

Pada mulanya, Allah SWT menciptakan Adam. Tetapi, naluri Adam yang menginginkan pasangan hidup membuat Allah SWT kemudian menciptakan Hawa yang lalu menjadi istrinya. Selanjutnya, dari mereka berdua lahirlah anak-anak, dari anak-anak mereka lahir pula anak-anak yang lainnya. Begitu seterusnya.

Jadi, Allah Mahabesar dengan menciptakan Hawa, seorang perempuan, sebagai pasangan Adam yang laki-laki. Jadi, Allah SWT tidak menciptakan Adam kedua yang sama-sama laki-laki, tetapi menciptakan Hawa, seorang perempuan.

Allah SWT berfirman, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS an-Nisa [4]: 1).

Karena itu, dalam Islam, ketentuannya sudah sangat jelas, sesuai nalar sehat dan naluri kemanusiaan (fitrah) bahwa pasangan laki-laki adalah perempuan; bukan laki-laki dengan laki-laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Jika kemudian ada yang dengan alasan apa pun ingin melegalkan sesuatu yang tak sesuai nalar sehat dan naluri kemanusiaan (fitrah) tadi, itu semata hanya ilusi yang dibuat-buat manusia dan merupakan sebuah penyimpangan. Wallahu alam.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi