Di era media sosial seperti sekarang, foto liburan mewah, outfit branded, dan makan malam di restoran mahal bisa diunggah oleh siapapun tanpa perlu benar-benar mampu membayarnya. Yang terlihat di layar sering kali sangat jauh dari kondisi yang sebenarnya.
Fenomena ini bukan sekadar masalah gaya hidup, tapi sudah menjadi krisis finansial yang dialami oleh banyak orang lintas usia dan latar belakang.
Di balik foto yang terlihat sempurna, ada cicilan yang menumpuk, kartu kredit yang penuh, dan utang yang terus berbunga setiap bulannya.
Nah, artikel ini akan membahas mengapa fenomena ini bisa terjadi, bagaimana Islam memandangnya, dan langkah nyata untuk keluar dari jebakan yang semakin umum di era digital ini.
Fenomena Terlihat Kaya tapi Diam-Diam Terlilit Utang
Sebelum membahas solusinya, penting untuk memahami dulu seberapa nyata dan seberapa luas fenomena ini terjadi di masyarakat.
Seberapa Umum Fenomena Ini Terjadi?
Studi dari berbagai lembaga keuangan menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan paylater, kartu kredit, dan pinjaman online sangat erat kaitannya dengan tekanan sosial dari media sosial.
Banyak pengguna yang mengakui bahwa mereka melakukan pembelian yang sebenarnya tidak mampu dibayar tunai hanya untuk bisa mengunggah konten yang terlihat keren di media sosial.
Di Indonesia, data OJK menunjukkan bahwa kredit macet dari layanan pinjaman online terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sebagian besar peminjam adalah usia produktif yang secara tampilan luar terlihat mapan tapi secara finansial sedang dalam tekanan yang sangat serius.
Apa yang Mendorong Seseorang Melakukan Ini?
Ada beberapa faktor yang paling sering mendorong seseorang masuk ke dalam jebakan ini:
- Tekanan sosial dari media sosial yang terus-menerus memperlihatkan standar hidup tinggi yang terasa seperti normalitas.
- Fear of Missing Out atau FOMO yang membuat seseorang merasa harus mengikuti gaya hidup orang-orang di sekitarnya meski tidak mampu.
- Kemudahan akses pinjaman melalui paylater dan pinjol yang membuat pengeluaran terasa tidak nyata karena tidak langsung keluar dari kantong.
- Validasi sosial yang sangat dibutuhkan dari likes dan komentar positif yang memberikan dopamin sementara tapi meninggalkan utang yang nyata.
- Tidak adanya literasi keuangan yang cukup untuk memahami dampak jangka panjang dari keputusan finansial yang diambil secara impulsif.
Baca Juga: Apa Itu Over Sharing? Bahaya Terlalu Banyak Berbagi di Media Sosial
Islam Memandang Fenomena Ini Sebagai Apa?
Islam bukan hanya mengajarkan tentang ibadah, tapi juga memberikan panduan yang sangat komprehensif tentang bagaimana mengelola harta dan gaya hidup dengan benar.
Akar Masalah dari Sudut Pandang Islam
Islam mengidentifikasi fenomena ini berakar dari dua penyakit hati yang saling berkaitan yaitu riya atau pamer dan israf atau berlebih-lebihan dalam pengeluaran. Keduanya disebutkan langsung dalam Al-Qur’an sebagai perilaku yang sangat tidak disukai Allah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Peringatan yang Sangat Serius tentang Gaya Hidup Pamer
Rasulullah SAW juga memperingatkan dengan sangat tegas tentang bahaya menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan:
“Barang siapa yang merasa kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, maka ia seperti orang yang mengenakan dua pakaian kepalsuan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini secara langsung memotret fenomena yang terjadi hari ini, menampilkan kemewahan yang tidak dimiliki adalah kepalsuan yang Rasulullah SAW peringatkan empat belas abad yang lalu.
Cara Keluar dari Jebakan Ini Menurut Islam
Mengetahui masalah dan akarnya adalah langkah pertama, tapi yang lebih penting adalah jalan keluar yang konkret dan bisa langsung diterapkan.
Berikut langkah yang Islam ajarkan untuk keluar dari jebakan terlihat kaya tapi terlilit utang:
- Hadirkan muraqabatullah atau kesadaran bahwa Allah melihat kondisi yang sebenarnya, bukan kondisi yang ditampilkan di media sosial.
- Terapkan prinsip qanaah dengan merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa perlu membuktikannya kepada siapapun.
- Buat anggaran yang jujur sesuai penghasilan aktual dan patuhi dengan disiplin tanpa terpengaruh tren pengeluaran orang lain.
- Batasi waktu di media sosial terutama konten yang memicu keinginan berbelanja di luar kemampuan finansial.
- Lunasi utang secara bertahap mulai dari yang bunganya paling tinggi sambil berkomitmen tidak menambah utang baru.
- Perbanyak sedekah karena penelitian psikologis dan ajaran Islam sama-sama menunjukkan bahwa memberi membuat seseorang merasa lebih cukup dibanding terus-menerus mengonsumsi.
Baca Juga: Ingat, Setiap Kata Dicatat! Hindari Ghibah di Media Sosial Dengan Tips Ini
Kesimpulan
Jadi, fenomena terlihat kaya di media sosial tapi terlilit utang adalah jebakan yang sangat nyata dan semakin banyak korbannya di era digital ini.
Akarnya bukan pada kekurangan penghasilan tapi pada penyakit hati yang membuat seseorang tidak bisa merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Islam sudah memberikan diagnosis dan obatnya jauh sebelum masalah ini menjadi sebesar ini yaitu qanaah, menghindari pamer, dan menjauhi pemborosan.
Dan salah satu cara paling efektif melatih hati untuk merasa cukup adalah dengan membiasakan diri berbagi melalui Rumah Zakat karena tangan yang terbiasa memberi jauh lebih mudah merasakan cukup dari tangan yang selalu ingin memiliki lebih.

