Sering Dimintai Sedekah di Jalan? Kapan Sebaiknya Memberi dan Kapan Boleh Menolak?

oleh | Nov 2, 2026 | Inspirasi

Lampu merah menyala, lalu sebuah tangan mengetuk kaca mobil sambil meminta sedikit uang receh. Di saat seperti itu, hati sering ragu antara memberi karena iba atau menolak karena curiga.

Keraguan itu wajar, sebab Islam memang menganjurkan kedermawanan sekaligus mengajarkan kehati-hatian dalam memberi. Dua sikap itu bisa berjalan beriringan selama dasar dan caranya dipahami dengan benar.

Nah, Rumah Zakat akan membahas pandangan Islam tentang peminta-minta, kapan sebaiknya memberi, dan kapan boleh menolak.

Bagaimana Islam Memandang Orang yang Meminta-minta?

Sebelum menentukan sikap, perlu dipahami dulu dua hal yang sama-sama diajarkan Islam tentang peminta-minta.

Islam Melarang Menghardik Peminta

Allah SWT berfirman:

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Ad-Duha: 10)

Ayat ini mengajarkan adab dasar, yaitu tidak membentak atau merendahkan siapa pun yang datang meminta. Memberi boleh dipertimbangkan dahulu, tetapi sikap santun harus dijaga dalam keadaan apa pun.

Islam Juga Mengatur Batas Meminta

Meminta-minta bukan kebiasaan yang dianjurkan, dan Rasulullah SAW menyebut kondisi tertentu yang membolehkannya.

“Wahai Qabisah, meminta-minta tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang.” (HR. Muslim)

Ketiganya ialah penanggung beban berat, korban musibah yang menghabiskan harta, dan orang yang benar-benar miskin. Artinya, tidak semua yang meminta berada dalam kondisi yang halal untuk meminta secara syariat.

Baca Juga: “Senyum Itu Sedekah”? Ini Hadits Shahihnya

Kapan Sebaiknya Memberi?

Memberi paling dianjurkan saat kebutuhan peminta terlihat nyata dan hati terdorong untuk menolong.

1. Saat Kebutuhannya Tampak Nyata

Kondisi fisik yang lemah, lansia, penyandang disabilitas, atau orang yang tampak kelaparan adalah tanda kebutuhan yang jelas. Dalam keadaan itu, memberi langsung adalah kebaikan yang tidak perlu ditunda dengan banyak prasangka.

Apakah harus menunggu bukti sempurna? Tidak, sebab pemberi tidak dibebani menyelidiki kisah setiap orang dan Allah menilai niatnya.

2. Saat Mampu dan Ada Kelebihan Rezeki

Memberi receh di jalan tidak akan memiskinkan, dan pahalanya tetap tercatat selama niatnya ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:

“Jagalah diri dari api neraka, walaupun hanya dengan separuh butir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa nominal yang kecil tetap bernilai di sisi Allah asalkan diberikan dengan tulus.

Kapan Boleh Menolak?

Memberi kepada peminta bersifat anjuran, sehingga menolak bukan dosa selama dilakukan dengan cara baik.

Peminta yang diketahui mampu, memaksa, atau menjadikan meminta sebagai pekerjaan tetap boleh tidak diberi. Rasulullah SAW memperingatkan:

“Barang siapa meminta harta orang lain untuk memperbanyak hartanya, sesungguhnya ia sedang meminta bara api, maka silakan ia mengambil sedikit atau banyak.” (HR. Muslim)

Sebagian daerah di Indonesia juga memiliki aturan yang membatasi pemberian uang langsung kepada pengemis di jalan. Namun jika ada yang nyaris binasa karena lapar, menolongnya menjadi kewajiban yang tidak boleh ditunda.

Cara Menolak yang Tetap Santun

Jika memilih tidak memberi, ucapan yang lembut tetap perlu diberikan kepada setiap orang yang meminta.

فَقُل لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُورًا

“Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.” (QS. Al-Isra: 28)

Cukup jawab dengan senyum dan kata maaf, tanpa membentak, menyindir, atau memasang wajah jijik. Allah SWT mengingatkan bahwa perkataan yang baik lebih utama daripada sedekah yang disusul perkataan menyakitkan (QS. Al-Baqarah: 263).

Baca Juga: Dahulukan Sedekah atau Bayar Utang? Ini Penjelasan Menurut Islam

Cara Menyalurkan Sedekah agar Lebih Tepat Sasaran

Jika ragu memberi di jalan, ada cara lain agar sedekah tetap mengalir kepada yang membutuhkan.

Menyalurkan sedekah lewat lembaga amil yang terpercaya membantu memastikan bantuan sampai kepada mereka yang benar-benar berhak. Penerima manfaat umumnya didata terlebih dahulu, sehingga kebutuhannya jelas dan bantuan tidak jatuh ke tangan yang salah.

Memberi langsung di jalan tetap boleh dilakukan, dan menyalurkan lewat lembaga bisa melengkapinya. Keduanya sama-sama bernilai di sisi Allah, asalkan niatnya lurus dan caranya tidak menyakiti siapa pun.

Kesimpulan

Jadi, Islam mengajarkan keseimbangan antara kemurahan hati dan kehati-hatian saat menghadapi orang yang meminta di jalan. Beri dengan tulus saat kebutuhan nyata, dan menolaklah dengan santun saat ada alasan yang kuat.

Apa pun pilihannya, hati yang lembut dan tutur kata yang baik tidak boleh hilang. Salurkan sedekah, infak, atau donasi melalui Rumah Zakat agar kebaikan sampai kepada yang benar-benar membutuhkan.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait