BUDIMAN

Oleh: Imam Nawawi

Buya Hamka dalam bukunya Falsafah Hidup menulis, “Kita mesti menjadi seorang gagah perkasa, tetapi kita pun mesti menjadi seorang budiman, seorang yang panjang pikiran.” Di antara tanda seseorang memiliki sifat budiman adalah mempunyai keberanian, tetapi juga pemaaf kepada yang pernah memusuhinya.

Seperti yang diteladankan oleh Rasulullah kala menaklukkan Kota Makkah, tempat penduduknya yang sangat membenci dakwah Rasulullah. Namun, Rasulullah memaafkan semua penduduk itu dan memberikan kebebasan, termasuk kepada pembesar Quraisy yang masih kafir saat itu, Abu Sufyan.

Lebih lanjut, Buya Hamka menjelaskan, seseorang yang budiman, memiliki jiwa besar, sehingga ia senantiasa memandang lebih dahulu sasaran mana dia mesti berlawanan dan medan mana yang mesti dimasukinya. Baginya, bukan sembarang waktu menyentak pedang, bukan sembarang waktu pula menghamburkan suara yang berisi ancaman.

Orang yang budiman, menurut Hamka, sangat suka memaafkan kesalahan musuh yang telah menyerah dan mengaku kalah. Sebab, membalas dendam hanyalah pekerjaan yang telah terbiasa dilakukan oleh manusia biasa pada umumnya.

Hal itulah yang diterapkan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil kala bertempur melawan Yusuf Al-Fihri untuk memerintah secara sah Daulah Andalusia. Kala pasukan Yusuf kalah dan melarikan diri, Ad-Dakhil berkata kepada panglima pasukannya untuk tidak mengejar mereka.

“Janganlah kalian menghabisi musuh yang masih akan kalian harapkan persahabatannya, biarkanlah mereka hidup agar kelak kalian dapat menghadapi musuh yang lebih keras permusuhannya.”

Demikianlah sejarah merekam pribadi-pribadi yang budiman. Dan, untuk bisa menjadi pribadi yang budiman, Ragib As-Sirjani dalam bukunya Qishshatul Andalusia mengemukakan sifat-sifat penting yang harus diperjuangkan.

Pertama, tidak memiliki niat curang dalam hal apa pun. Kedua, mengetahui siapa musuh yang sesungguhnya, sehingga tidak mudah diadu domba dan terseret arus perpecahan fitnah yang diembuskan musuh.

Ketiga, memiliki pemikiran yang benar. Keempat, memiliki kesabaran dalam menghadapi perilaku sahabat-sahabatnya yang masih minim pemahaman tentang agama, strategi, dan persaudaraan.

Cakupan secara lebih luas sifat budiman itu, termaktub di dalam Alquran. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran [3]: 159).

Kemudian, secara utuh, sifat budiman mutlak ada dalam diri Rasulullah. Sosok manusia yang kuat kemauan, teguh hati, tidak pernah menunda pekerjaan sampai besok, tidak suka berlebihan dalam bersenda gurau yang tidak berfaedah, tidak takut ditimpa kemiskinan atau kekurangan, tidak suka menumpuk harta dan sangat dermawan, serta bersungguh-sungguh membela hak-hak kaum tertindas. Jika diri ingin menginspirasi kehidupan, sifat budiman harus diasah sepanjang kehidupan. 

 

Sumber: Republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi