Terlanjur Terjebak Paylater? Jangan Tutup Utang dengan Utang Baru

oleh | Okt 5, 2026 | Inspirasi

Paylater terasa seperti solusi ajaib saat pertama kali dicoba. Barang sudah di tangan, tagihan baru muncul bulan depan, dan rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang.

Tapi “sekarang” itu datang dengan sangat cepat, dan tidak jarang tagihan yang muncul jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Yang lebih berbahaya dari tagihan paylater itu sendiri adalah respons yang paling sering muncul saat tagihan menumpuk yaitu membuka paylater atau pinjaman baru untuk menutup yang lama.

Lingkaran ini hampir tidak pernah berakhir baik, dan semakin lama dibiarkan semakin sulit jalan keluarnya.

Nah, Rumah Zakat akan membahas mengapa paylater begitu mudah membuat terjebak, bagaimana Islam memandang masalah utang, dan langkah yang bisa diambil untuk mulai keluar dari kondisi ini tanpa harus menambah utang baru.

Mengapa Paylater Terasa Mudah di Awal tapi Menyulitkan di Kemudian Hari?

Sebelum membahas cara keluarnya, penting untuk memahami dulu mekanisme di balik paylater yang membuat begitu banyak orang terjebak tanpa benar-benar menyadarinya.

Desain yang Memang Dibuat untuk Membuat Lupa

Paylater dirancang dengan sangat cerdas untuk memisahkan momen kesenangan dari momen pembayaran. Secara psikologis, ini mengurangi “rasa sakit” saat berbelanja karena uang tidak langsung keluar, dan membuat keputusan pembelian terasa jauh lebih ringan dari yang seharusnya.

Ditambah dengan proses aktivasi yang sangat mudah, limit yang terasa seperti uang gratis, dan cicilan kecil yang seolah-olah tidak memberatkan, paylater menciptakan ilusi kemampuan finansial yang lebih besar dari kondisi nyatanya.

Bagaimana Utang Paylater Bisa Menumpuk Begitu Cepat

Masalah utama paylater bukan pada satu transaksinya tapi pada pola yang terbentuk. Transaksi pertama terasa aman, transaksi kedua masih terasa terkendali, dan saat tagihan mulai menumpuk dari berbagai platform sekaligus baru terasa betapa besar total yang harus dibayarkan setiap bulannya.

Bunga dan denda keterlambatan yang berlaku di sebagian platform paylater bisa membuat utang bertumbuh sangat cepat jika ada satu saja cicilan yang terlewat karena penumpukan ini yang kemudian mendorong keputusan paling berbahaya yaitu membuka pinjaman baru untuk menutup yang lama.

Baca Juga: Fenomena “Self Reward” di Kalangan Anak Muda, Bagaimana Pandangan Islam?

Pandangan Islam tentang Utang dan Bahayanya

Islam memandang utang dengan sangat serius, jauh lebih serius dari yang banyak orang sadari dalam kehidupan sehari-hari.

Seberapa serius Islam memandang masalah utang?

Rasulullah SAW tidak pernah mensholatkan jenazah orang yang masih memiliki utang yang belum dilunasi sampai ada yang menjamin pembayarannya.

Ini bukan karena orang tersebut tidak layak disholati, tapi sebagai pengingat betapa beratnya tanggungan utang bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai utang itu dilunasi.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)

Hadis ini bukan untuk menakuti tapi untuk menyadarkan bahwa utang bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng atau ditunda-tunda penyelesaiannya tanpa konsekuensi yang nyata.

Baca Juga: Terlihat Kaya di Media Sosial, Tapi Diam-Diam Terlilit Utang. Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Langkah Keluar dari Jebakan Paylater Menurut Islam

Terjebak bukan berarti tidak ada jalan keluar. Islam mengajarkan jalan yang sangat konkret untuk keluar dari kondisi utang yang menumpuk.

Berikut langkah yang bisa dimulai hari ini untuk mulai keluar dari jebakan paylater:

  1. Hentikan semua penggunaan paylater dan pinjaman baru karena menambah utang untuk menutup utang hanya memindahkan masalah ke versi yang lebih besar dan lebih mahal.

  2. Catat seluruh utang yang ada termasuk platform, jumlah pokok, bunga, dan tanggal jatuh tempo karena tidak bisa menyelesaikan masalah yang tidak diketahui ukurannya.

  3. Prioritaskan pelunasan dari yang paling kecil atau yang bunganya paling tinggi tergantung kondisi karena setiap satu utang yang selesai memberikan ruang napas dan motivasi untuk melanjutkan.

  4. Pangkas pengeluaran yang tidak wajib secara drastis dan sementara karena kondisi darurat keuangan membutuhkan respons darurat yang tidak bisa dilakukan setengah-setengah.

  5. Berdoa dan minta pertolongan Allah karena ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW untuk yang terlilit utang:
    اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
    “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga tidak perlu yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga tidak perlu bergantung kepada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi).

  6. Cari penghasilan tambahan yang halal sebagai ikhtiar nyata karena doa tanpa ikhtiar bukan tawakkal tapi kemalasan yang dibungkus kata-kata.

Kesimpulan

Jadi, terjebak paylater bukan aib tapi kondisi yang harus segera diselesaikan dengan langkah yang tepat, bukan dengan menambah utang baru yang hanya membuat masalah semakin besar.

Islam memberikan panduan yang sangat jelas yaitu hadapi utang dengan jujur, selesaikan satu per satu dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan minta pertolongan Allah di setiap langkahnya.

Dan satu hal yang sering dilupakan saat sedang dalam kondisi sulit secara finansial adalah bahwa sedekah tidak pernah mengurangi harta tapi justru membuka pintu rezeki dari arah yang tidak terduga.

Salurkan kebaikan melalui Rumah Zakat meski dalam jumlah kecil karena keberkahan dari sedekah yang ikhlas adalah salah satu cara Allah melapangkan jalan keluar dari kondisi yang terasa buntu.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait