CARA MENGHINDARI GHIBAH

Oleh:  R. Zainik Abidin Syah
Rumah Zakat-Pekanbaru

Jika kita amati, dulu orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, acara-acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagai bagian dari nama acaranya. Bahkan ada yang bangga kalau mereka mengaku sebagai tukang gosip. Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan.
 
Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan, menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan. Padahal ghibah merupakan sesuatu yang dilarang agama, dalam satu riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan Rasulullah. “Apakah ghibah itu?” tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” tanya sahabat lagi. ”Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasul.

Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka mengghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasulullah SAW tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai, maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain,” (HR. Ahmad). Begitulah Allah SWT mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia betapa buruknya tindakan ghibah. Cara menghindari ghibah:

Berbicara Sambil Berpikir
Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “Perlukah saya mengatakan hal ini, apa manfaatnya dan mudharatnya?” otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah SAW yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

Berbicara Sambil Berdzikir
Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah SWT. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah SWT kepada orang yang berghibah.
 
Tingkatkan Rasa Percaya Diri
Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

Buang Penyakit Hati
Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung dari pada kita. Jika dirinya kurang beruntung, dia pun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara dari pada dirinya.

Memposisikan Diri
Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadits yang menjanjikan bahwa Allah SWT akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya, tak perlu heran jika Allah Swt pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka kecacatat orang.

Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi
Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah, seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio, juga berita-berita koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang. Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut atau anda memilih hengkang dan “menyelamatkan diri”.

Kita semua tinggal memilihnya, apakah mau menjadi seorang pengghibah atau orang yang terselamatkan dari api neraka?

Tags :
Konfirmasi Donasi